M Natsir

 

19080717 Lahir di Alahan Panjang, Solok
1916 Masuk HIS di Adabiyah Padang
1916 Pindah sekolah ke HIS Solok
1919 Pindah lagi ke HIS Padang
1923 Masuk MULO di Padang
  Menerima beasiswa sekolah sebesar IDR 20 / bulan
  Masuk ke Pandu National Islamische Padvindrij ( yg merupakan bagian dari Jong Islamieten Bond )
1927 Masuk AMS di Bandung
  Menerima beasiswa sekolah sebesar IDR 30 / bulan
1928 Menjadi ketua JIB cabang Bandung
1930 Lulus dan menjadi guru di MULO javastraat di Bandung dan sekolah guru di gunung sahari, Lembang
  Merintis sekolah “Pendidikan Islam” ( PENDIS ) di jalan Sumedang, Bandung
  Mulai terlibat dalam Partai Sarikat Islam
1931 Lulus sekolah diploma guru dgn gelar Lager Onderwijs ( LO )
19341022 Menikah dengan Noer Nahar di Bandung
193603 Mendirikan pesantren PERSIS
1937 Terbentuk Majelis Islam A’la Indonesia ( MIAI ) dan terpilih jadi salah satu pimpinan. Kelak MIAI akan berubah jadi Masyumi
1938 PSI pecah menjadi PII ( Partai Islam Indonesia ) dan terpilih jadi ketua cabang Bandung
1942 Jepang masuk dan terpilih menjadi Kepala Biro Pendidikan Kota Madya Bandung
  MIAI berubah menjadi Masyumi
1945 Masih di era Jepang, mengusulkan kepada pemerintah utk membentuk sekolah Islam Tinggi di Jakarta dan Bung Hatta terpilih sebagai ketua panitia pembentukannya. Namanya diubah adi Sekolah Tinggi Islam dan terpilih sebagai sekertarisnya.
  Setelah proklamasi, terpilih menjadi anggota KNIP dan Badan Pekerja KNIP ( DPR jaman itu )
19460103 Diangkat menjadi Mentri Penerangan pada kabinat Syahrir I
19460312 Diangkat menjadi Mentri Penerangan pada kabinat Syahrir II
19461002 Diangkat menjadi Mentri Penerangan pada kabinat Syahrir III
19480129 Diangkat menjadi Mentri Penerangan pada kabinat Hatta I
19481219 Agresi militer II, ditangkap dan dipenjara di Kwitang lalu dipindahkan ke pulau Bangka
19490608 Berangkat ke Aceh utk menemui pimpinan PDRI namun tdk ybs tidak ada di Aceh. Pulang ke Jakarta dan berangkat lagi ke sumatra barat dan berhasil membujuk pak Syaf untuk mengembalikan mandat kepada BK.
1949 Terpilih menjadi ketua Masyumi pada kongres Masyumi ke-5
19500403 Mengajukan mosi integrasi agar seluruh wilayah Indonesia dikembalikan kepada bentuk asalnya yaitu negara kesatuan. Mosi ini dikenal sebagai mosi integral natsir.
19500817 Indonesia kembali ke bentuk NKRI
19500907 Terpilih menjadi Perdana Mentri Pertama setelah negara kembali ke bentuk NKRI
19510321 Mengembalikan mandat kepada presiden, terkait dgn masalah pengembalian Irian Barat
1955 Masyumi menjadi kekuatan politik kedua terbesar dalam hasil pemilu 1955
1956 Terpilih mejadi ketua sidang Muktamar ‘Alam Islami ( world muslim congress ) di Damaskus
1957 Situasi politik memanas dan memaksa natsir dan keluarga hijrah ke sumatra
19580215 Pembentukan PRRI diumumkan di Padang
19590705 Dekrit presiden, konsitutante dibubarkan
19611005 Batas akhir penyerahan diri bagi PRRI yang menginginkan amnesti. Natsir menyerahkan diri di Lubuk Sikaping. Pada akhirnya amnesti tidak diberikan dan tetap dipenjara di Batu lalu dipindahkan ke Wisma Keagungan Jakarta.
1966 Dibebaskan dari penjara ( setelah BK dimakzulkan )
1967 Natsir sudah tidak bisa berpolitik karena dihalangi oleh pjs presiden Soeharto dan bergerak di bidang dakwah.
1967 Terpilih menjadi wakil presiden Organisasi Islam ( OKI ) di Karachi Pakistan
19670226 Mendirikan Yayasan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia ( DDII )
1980 Mendapatkan penghargaan The International King Faisal Award di Riyadh
1980 Ikut menandatangi Petisi 50 dan berakibat kepada pencekalan.
1991 Menerima gelar Honoris Causa dari University Kebangsaan Malaysia dam University Sains Malaysia
1991 Istri tercinta meninggal mendahului
19930206 Meninggal di RSCM Jakarta dan dimakamkan di TPU Karet

Sejarah revisi dokumen

20140516 v0.1 dikutip dari buku “Mohammad Natsir Dalam Sejarah Politik Indonesia” oleh M Dzulfikriddin, penerbit Mizan thn 2010

One thought on “M Natsir

  1. Pingback: Masyumi dan Perti | Selat Penghubung Peradaban

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *