Bandung – Batujaya

candi muara takus @riau dari http://id.indonesia.travel/id/destination/415/candi-muara-takus

candi muara takus @riau dari http://id.indonesia.travel/id/destination/415/candi-muara-takus

minggu lalu sempet mampir ke tanah melayu, sayangnya tidak bisa sempat mampir ke muara takus. salah satu artefak peninggalan sriwijaya. sejak SD, foto candi ini udah pernah muncul di buku pelajaran ips. foto hitam putih saja. waktu itu yg terbayang, candi ini terbuat dari batu seperti layaknya borobudur dan prambanan.

noraknya, setelah sekian lama baru lah pas 2013 lalu ngeh, ini bukan candi batu. national geographic 2013 edisi indonesia sempat membahas panjang lebar ttg sriwijaya dan artefaknya. fotonya sangat amat jelas : candi-candi peninggalan sriwijaya terbuat dari batu bata.

dan gara2 artikel di NG itu lah, kami mampir ke rengasdengklok tahun lalu utk melihat artefak candi batubata yg kebetulan sama2 dibuat utk kepentingan ritual agama budha. masuk ke rengasdengklok mendapati kota itu “sudah modern”. tentunya beda jauh dari jaman waktu BK dan BH diculik ke sini dan ditempatkan di rumah seorang juragan cina yg halamannya penuh kotoran babi.

dari kota ini, naik terus ke atas dan mendapati jalanan sudah mulus, perjalanan sekitar 30 – 45 menit dan tiba lah di situs batujaya.

gerbang situs @batujaya 2013

gerbang situs @batujaya 2013

dari gerbang ini masuk lagi ke dalam sekitar 1 km dan tiba lah di situs utamanya. secara keseluruhan situs ini terdiri dari sekitar 35 “gundukan tanah” di tengah sawah. tiap2 gundukan dibongkar secara hati-hati dan ditemukan candi batu bata. penelitian ttg situs batujaya sudah dibukukan oleh hasan djafar yang berjudul Kompleks Percandian Batujaya. sudah tahu agak lama tahu buku ini ada di toko yg sering kita mampirin. cuma tidak pernah tertarik membeli sampai pada suatu hari mengunjungi museum sri baduga di tegal lega yang menyatakan ini adalah artefak berupa candi yang tertua di jawa.

dari semua gundukan itu, hanya 2 buah yg sudah kelar direnovasi dan layak utk dikunjungi manusia awam spt kami ini. keduanya dinamakan candi jiwa dan candi blandongan.

candi jiwa @batujaya 2013

candi jiwa @batujaya 2013

candi jiwa ini yg bisa dikatakan sudah “selesai”. yg terkuak hanya bagian bawahnya saja seperti terlihat di atas. hanya kakinya saja dgn tinggi setinggi manusia dewasa. sisanya di atas, tidak ada apa2. hanya tersisa gundukan batubata tanpa pola. candi ini dinamakan candi jiwa konon karena jika dulu ada kambing diletakkan di atas gundukan tanah ( yg di dalamnya ada candi ini ) maka kambing tsb akan mati.

candi blandongan @batujaya 2013

candi blandongan @batujaya 2013

selang sekitar 300 meter dari situ, ada candi berikutnya yaitu candi blandongan. sudah hampir selesai renovasinya seperti yg terlihat di atas. bentuknya lebih terlihat dibandingkan candi jiwa, bagian atasnya ada bentuknya. ada tangga utk naik namun tidak diperbolehkan naik. wajar saja, ini candi yg sudah ada sejak abad ke-1. sudah bertahan lebih dari 19 abad. melihat benda ini masih berbentuk aja, sudah bagus 🙂 mengingat candi ini terletak :

a. di tengah sawah
b. di pinggir sungai
c. dekat laut

tiga kondisi ini cenderung membuat bangunan cepat rusak. apalagi sungai citarum ini kadang mempunyai pola aliran meander yang kadang berubah berdasarkan endapan dan kondisi lainnya. apalagi di tengah sawah dan tertimbun tanah selama sekian abad. situs ini baru mulai “dikerjakan” sekitar tahun 80an. dari buku pak hasan disebutkan penelitian tsb dilakukan oleh peneliti dari UI dan buku itu sendiri sebenarnya adalah disertasi yg “disusun ulang” agar mudah dibaca oleh awam.

 

candi blandongan @batujaya 2013

candi blandongan @batujaya 2013

silahkan cermati foto ini dan bandingkan dgn foto muara takus di paling atas. ada kemiripan kan ? selain sama2 terbuat dari batubata, tapak candi nya pun mirip. mungkin karena ini adalah candi budha, maka tapaknya dibuat mirip seperti teratai. ini jg mirip dgn tapak candi borobudur.

dalam ingatan saya yg terbatas, borobudur dibangun dalam masa yg bersamaan dgn puncak kejayaan sriwijaya di sumatra. sriwijaya memang kerajaan budha. namun batujaya bukan di era itu tapi sekitar 5 abad sebelumnya.

dari sekitaran candi blandongan, sekilas saya sempat melihat bbrp gundukan tanah yang blum diapa2in. masih gundukan dgn rumput di atasnya. masih ada sekitar 34 gundukan lagi ( konon ). situs setua ini belum tergali sepenuhnya dan saya gak tahu apakah pemerintah punya budget yg cukup utk itu. anggaran apbn utk pendidikan berdasarkan UU dikasih kapling up to 20 %, ini cukup besar. tidak tahu berapa persen yg bisa dialokasian utk penggalian kembali situs batubata tertua dan terluas di jawa ini.

link terkait :

1. http://rovicky.wordpress.com/2006/09/18/situs-batujaya-rengasdengklok-mengapa-ditinggalkan/

2. http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/09/wow-ditemukan-kerangka-di-situs-batu-jaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *