Strategi Menjinakkan Diponegoro

image

Buku ini adalah yg kedua saya miliki setelah bundel tebal karya peter carey. Buku mengkhususkan topik perang dan strateginya. Dibuat oleh mantan militer yaitu pak saleh as’ad djamhari yg sebenarnya buku ini adalah disertasi beliau di UI.

Topik perang memang menarik. Perang jawa merupakan perang yg paling menguras energi londo dan berakhirnya perang ini menandai waktunya penjajahan jawa secara massal dan tersistem.

Perang jawa merupakan perang gerilya dgn kemampuan strategi yg bener2 licin. Tahap pertama, pangeran menyerbu keraton dan berhasil mengepungnya dlm waktu singkat. Jika saat itu dia ingin menjatuhkan kerajaan, hari itu jg lansung bisa. Tapi tidak dilakukannya.

Tahap kedua, dia bergerilya di seantero negoro dan mancanegoro bersama para pasukannya. Kita selama ini mengenal dua orang utamanya, yaitu kiyai mojo dan sentot ali basah. Betul, mereka memang orang ring satu tapi tidak hanya itu. Masih banyak Basah-basah yg lain.

Tahapan gerilya ini dilawan londo dgn taktik stelsel benteng. Somehow, taktik ini emang berhasil menekan pelan2 wilayah gerak diponegoro. Walaupun pada kenyataannya bbrp benteng banyak salah lokasi dan malah jadi sasaran empuk. Jarak antar benteng yg terlalu jauh malah menimbulkan masalah logistik.

Perang merebak sana sini di semua wilayah. Event yg paling menentukan adalah perang siluk di mana diponegoro dan sentot terpaksa ngungsi. Pasukan mereka terbunuh sampai 54 orang. Ini adalah perang terbuka yg terbesar yg terakhir sebelum ditipu di magelang.

Pangeran berperang dgn jangka waktu yg panjang, menimbulkan war fatique bagi pasukannya. Moral jatuh, fisik lelah. Kondisi ini rawan masuk angin. Satu per satu ring satunya rontok. Pertama kiyai mojo. Lalu sentot. Selain mereka berdua, sudah banyak pula yg berbalik arah.

Merasa ditinggalkan, pasukan sudah lemah dan gerakan makin terbatas, pangeran jadi lebih mudah utk ditekan utk diajak berunding.

Ajakan itu datang dlm suasana lebaran. Pangeran benar2 mengira kedatangannya utk berunding dlm suasana damai. Dia datang dgn pasukan ratusan orang dgn senjata.

Kenyataannya jendral de cock menipunya. Senjata dilucuti dan pangeran ditangkap lalu dibuang.

Perang menghabiskan 7000 nyawa tentara eropa dan 8000 tentara “knil”. Sedangkan di pihak pengeran dan orang jawa pada umumnya tercatat sekitar 200rb nyawa melayang. Itu jumlah yg tidak sedikit.

Hasil dari perang, londo menagihkan semua biayanya ke kerajaan. Total cost sebesar 25 jt gulden. Kerajaan membayarnya dgn barter wilayah monconegoro nya. Termasuk pelabuhan2 pantai utara.

Pangeran gagal membentuk negara islam seperti cita2nya bersama kiyai mojo. Berjuang dan gagal. Di saat yg sama di sumatra barat, imam bonjol kurang lebih memperjuangkan hal yg sama. Londo sampe postpone perangnya di sana dan menarik pasukannya utk perang jawa.

Buku ini sungguh amat detil menceritakan jalannya peperangan. Saya tidak bisa membayangkan berapa banyak arsip yg dibaca sebagai bahan.

Berbeda dgn buku peter carey, buku ini hanya menitik beratkan pada perang saja. Tidak lainnya. Peter carey menjelaskan nyaris semua : asal muasal pengeran, pendidikannyaan, suluknya, guru ngajinya, penyebab perang, kondisi kerajaan dan paska perang. Sangat detil.

Buku sejarah perang ini agak2 membingungkan buat saya yg tdk terlalu paham peta jawa tengah dan yogya. Pergerakan pasukan dari desa ke desa, nyebrang sungai, gunung ini dan itu, jadi kurang nengkep secara jarak. Ada baiknya baca buku ini sembari megang peta. Ada sih peta di dlm buku, cuma kurang detil.

Secara overall, membaca buku ini cukup menghabiskan energi. Perlu ketekunan. Tidak bisa dibaca sembari lalu krn mudah get lost dgn halaman2 sebelumnya. Idealnya 5 hari kelar cuma nyatanya sekitar 2 bulan.

Fiuh..

One thought on “Strategi Menjinakkan Diponegoro

  1. Pingback: Langkah Cepat Setup SPF | Selat Penghubung Peradaban

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *