Pohon Kampus

By | May 7, 2017

Pohon sekitaran kampus, ntah namanya apa. Kalo pun ada namanya, gak tahu jg bedanya apa dgn pohon sebelah πŸ™‚

Perjanjian Hatta – Semaun

By | April 24, 2017

pada saat perjanjian dibuat, dua orang ini bukan lah pemimpin partai. hatta menjabat sebagai ketua PI ( perhimpunan indonesia ) sedangkan semaun adalah pimpinan PKI ( yg baru saja gagal memberontak di hindia belanda ). dua orang ini jelas, bukan satu ideologi. hatta seorang nasionalis ( berbasis sosialisme yg kuat ) sedangkan semaun adalah komunis. konon, semaun termasuk tokoh yg tidak menyetujui diadakannya pemberontakan. dia satu kubu dgn tan malaka yg juga berpendapat sama : belum waktunya memberontak. dan spt kita ketahui, bahwa pemberontakan ini gagal total dan mudah disapu bersih. yg kena getahnya bukan cuma PKI tapi juga banyak tokoh2 pergerakan lainnya. satu event utk jadi alasan memukul yg lain.

perjanjian antara hatta – semaun terjadi di belanda, tidak lama setelah PKI dilumat pemerintah hindia belanda. semaun berada di belanda dan “berdiskusi” dgn hatta. saat itu, semaun adalah salah satu anggota komunis international ( komitern ) di mana bung stalin masih hidup dan menjadi ketuanya.

dalam perjanjian tsb, hatta dan semaun sepakat bahwa pergerakan kemerdekaan indonesia dipimpin oleh golongan nasionalis. komunis gak usah bikin gara2 dgn mencaplok gerakan ini di bawah kendali mereka. semaun setuju belaka, mengingat dia pun sudah tidak punya basis massa apa2 lagi di hindia belanda, semua pentinggi PKI sudah diangkut. hatta pun cerdik, dia melihat komunis sedang jatuh dan pas waktunya utk ditekan. kenapa hatta melakukan ini ? perjanjian ini terjadi pada era 1920an di mana hatta juga “pendatang baru” di dunia politik nasional hindia belanda. kenapa ? saya hanya bisa menjawab bahwa hatta tidak percaya kaum komunis hingga ke darah dan tulangnya. bukan benci, tapi tidak percaya.

perjanjian tsb kelak terekspose ke media dan sampai ke telinga bung stalin. dia murka. semaun segera didepak dari komitern, karena tidak pada tempatnya seorang komunis bisa dikendalikan “borjuis nasionalis”. sedangkan dari pihak PI, gara2 perjanjian ini belanda pun ikut murka. mereka menuduh ini adalah perjanjian utk melanjutkan pemberontakan PKI yg gagal.

secara logika, masuk akal bahwa perjanjian ini mirip spt handover pekerjaan dari pki ke pi. tapi tentu saja, logika tsb lansung bisa dipatahkan dgn alasan :

  1. PKI sudah tidak valid sebagai partai. semaun tidak bisa mengklaim dirinya sebagai wakil partai.
  2. PI bukan lah partai.

 

hatta memang layak utk tidak percaya kepada komunis. gara2 perjanjian tsb, banyak orang2 PI yg diangkut ke penjara. setelah 6 bulan lebih dipenjara dan berjuang di pengadilan, hakim dapat memahami bahwa perjanjian tsb memang tidak ada urusannya dgn pemberontakan. akhirnya semua orang dibebaskan. tapi kelak tahun-tahun berikutnya yg terjadi adalah kaum komunis menguasai PI dan mendepak orang2 “borjuis nasionalis” dari situ. memang betul, hatta mendapatkan pengalaman pahit nya terhadap kaum komunis sejak usia 20an dan akan terus jadi pegangannya sampai usia tua : tidak percaya kepada kaum komunis.

pak guntur ( putra sulung BK ) pernah bertanya kepada hatta ( yg menjadi saksi pernikahan guntur waktu BK dipenjara soeharto ) : apa perbedaan BK dan bung hatta ? jawabannya sangat lugas : BK terlalu percaya kepada komunis.

Aliran Menikmati Musik

By | April 22, 2017

saya senang mendengarkan musik ( siapa yg tidak ? ). semakin ke sini, selera musik jadi “tidak menentu”. ini semua gara2 spotify. akhirnya sering explore sana sini. tapi tetap, benang merah selera musik sejak jaman SMP sampe skrg, tidak pernah ditinggalkan. yg ada hanya penambahan artis/band dgn roots yg mirip.

ok, ini ada kutipan menarik dari review album The Endless River dari pink floyd. ini termasuk band yg baru skrg2 aja mulai didengarkan. dari sekian musik “aneh”, pink floyd adalah jagonya. ada bbrp orang yg keberatan album mereka saya setel terus menerus dgn pertanyaan sederhana : ini lagu apaan sih ?

memang sudah kebiasaan, saya selalu mendengarkan full album. tidak pilih lagu yg enak2 saja. dgn mendengarkan satu album penuh, saya jadi tahu corak album tersebut. dan ternyata pink floyd bahkan dgn sengaja membuat album “continue” yang satu kesatuan. dgn satu kesatuan spt ini, jalinan antar lagu menjadi kuat. tidak bisa didengarkan satu per satu. cuplikan :

 

The Endless River, according to Gilmour, is “a continuous flow of music that builds gradually over four separate pieces.” The album is made up of mostly ambient and instrumental music.[24][25] Gilmour told Mojo: “Unapologetically, this is for the generation that wants to put its headphones on, lie in a beanbag, or whatever, and get off on a piece of music for an extended period of time. You could say it’s not for the iTunes, downloading-individual-tracks generation.”

album spt ini saya temukan juga di :

  1. three sides of story dari extreme
  2. six degree dari dream theater

pada kenyataannya, tidak semua band mau membuat album eksperimen spt ini. buat pendengar pun, antara minat dan tidak minat. pendengar punya kebutuhan berbeda ttg musik. ada yg mau denger yg asik2 aja. ada yg mau “meneliti”. ada yg mau ditemenin sambil belajar dan ada yg juga utk proses belajar musik itu sendiri.

disebutkan dlm cuplikan di atas : album ini bukan utk generasi itunes. hehehehe…iya sih. itunes emang menyediakan lagu per track utk bisa dibeli. jadi user bisa pilih lagu2 yg bagus dan hits saja. tapi beberapa band keberatan dgn cara tsb. alasan paling umum adalah ideologi : album adalah “anak” dari sebuah pencapaian, hendaknya dinikmati secara full karena semua lagu di situ diciptakan dgn kerja keras, tlg dihargai dan dinikmati.

yes, it should be.

 

Eropa Boikot Sawit

By | April 19, 2017

sebuah berita tidak enak, eropa utk kesekian kalinya mempermasalahkan sawit. memang, tidak perkebunan sawit menebarkan berita yg selalu baik, ada yg tidak baik. masalahnya mulai dari pembakaran hutan, perusakan tanah ( gambut ), merambah ke hutan lindung sampe ke urusan konflik lahan dgn masyarakat sekitar. masalah2 tsb didokumentasikan dgn baik oleh buku ini.

masalahnya memang tidak sederhana :

  1. indonesia / malaysia adalah lahan paling cocok utk penanaman sawit. sementara sawit sendiri adalah tanaman penghasil minyak dgn output terbesar dari semua jenis tanaman lainnya ( kelapa, kedelai, jagung, jarak dsb nya ). dgn dua faktor itu saja sudah “kewajaran” bahwa dua negara ini membangun sawit besar2an. belum lagi menghitung perkara COGS.
  2. membangun pabrik pengolahan CPO tidak bisa skala kecil. investasinya sekitar 300M. utk memperoleh skala sekian tsb, perlu kebun yg luas. jadi kalau disebut kebun sawit rakus lahan, itu emang benar karena requirementnya memang demikian. tapi, lahan tsb tidak selamanya punya perusahaan, ada skema inti plasma di mana petani memiliki lahan dan hasilnya dijual ke pabrik perusahaan. tentu saja, lahan2 tsb harus dalam range waktu antar yg aman karena tandan sawit mudah busuk.
  3. perluasan lahan, pemetaan lahan dan bertumpuknya perijinan itu adalah kompilasi masalah semua pihak. konflik lahan pun disebabkan hal demikian. ada lahan adat, lahan “nganggur” yg tiba2 bisa diserobok perusahaan sawit, itu disebabkan masalah “perijinan” yg agak amburadul. masalah konflik lahan ini yg bisa membuat bentrokan secara tajam di lapangan. parang lawan bedil. dan ini jadi komoditas politik yg empuk di era pilkada macam skrg.
  4. skema inti plasma kadang tidak jalan dgn baik. ada tuduh menuduh antara perusahaan dgn petani. perusahaan dituduh tidak tepat janji sedangkan perusahaan jg menuduh petani sebaliknya.
  5. ada ISPO, ada RSPO. damn, kenapa harus dua gini sih ? tapi akhirnya ISPO secara “alamiah” membesar karena memang didukung pemerintah.

 

Eropa menolak sawit karena beragam tuduhan. Amerika pun pernah melakukan hal yg sama. sejarahnya, amerika terpaksa menghasilkan minyak nabati nya sendiri karena waktu PD2, pasokan minyak kelapa dari asia terputus. akhirnya mereka memutuskan utk swasembada dgn mengusahakan minyak dari kedelai dan jagung. setelah mereka punya barangnya, tentu saja ini perlu diproteksi sedemikian rupa walau pun harganya berkali2 lipat dari sawit. akhirnya larangan sawit pun pernah digelar, dan kita dgn mudah membaca itu adalah taktik dagang semata.

hal yg sama skrg dilakukan eropa dan tuduhan bahwa ini adalah taktik dagang semata sudah diutarakan banyak pihak. so, apa yg harus dilakukan ? tentu saja kita harus melawan keluar dan memperbaiki ke dalam. utk urusan ke dalam, RSPO harus segera ditingkatkan lagi dari kondisi hanya belasan persen saat ini.

saya pribadi sebenarnya tidak bisa tutup mata terhadap masalah2 yg dihasilkan perkebunan sawit. tapi bayangkan jika kita sudah kehabisan minyak mentah, apa yg bisa dilakukan ? kita harus mencari renewable energy dan sebenarnya ini sudah ada di depan mata : biodiesel. saat ini B20 sudah mulai nanjak produksinya, sebentar lagi B30 akan diundangkan dalam peraturan. jadi, lihat lah sawit dalam topik penyediaan energi masa depan. bukan utk urusan bahan baku banyak barang atau malah cuma minyak goreng semata, tapi ini adalah urusan energi. tanpa energi yg dihasilkan, sebuah negara tidak pernah bisa berdaulat.

Level Baru Pencapaian Logistik Indonesia

By | April 15, 2017

dalam waktu yg berdekatan, ada dua berita gembira. mungkin berita ini mengalahkan hiruk pikuk pilkada dki yg saya sendiri bener2 gak ada minat membahasnya. it’s sucks. ok, berita gembiranya ada dua :

  1. pelabuhan tanjung priok sudah bisa disandarkan kapal kontainer besar. berita 2 minggu lalu, pak mentri perhubungan sengaja datang ke pelabuhan utk “penyambutan”. kapal yg datang bermuatan 8,500 TEU. wih…gedenya. padahal sebelumnya tanjung priok hanya bisa didatangi kapal 3,000 TEU. GOOD ! VERY GOOD !
  2. tol lingkar luar kota sudah terhubung ke pelabuhan. ini proyek lama yg tertunda dan terkatung2. sekitar 2 minggu lalu, berkat WAZE, saya terpaksa lewat daerah pelabuhan utk menghindari macet. waktu itu, saya lihat tol udah rapih, udah siap, cuma belum ada mobil yg boleh lewat. per hari ini, tol tersebut DIBUKA ! akhirnya tol lingkar luar kota ( yg sudah padat itu ) skrg terhubung ke pelabuhan. ini berita bagus, sungguh bagus.

jadi, dua event ini berpotensi mengurai kepadatan lalu lintas kontainer di darat dan memperbesar volume kontainer yg bisa dimuat di pelabuhan. more volume means more business. bigger capacity means bigger revenue ? lower logistic cost ? betul ? iya betul kalo emang dwell time di pelabuhan bisa segera dipangkas πŸ™‚ anyway, ini tetap berita bagus.

selamat untuk kerja keras pemerintahan ini….

Area Bebas Rentenir

By | March 30, 2017

Rentenir masuk kampung, itu biasa. Tapi penolakan terhadap kehadiran mereka, baru kali ini saya lihat.

Lokasi : somewhere di cimahi, masuk gang dari jalan utama.

Burung Dalam Jendela

By | March 30, 2017

Sangat amat jarang saya melihat lambang negara kita dipajang di dalam rumah. Kalo di sekolah atau kantor, apalagi kantor pemerintahan, sering.

Nah, si pemilik rumah ntah kenapa malah memajang lambang negara garuda pancasila ini malah menghadap luar jendela. Persis menghadap kepada kami yg sedang menunggu hidangan pecel lele. Hiburannya cuma garuda doang.

Green Car

By | March 30, 2017

Go green !
Ini buktinya. Dalam kondisi tertentu, tanaman bisa tumbuh dalam mobil. Setidaknya ada dua kecambah yg tumbuh pagi ini di DALAM mobil ganteng ini. Satu di bagian dalam pintu. Dan satu lagi di dasar. Karpet ini menjadi media yg baik karena kondisinya sering tergenang. Seperti sawah tadah hujan.

Sepotong Surga

By | March 30, 2017

Dan mengalir lah sungai-sungai di bawah nya.

Itu kalimat yg sering saya lihat dalam terjemahan al-quran. Dan secara nyata, itu dapat ditemui di pelosok nusantara ini. Salah satunya ini, jendela dgn view landscape hijau lengkap dengan sungai mengalir.

Sendu dan mendung. Hijau. Berkabut. Dan mengalir sungai yg jernih.

Lokasi : warung di desa puncak gembong, cisewu, jawa barat. Sekitar 3 jam perjalanan dari bandung.

Mari Rangkulan

By | March 30, 2017

Kayaknya enak banget tidur seperti ini. Semua dempet2an, lalu tidur beneran. Kenapa para kodok ini pada tidur dempet2an ?

Tidak tahu persis. Malam pas saya berjumpa, mereka berkeliaran sana sini, sibuk. Begitu pagi, mereka hilang. Kemana ? Ternyata tidur. Dan semua tidur dempet2an di lubang sempit. Kenapa ? Kemungkinan utk mencegah hilangnya kelembaban kulit di suasana kering. Betul, ini emang di pantai sih.