Apa Pentingnya Selfie ?

By | July 1, 2017

waktu melihat album foto, di rumah mana pun itu, saya selalunya mendapati foto seseorang dlm kondisi sendirian. tunggal dan ditemani bbrp properti dan gaya. tapi, foto tsb bukan selfie, melainkan diambil oleh seseorang. jenis foto spt ini tidak banyak2 amat dan cenderung berkualitas dokumenter : saya pernah datang ke sini di tahun sekian di event anu.

sebagai foto dokumenter, tentu saja ini perlu utk yang bersangkutan. sebab apa pun yg ada di atas kertas adalah kenangan, termasuk foto yg dicetak tadi. selain ybs, siapa lagi yg perlu ? paling keluarganya atau temen2nya. pada era tsb, tidak banyak yg bisa diambil fotonya dgn keterbatasan :

  1. jumlah roll film hanya 36 frame saja
  2. utk melihat hasilnya, perlu dicuci dan dicetak. sekitar tahun 1992, biaya cuci IDR 1,000 dan cetak 3R IDR 250. eh ya, utk beli film keluar uang sekitar IDR 9,000 ( tergantung tipe dan merk film nya ).
  3. utk memotret, tentu saja perlu kamera. tidak semua kamera bisa dioperasikan dgn mudah. kegagalan foto bisa terjadi mulai dari gagal masuknya film ke kamera, salah setting apperture bahkan sampai kegagalan di ruang gelap.

dari 3 alasan itu saja, sudah cukup menggambarkan bahwa utk mendapatkan foto perlu waktu, biaya dan bahkan skill teknis. jadi perlu sebuah keputusan yg agak panjang utk menekan tombol shutter : kalo gak penting2 amat, sisakan filmnya utk nanti.

fast forward ke era 2017 di mana mendapatkan foto hanya semudah menggerakkan jempol dan 3 langkah yg dibutuhkan 20 thn lalu itu, bisa diskip. akibatnya : banyak foto di memory hp. saking banyaknya, kadang lebih banyak waktu yg dibutuhkan utk menghapus2nya dibandingkan mencetaknya.

sebagai dokumenter, sifat foto yg diambil saat ini sama saja sifatnya dgn yg diambil 20 thn lalu : utk kenangan ybs ( walau pun 3 keterbatasan tsb sudah bisa diskip ). di luar kenangan, ada keperluan lain : diupload, dilike dan kalo bisa jadi viral. nah, ini sudah bergerak keluar kebutuhan dasar sbg kenangan ybs : utk dikenang orang lain dan dianggap menarik. perlombaan utk dikenang ini lah yg menggerakkan manusia utk melakukan selfie secara massal.

semakin banyak like, semakin membuncah rasanya. akhirnya selfie massal semakin beragam bentuk dan properti nya. yg saya maksud properti di sini adalah perlengkapan yg ikut tampil dlm foto tsb, mulai dari fashion sampai latar belakang. akhirnya terjadi lah selfie yg membutuhkan properti yg tidak biasa agar nilai dokumenter tsb lebih layak utk diapresiasi orang lain.

apa saja ? lokasi, fashion dan event. carilah lokasi yg paling aneh, tidak umum dan sebisa mungkin belum banyak orang datang. fashion ? ini tidak perlu dijelaskan dan saya jg tidak berkompeten. event kadang bisa diciptakan, bisa jg tidak. event penting yg tidak bisa diciptakan misalnya suasana sunrise di puncak gunung tertinggi di pulau jawa.

perlombaan selfie pun bertebaran. ada selfie orang yg bagus, menimbulkan “iri hati” agar dirinya bisa mendapatkan selfie yg minimal sama bagusnya. dan di mana2 perlombaan, apalagi yg tidak ada aturannya maka terjadi lah kebrutalan utk mendapatkan properti terbaik. tidak peduli bagaimana caranya dan apa saja yg harus dikorbankan, pokoknya selfie ku ini harus paling keren.

brutality ini berimbas kepada properti secara lansung. misalnya saja kebun bawang di agrapura harus terinjak2 pengunjung. mereka hanya menginginkan properti terbaik : terasering landscape yg luar biasa. tidak peduli di situ ada petani yg bersusah payah menanam bawang, yg begitu terpijak maka kegagalan panen di titik tsb jadi kenyataan pahit. harap diingat, ada 2 macam komoditas dari bawang : daun dan buah. daun tsb jg bernilai ekonomis dan bahkan ada jenis bawang yg memang cuma diambil daunnya saja.

dan akhirnya bbrp malam lalu, saya terpaksa menyaksikan hal yg sama di properti lainnya : pantai konservasi penyu bertelur. namanya saja sudah konservasi, seharusnya tidak banyak orang diijinkan berkunjung apalagi utk membuang sampah sembarangan. menyaksikan telur penyu jatuh ke lubang pasir di tengah malam buta, tentu mengasikkan utk segmen tertentu. sebagai info, penyu betina akan kembali ke pantai tempat dirinya menetas. kembali ke “rumah” utk menitipkan telur di pasir setelah 30 tahun berpetualang, tentu sulit dibayangkan : kenapa dia bisa ingat di mana tempat asalnya. setelah kepulangan pertamanya, secara reguler dia kembali lagi dalam selang waktu 2 – 4 tahun sekali.

pada masa puncaknya, pantai ini bisa kedatangan 25 ekor penyu dalam semalam. penyu adalah mahluk pemilih : pantai yg sepi dan gelap saja yg didatangi. sekitar juli – november mereka datang.

setelah menunggu agak lama, petugas membawa kami ke titik di mana seekor induk sudah “mendarat” dan sedang membuat lubang pertama. agak jauh berjalan, pas tiba kami masih menunggu berjarak 15 meter. setelah 20 menit barulah petugas memberi aba2 utk mendekat : telur sudah mulai berjatuhan. orang2 berkerumun, terbelalak dgn ukuran penyu yg ternyata kalau diukur tempurung dan kakinya dibentangkan, bisa selebar mobil pajero. lubang cukup dalam dan telur satu per satu jatuh. perkiraan ada 80 – 100 butir per sekali datang. saya tidak mengambil foto dgn pertimbangan teknis : perlu flash dan petugas tidak mengijinkan ada cahaya di situ.

waktunya tidak lama, hanya sekitar 15 menit selesai. segera lubang ditutup dgn kaki belakang. saya bersiap utk menjauh karena dia butuh ruang lebih utk mengibaskan kaki. tiba2 ada seorang remaja perempuan dgn sigap lansung mengangkangi penyu dgn tangan menekan tempurung. dan hap, satu, dua, tiga, blitz menyala dgn senyum penuh sembari ngangkang. satu orang berlalu dan gantian orang lain melakukan hal yg sama : penyu bertelur sebagai properti.

saat itu jg, saya lansung muak.

Demokrasi Indonesia

By | June 26, 2017

Dalam lintasan sejarah, berikut ini jenis demokrasi yg pernah kita jalani :

1. Demokrasi Apa Adanya

Ini demokrasi paling singkat, hanya berkisar dari agustus – november 1945. Yg ada hanya presiden dan para mentri. Bisa dibilang, ini kondisi darurat, pemerintahan tidak bisa berjalan efektif karena gangguan eksternal : kedatangan sekutu dan nica yg nebeng. Kondisi jadi tidak aman dan jakarta sebagai ibukota pun tidak lagi spt bln agustus. September sudah mulai ada bentrokan fisik.

2. Demokrasi ala bung hatta

Dengan maklumat wapres no x di bulan november, sistem presidensial lansung berganti jadi parlementer. Ini sebenarnya cukup mendasar krn mengganti sistem pemerintahan, tapi “cukup” dilakukan dgn keputusan wakil presiden. Silahkan bayangkan besarnya kekuasaan bung hatta di masa itu.

Sistem ini membuat presiden dan wakilnya sebagai pemimpin negara, bukan pemerintahan. Operasional pemerintahan dijalankan oleh perdana mentri dan bertanggungjawab kepada parlemen. Jika PM dijatuhkan parlemen, dia mengembalikan mandat kepada presiden. Lalu presiden menunjuk formatur kabinet utk menyusun ulang pemerintahan.

Situasi yg agak absurd, mengingat bung hatta sekali pun sempat bbrp kali menjadi perdana mentri sekaligus wapres dan seabrek jabatan lainnya ( misalnya ketua PMI ). Era ini menjadikan BH sbg sentral kekuasaan.

Kabinet jatuh bangun, perundingan dgn belanda naik turun, pemberontakan oposisi silih berganti, menciutnya wilayah republik dan bahkan tentara dan laskar saling ribut sesamanya. Rumit, pusing sekaligus kere.

Mengenaskan.

Tapi setidaknya, demokrasi ala eropa berjalan. Semua pihak bisa mengungkapkan pendapat tanpa harus takut tekanan pihak lain.

too much talking. Ngemeng melulu. Membuat sebagian orang jengah, termasuk BK.

3. Demokrasi ala Bung Karno

Ok, sudah saatnya bekerja. Persetan dgn politisi. Pemusatan pendapat, keputusan dan komando militer diletakkan pada satu tangan : Bung Karno.

Tidak perlu banyak berdebat di sidang parlemen.berbusa2 ? No need lah. Skrg hanya satu arah .

Setelah dekrit presiden thn 1959, bubar lah parlemen original hasil pemilu. Yg ada parlemen buatan BK sendiri. Dan dimulai lah era tentara secara resmi masuk parlemen.

Ciri utama era ini adalah Nasakom. Kata nasakom jadi kehidupan politik yg dicoba utk dijalankan sekuat mungkin. Akibatnya banyak benturan politik. BK berusaha mengakurkan warna yg ada, tapi sayangnya tidak semua warna mau masuk dlm satu panci bernama nasakom.

Angkatan darat dan masyumi adalah antagonis PKI. Masyumi, PSI dan bahkan Murba diberangus, menyisakan angkatan darat sebagai musuh tersisa bagi PKI. Sayangnya AD pegang senjata dan pasukan. PKI tidak, hanya bersembunyi di ketek BK.

Agitasi angkatan kelima coba dijalankan dgn bantuan senjata dari china. AD tidak bergeming. PRRI dan permesta meletus, inflasi gila2an dan chaos terjadi.

Puncaknya : letkol untung bin samsuri memutuskan utk menculik jendral AD yg dinilai tidak loyal. Atau dgn kata lain keras thd garis politik PKI. Akibatnya jelas : dlm waktu singkat PKI berhasil diberangus AD.

4. Demokrasi Jendral Soeharto

Secara kebebasan, tidak jauh berbeda dgn era BK ( demokrasi terpimpin ). Tapi bedanya, inflasi terkendali, perut orang bisa diisi nasi, anak2 bisa sekolah. Dan yg paling penting : PKI digeser jadi hantu yg jadi tontonan tipi setiap september.

Indonesia mulai membangun secara serius dan terpola dgn rencana yg baku. Kebebasan pendapat, itu urusan belakangan.

Saya sebagai penikmat demokrasi ini sejak lahir, tentu saja mengapresiasi hasil kerja jendral soeharto dgn sangat tinggi.

Era 1966 – 1998, soeharto benar2 jadi raja jawa tanpa rintangan berarti, kecuali krismon.

5. Demokrasi Ala Kadarnya

Sick. Menyebalkan. Banyak omong. Tidak patut. Yes, ini era 1998 – skrg.

Somehow roda pemerintahan masih berjalan. Baik. Tapi parlemen dlm keadaan tidak sehat.

Dua Wasiat BK

By | June 7, 2017

Cerita ttg BK memang tidak ada habisnya. Dalam sebuah buku dokumentasi surat menyurat antara BK dan BH yg dikurasi oleh mochtar lubis, terdapat lampiran menarik. Di situ ada dua wasiat BK ttg kuburannya kelak.

Summary :

1. Ada dua wasiat berbeda ttg kuburan BK. Dia menginginkan di dalam kebun raya bogor, tepat di bekas pemandian yg berbukit. Sedangkan di wasiat satunya lagi, lebih sederhana : di bawah pohon rindang.

2. Wasiat tsb dibuat pada tahun yg berbeda : 1962 dan 1965.

3. Beliau menghendaki dua istrinya utk mendampinginya dalam peristirahatan terakhir. Hanya dua istri yg disebut : hartini dan ratna dewi. Hartini disebut pada tahun 1965 dan ratna dewi di 1962.

Analisa :

1. Hartini adalah istri BK setelah fatmawati, seorang janda anak 5 waktu “ditemukan” BK. Sedangkan ratna, belum menikah waktu jumpa BK. Rentang dua istri ini cukup jauh, baik dari sisi umur dan karakter. Ratna adalah seorang istri yg berusaha mengimbangi BK dari segala sisi, terutama intelektual. Sedangkan hartini adalah tipikal istri pengabdi, khas jawa tulen. Lalu kenapa hartini justru disebut pada tahun 1965 ? Tahun nahas buat BK, di mana semua puncak masalah politik meletus di situ. kenapa hartini disebut belakangan ? Saya hanya berspekulasi : bahwa pada akhirnya yg mencintai BK apa adanya, apa pun kelakuannya adalah hartini. Saat semua istri2 sudah minggir ( baik disuruh minggir oleh BK, atau minggir sendiri ) ternyata hanya hartini yg masih bersedia menemani sampai ajal tiba.

2. Dlm sebuah buku diary yg ditulis oleh rosihan anwar, pernah ditulis dlm sebuah event, semua istri BK muncul. Ntah disengaja ntah tidak. Yg jelas, BK merah padam. Rosihan hanya berkomentar : dari semua istri BK, ternyata hartini lah yg paling bisa merawat diri. Ini pengamatan laki2 normal. Saya cuma lagi2 berspekulasi : dlm akhlak yg baik, akan terpancar ke raga dlm bentuk yg baik pula. Hartini, seorang perempuan jawa pengabdi, dgn akhlaknya yg baik memancarkan sinar kebaikan dari wajahnya. Ok lah, ini lebai. Tapi saya percaya hal tsb.

3. BK memang senang tinggal di istana bogor. Saya tdk tahu apa yg membuat dia tertarik dikuburkan di bekas pemandian. Yg jelas, sekliling istana bogor memang semuanya dikelilingi pohon rindang. Jadi ttg tempat, sebenarnya tdk ada perubahan. Dia tetap ingin di bawah pohon.

Wasiat tinggal wasiat. Pada akhirnya orde baru memutuskan utk menguburkan BK jauh dari wasiatnya. Tidak di bawah pohon, tidak jg di sekeliling istrinya.

Nilai Tukar Petani

By | May 26, 2017

Semalam bertukar pikiran dgn ibu dan bibi. Mereka bercerita ttg kehidupan yg dialami oleh keluarga petani era thn 50-60an di sumatra. Pengalaman kehidupan petani ternyata pahit dan itu lah yg menyebabkan satu keluarga ini merantau ke jawa dan menjalani kehidupan profesi selain petani. Pada kehidupan generasi mereka itu lah profesi petani terputus ke generasi berikutnya.

Kepahitan itu sederhana sekali : hasil sawah tidak bisa untuk menyambung hidup. Kebutuhkan hidup tdk hanya makan, tapi juga sekolah dan rumah. Kalau hanya utk makan, masih cukup. Padi ada, kolam ikan ada dan sayur hingga kelapa ada. Tapi kalo sudah menyangkut urusan sekolah, rumah dan kesehatan, uang yg dipegang sudah tidak cukup. Ujung2nya berhutang lagi kepada pengepul padi. Begitu panen, bayar hutang dan hanya sisanya yg mereka nikmati. Dan itu gak cukup.

Berangkat dari kenyataan pahit tsb, mereka banting stir dgn merantau. Di jawa lebih banyak pilihan dan peluang. Dan memang benar, setelah satu generasi tsb merantau, semuanya “sukses” menjalani profesi non petani. Makan minum terpenuhi dan sekolah tinggi utk anak2 bisa digapai. sawah di kampung masih ada, cuma hanya untuk memorial bahwa kita adalah petani dulunya. Sawah masih berproduksi dan diserahkan kepada kerabat dgn sistem bagi hasil.

Sekelumit cerita masa lalu tsb adalah kenyataan dari nilai tukar petani yg rendah. Silahkan cek datanya di bps, masih banyak propinsi yg NTP nya di bawah 100 persen. Artinya, apa yg petani dapat tidak mencukupi utk membayar kenaikan harga krn inflasi dsb nya. Kurang lebih, itu dlm posisi gali lubang tutup lubang spt yg dialami kami dulu thn 50-60an. Data bps tsb adalah thn 2015. Sudah lebih dari setengah abad, ternyata petani masih harus menerima kenyataan pahit bahwa profesi yg mereka alami tidak selalunya dapat menyelamatkan semua kebutuhan keluarga.

Saya tidak bermaksud komplen. Terlalu kompleks masalah yg harus diurai oleh kementrian pertanian dan perdagangan sekaligus ekonomi utk handling masalah ini dgn cepat. Asli, terlalu kompleks.

Lalu bagaimana dgn generasi penerus yg hendak jadi petani ? Ini profesi yg tidak menarik utk mereka. Hmmm…

Suryadi Suryadarma

By | May 25, 2017

Suryadi suryadarma, tepatnya raden suryadi suryadarma adalah tokoh militer awal berdirinya negara ini. Beliau diangkat sebagai bapak angkatan udara. Menelusuri biografi tokoh-tokoh pergerakan bangsa adalah hal yg menarik karena di dalamnya kita bakal mendapatkan cerita dibalik berita. Lebih lengkap dan lebih personal. Dari sudut pandang tokoh tsb, kita bisa mendapatkan view lain. Dgn view ini kita bisa membaca even sejarah lebih komprehensif lagi.

Pak suryadarma ini sosok yg agak misterius buat saya. Saya bertanya begini ke salah seorang perwira AU : hampir seluruh bandara besar di pulau jawa ini memakai nama perwira AU generasi awal, lalu kenapa saya tidak melihat bandara bernama suryadarma ? Dia tersenyum dan menjawab : ada bandara suryadi suryadarma, letaknya di kalijati. Saya manggut2 sambil berusaha mengingat emangnya ada bandara di kalijati ?

Ternyata ada dan itu adalah bandara utk sekolah penerbangan militer jaman londo dulu. Di sekolah itu pula suryadarma mendapatkan brevet Navigator. Banyak hal yg saya dapatkan dari buku, poin-poin pentingnya sebagai berikut :

1. Suryadarma merupakan orang “hindia belanda” pertama yg lulus sekolah militer breda. Saat itu, angkatan udara belanda adalah cabang dari angkatan darat. Jadi suryadarma sesungguhnya adalah orang angkatan darat secara akademi, tepatnya infantri.

2. Melanjutkan sekolah, suryadarma tetap beringinan utk jadi penerbang. Dia bersekolah di kalijati. Sayangnya sewaktu test, terkena malaria sehingga hasilnya minim. Rekan sekolahnya waktu di breda dulu, memberikannya latihan ekstra. Lalu suryadarma ikut remedial dgn hasil yg baik. Sayangnya pimpinan sekolah tetap tidak meluluskan. Kelak setelah ada audit, baru lah suryadarma diluluskan tapi tdk sbg penerbang melainkan navigator.

3. Sebelum pengakuan kedaulatan, au tergolong “miskin” sarana dan infrastruktur. Hanya ada bbrp pesawat dan pesawat modifikasi yg bisa dipakai utk urusan militer. Utk keperluan angkutan sipil, masih diurus oleh au dan utk memenuhinya kita menyewanya dari bbrp personal. Bukan dari perusahaan.

4. Kapal bernama seulawah beruntung, masih ada bentuknya sampai skrg dan dinamai RI-001. Sementara pesawat satunya lagi yg merupakan sumbangan dari rakyat minangkabau, tidak berumur panjang. Dalam bbrp kali penerbangan, dia menemui ajal dan seakan2 namanya hilang dari sejarah.

5. Terjadi beberapa kali insiden terkait internal au dan politik yg berlansung yg mengakibatkan suryadarma mengundurkan diri. Setidaknya sudah dua kali dia minta mundur dan keduanya ditolak bk. Kelak terkait insiden kapal macan tutul, akhirnya suryadarma “dipecat” dan menunjuk omar dani sebagai gantinya. Khusus insiden macan tutul ini, akan aku tulis terpisah.

6. Suryadarma tergolong tidak punya uang banyak, bahkan waktu beliau meninggal, rumahnya masih mencicil. Setelah keluar dari dinas militer, dia menjalankan “usaha” jualan batu akik. Batu akik adalah hobinya sejak lama dan kelak jadi penyambung hidup. Satu lagi hobinya adalah filateli.

7. setelah dipecat dari dinas militer, beliau jadi penasehat presiden tapi tidak lama. Selanjutnya thn 66 sempet diminta jadi mentri dan terus sampai bk dilengserkan.

8. Salah satu hal yg saya penasaran adalah sepak terjang bu utami suryadarma. Dia jadi sasaran empuk karena ditenggarai terlibat dgn pki. Saya penasaran atas kebenaran hal tsb, yg sayangnya dalam buku ini tidak ada disebutkan sama sekali. Dan ternyata buku ttg bu utami sudah terbit lebih dahulu. Bisa dikatakan, bu utami salah satu dari mungkin 3-5 orang perempuan yg sempet moncer namanya dlm perpolitikan negara waktu awal berdiri.

Sementara, ini dulu.

Parasit Daun

By | May 7, 2017

Parasit daun berupa bentol-bentol pada permukaan.

Lalu kita bongkar isi bentolnya, apa isinya ?

Tadinya saya berharap ada serangga atau telur serangga. Ternyata kosong euy. Hanya ada semacam ruangan koosng dgn sedikit, mungkin biji. Jadi apakah ini ?

Pohon Kampus

By | May 7, 2017

Pohon sekitaran kampus, ntah namanya apa. Kalo pun ada namanya, gak tahu jg bedanya apa dgn pohon sebelah ๐Ÿ™‚

Perjanjian Hatta – Semaun

By | April 24, 2017

pada saat perjanjian dibuat, dua orang ini bukan lah pemimpin partai. hatta menjabat sebagai ketua PI ( perhimpunan indonesia ) sedangkan semaun adalah pimpinan PKI ( yg baru saja gagal memberontak di hindia belanda ). dua orang ini jelas, bukan satu ideologi. hatta seorang nasionalis ( berbasis sosialisme yg kuat ) sedangkan semaun adalah komunis. konon, semaun termasuk tokoh yg tidak menyetujui diadakannya pemberontakan. dia satu kubu dgn tan malaka yg juga berpendapat sama : belum waktunya memberontak. dan spt kita ketahui, bahwa pemberontakan ini gagal total dan mudah disapu bersih. yg kena getahnya bukan cuma PKI tapi juga banyak tokoh2 pergerakan lainnya. satu event utk jadi alasan memukul yg lain.

perjanjian antara hatta – semaun terjadi di belanda, tidak lama setelah PKI dilumat pemerintah hindia belanda. semaun berada di belanda dan “berdiskusi” dgn hatta. saat itu, semaun adalah salah satu anggota komunis international ( komitern ) di mana bung stalin masih hidup dan menjadi ketuanya.

dalam perjanjian tsb, hatta dan semaun sepakat bahwa pergerakan kemerdekaan indonesia dipimpin oleh golongan nasionalis. komunis gak usah bikin gara2 dgn mencaplok gerakan ini di bawah kendali mereka. semaun setuju belaka, mengingat dia pun sudah tidak punya basis massa apa2 lagi di hindia belanda, semua pentinggi PKI sudah diangkut. hatta pun cerdik, dia melihat komunis sedang jatuh dan pas waktunya utk ditekan. kenapa hatta melakukan ini ? perjanjian ini terjadi pada era 1920an di mana hatta juga “pendatang baru” di dunia politik nasional hindia belanda. kenapa ? saya hanya bisa menjawab bahwa hatta tidak percaya kaum komunis hingga ke darah dan tulangnya. bukan benci, tapi tidak percaya.

perjanjian tsb kelak terekspose ke media dan sampai ke telinga bung stalin. dia murka. semaun segera didepak dari komitern, karena tidak pada tempatnya seorang komunis bisa dikendalikan “borjuis nasionalis”. sedangkan dari pihak PI, gara2 perjanjian ini belanda pun ikut murka. mereka menuduh ini adalah perjanjian utk melanjutkan pemberontakan PKI yg gagal.

secara logika, masuk akal bahwa perjanjian ini mirip spt handover pekerjaan dari pki ke pi. tapi tentu saja, logika tsb lansung bisa dipatahkan dgn alasan :

  1. PKI sudah tidak valid sebagai partai. semaun tidak bisa mengklaim dirinya sebagai wakil partai.
  2. PI bukan lah partai.

 

hatta memang layak utk tidak percaya kepada komunis. gara2 perjanjian tsb, banyak orang2 PI yg diangkut ke penjara. setelah 6 bulan lebih dipenjara dan berjuang di pengadilan, hakim dapat memahami bahwa perjanjian tsb memang tidak ada urusannya dgn pemberontakan. akhirnya semua orang dibebaskan. tapi kelak tahun-tahun berikutnya yg terjadi adalah kaum komunis menguasai PI dan mendepak orang2 “borjuis nasionalis” dari situ. memang betul, hatta mendapatkan pengalaman pahit nya terhadap kaum komunis sejak usia 20an dan akan terus jadi pegangannya sampai usia tua : tidak percaya kepada kaum komunis.

pak guntur ( putra sulung BK ) pernah bertanya kepada hatta ( yg menjadi saksi pernikahan guntur waktu BK dipenjara soeharto ) : apa perbedaan BK dan bung hatta ? jawabannya sangat lugas : BK terlalu percaya kepada komunis.

Aliran Menikmati Musik

By | April 22, 2017

saya senang mendengarkan musik ( siapa yg tidak ? ). semakin ke sini, selera musik jadi “tidak menentu”. ini semua gara2 spotify. akhirnya sering explore sana sini. tapi tetap, benang merah selera musik sejak jaman SMP sampe skrg, tidak pernah ditinggalkan. yg ada hanya penambahan artis/band dgn roots yg mirip.

ok, ini ada kutipan menarik dari review album The Endless River dari pink floyd. ini termasuk band yg baru skrg2 aja mulai didengarkan. dari sekian musik “aneh”, pink floyd adalah jagonya. ada bbrp orang yg keberatan album mereka saya setel terus menerus dgn pertanyaan sederhana : ini lagu apaan sih ?

memang sudah kebiasaan, saya selalu mendengarkan full album. tidak pilih lagu yg enak2 saja. dgn mendengarkan satu album penuh, saya jadi tahu corak album tersebut. dan ternyata pink floyd bahkan dgn sengaja membuat album “continue” yang satu kesatuan. dgn satu kesatuan spt ini, jalinan antar lagu menjadi kuat. tidak bisa didengarkan satu per satu. cuplikan :

 

The Endless River, according to Gilmour, is “a continuous flow of music that builds gradually over four separate pieces.” The album is made up of mostly ambient and instrumental music.[24][25] Gilmour told Mojo: “Unapologetically, this is for the generation that wants to put its headphones on, lie in a beanbag, or whatever, and get off on a piece of music for an extended period of time. You could say itโ€™s not for the iTunes, downloading-individual-tracks generation.”

album spt ini saya temukan juga di :

  1. three sides of story dari extreme
  2. six degree dari dream theater

pada kenyataannya, tidak semua band mau membuat album eksperimen spt ini. buat pendengar pun, antara minat dan tidak minat. pendengar punya kebutuhan berbeda ttg musik. ada yg mau denger yg asik2 aja. ada yg mau “meneliti”. ada yg mau ditemenin sambil belajar dan ada yg juga utk proses belajar musik itu sendiri.

disebutkan dlm cuplikan di atas : album ini bukan utk generasi itunes. hehehehe…iya sih. itunes emang menyediakan lagu per track utk bisa dibeli. jadi user bisa pilih lagu2 yg bagus dan hits saja. tapi beberapa band keberatan dgn cara tsb. alasan paling umum adalah ideologi : album adalah “anak” dari sebuah pencapaian, hendaknya dinikmati secara full karena semua lagu di situ diciptakan dgn kerja keras, tlg dihargai dan dinikmati.

yes, it should be.

 

Eropa Boikot Sawit

By | April 19, 2017

sebuah berita tidak enak, eropa utk kesekian kalinya mempermasalahkan sawit. memang, tidak perkebunan sawit menebarkan berita yg selalu baik, ada yg tidak baik. masalahnya mulai dari pembakaran hutan, perusakan tanah ( gambut ), merambah ke hutan lindung sampe ke urusan konflik lahan dgn masyarakat sekitar. masalah2 tsb didokumentasikan dgn baik oleh buku ini.

masalahnya memang tidak sederhana :

  1. indonesia / malaysia adalah lahan paling cocok utk penanaman sawit. sementara sawit sendiri adalah tanaman penghasil minyak dgn output terbesar dari semua jenis tanaman lainnya ( kelapa, kedelai, jagung, jarak dsb nya ). dgn dua faktor itu saja sudah “kewajaran” bahwa dua negara ini membangun sawit besar2an. belum lagi menghitung perkara COGS.
  2. membangun pabrik pengolahan CPO tidak bisa skala kecil. investasinya sekitar 300M. utk memperoleh skala sekian tsb, perlu kebun yg luas. jadi kalau disebut kebun sawit rakus lahan, itu emang benar karena requirementnya memang demikian. tapi, lahan tsb tidak selamanya punya perusahaan, ada skema inti plasma di mana petani memiliki lahan dan hasilnya dijual ke pabrik perusahaan. tentu saja, lahan2 tsb harus dalam range waktu antar yg aman karena tandan sawit mudah busuk.
  3. perluasan lahan, pemetaan lahan dan bertumpuknya perijinan itu adalah kompilasi masalah semua pihak. konflik lahan pun disebabkan hal demikian. ada lahan adat, lahan “nganggur” yg tiba2 bisa diserobok perusahaan sawit, itu disebabkan masalah “perijinan” yg agak amburadul. masalah konflik lahan ini yg bisa membuat bentrokan secara tajam di lapangan. parang lawan bedil. dan ini jadi komoditas politik yg empuk di era pilkada macam skrg.
  4. skema inti plasma kadang tidak jalan dgn baik. ada tuduh menuduh antara perusahaan dgn petani. perusahaan dituduh tidak tepat janji sedangkan perusahaan jg menuduh petani sebaliknya.
  5. ada ISPO, ada RSPO. damn, kenapa harus dua gini sih ? tapi akhirnya ISPO secara “alamiah” membesar karena memang didukung pemerintah.

 

Eropa menolak sawit karena beragam tuduhan. Amerika pun pernah melakukan hal yg sama. sejarahnya, amerika terpaksa menghasilkan minyak nabati nya sendiri karena waktu PD2, pasokan minyak kelapa dari asia terputus. akhirnya mereka memutuskan utk swasembada dgn mengusahakan minyak dari kedelai dan jagung. setelah mereka punya barangnya, tentu saja ini perlu diproteksi sedemikian rupa walau pun harganya berkali2 lipat dari sawit. akhirnya larangan sawit pun pernah digelar, dan kita dgn mudah membaca itu adalah taktik dagang semata.

hal yg sama skrg dilakukan eropa dan tuduhan bahwa ini adalah taktik dagang semata sudah diutarakan banyak pihak. so, apa yg harus dilakukan ? tentu saja kita harus melawan keluar dan memperbaiki ke dalam. utk urusan ke dalam, RSPO harus segera ditingkatkan lagi dari kondisi hanya belasan persen saat ini.

saya pribadi sebenarnya tidak bisa tutup mata terhadap masalah2 yg dihasilkan perkebunan sawit. tapi bayangkan jika kita sudah kehabisan minyak mentah, apa yg bisa dilakukan ? kita harus mencari renewable energy dan sebenarnya ini sudah ada di depan mata : biodiesel. saat ini B20 sudah mulai nanjak produksinya, sebentar lagi B30 akan diundangkan dalam peraturan. jadi, lihat lah sawit dalam topik penyediaan energi masa depan. bukan utk urusan bahan baku banyak barang atau malah cuma minyak goreng semata, tapi ini adalah urusan energi. tanpa energi yg dihasilkan, sebuah negara tidak pernah bisa berdaulat.