Residen Kedu

oleh Muhammad Rizal

Ketika masa sekolah dulu saya sering mendengar bahwa Pangeran Diponegoro ditangkap dengan cara dijebak. Diajak berunding, ternyata ketika datang malah ditangkap. Maklum orang mau berunding, hanya bawa pengawal pribadi dan senjata sekadarnya.

Jadi dalam kesempatan ini saya ingin sekali mengunjungi tempat Pangeran
dijebak. Setelah mencari-cari informasi, ternyata kediaman Residen Kedu itu
letaknya di Magelang. Maka kami segera menuju tempat tersebut pada hari
kedua. Karena membawa anak-anak, maka kami transit di villa teman yang jadi
guide. Villanya dekat dengan Candi Borobudur.

Setelah istirahat sejenak, kami terus masuk Kota Magelang dan mencari
lokasi yang dituju. Di alun-alun Magelang sempat bertanya pada tukang
parkir dan ada lagi orang yang sedang duduk-duduk di sana. Ternyata tidak
ada yang tahu lokasi itu. Setelah mencari di internet, akhirnya ketemu juga
lokasinya. Di Jl. Diponegoro No. 1.

Ex Kediaman Residen sungguh luas. Kalau kita masuk ke halaman barulah
nampak tulisan Museum Pangeran Diponegoro. Setelah membangunkan penjaga
yang sedang tidur (siang sekitar pkl 13.00), kami segera diantarnya ke
dalam untuk melihat lokasi bersejarah tersebut.

jubah pangeran diponegoro @magelang 2014, oleh rizal

jubah pangeran diponegoro @magelang 2014, oleh rizal

Ruangan perundingan ternyata terletak di sayap kiri bangunan, berupa sebuah
kamar kira-kira seukuran 5 x 5 meter persegi. Di dalam masih tersusun empat
kursi jati dalam formasi segi empat. Kursi bekas Pangeran duduk diletakkan
dalam kotak kaca dan separo ditutup dengan kain putih. Posisinya menghadap
ke pintu. Jadi ketika perundingan berlangsung, Pangeran menghadap ke pintu
dan Jenderal De Kock membelakangi pintu. Kedua kursi yang tersisa diduduki
oleh kedua penterjemah, juga saling berhadapan. Seketika saya menghampiri
kursi Pangeran untuk membuktikan apa yang beberapa kali saya baca. Ternyata
benar, di bagian tiang pegangan tangan kursi sebelah kanan ada bekas cuilan
di kayu jatinya, bekas genggaman jari Pangeran yang sedemikian kuat
sehingga mampu melukai kayu jati yang keras. Ketika mendadak ditangkap,
Pangeran sedemikian geramnya atas siasat licik belanda dan beliau
merapatkan genggamannya untuk menahan marah.

bangku perundingan @magelang 2014, oleh rizal

bangku perundingan @magelang 2014, oleh rizal

Yang juga baru buat saya, jubah Pangeran yang diletakkan dalam kotak kaca
di sebelah kiri ruangan. Penjaga gedung menjelaskan, itulah jubah Pangeran
yang dipakai ketika perundingan. Sebelum beliau duduk, jubah tersebut
dilepas dan dilipat oleh ajudannya. Jubah tersebut dari leher ke bawah
panjangnya (tingginya) sekitar 160 cm. Bagian bawah jubah tentu lebih
tinggi dari mata kaki sebagaimana seorang muslim. Bayangkan tingginya
Pangeran. Mungkin sekitar 180 cm atau lebih. Menurut penjaga gedung, tinggi
Pangeran Diponegoro sepantar dengan Jenderal De Kock.

Dalam kamar itu juga ada dipan kayu tempat Pangeran melaksanakan solat.
Jika kita keluar, halaman belakang kediaman residen sungguh asri. Padang
rumput luas dan di pojoknya ada sebuah gazebo yang sangat indah. Dinihari
sebelum perundingan, Pangeran Diponegoro masih sempat berjalan-jalan di
taman ini dan merenung, bertafakur seperti kebiasaannya. Mungkin juga
beliau sempat berdiam sejenak di gazebo tersebut. Berdiri di situ sambil
menikmati pemandangan gunung Merbabu (cmiiw Mas Anis…), sungguh satu
pengalaman luar biasa.

Sepulang dari situ kami mampir lagi di villa kawan dan sempat juga melihat
dan naik ke Candi Borobudur pada sore harinya sebelum tutup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *