Kota Gede

oleh Muhammad Rizal

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan mengunjungi Kota Yogya. Kesempatan
ini saya pergunakan untuk napak tilas beberapa tempat bersejarah yang
berkaitan dengan perjuangan Pangeran Diponegoro. Karena punya waktu luang 2
hari, maka saya sempatkan berkunjung ke empat lokasi:

1. Makam moyang-moyang Pangeran Diponegoro di Kotagede.
Di pemakaman ini terbaring jasad tokoh-tokoh yang pernah saya baca di
buku-buku sejarah maupun cerita setengah legenda. Antara lain:

-Panembahan Senopati: Orang yang membuka Alas (hutan) Mentaok
(Kotagede/Banguntapan) dan menjadikannya sebagai ibukota Mataram. Kotagede
inilah asal muasal keramaian tempat tersebut yang di kemudian hari Kota
Yogya didirikan bersebelahan (sekarang bersambung) dengannya. Makamnya
terletak di dalam bangunan makam agak ke ujung dalam, tapi bukan paling
ujung. Di sebelahnya dimakamkan istri dan adik-adiknya. Saya rasa,
orang-orang Yogya atau yang mendapat manfaat dari Yogya sebaiknya
mengunjungi makam ini dan mendoakan keselamatan beliau karena jasa
beliaulah Yogya didirikan.

-Ki Ageng Pemanahan. Tokoh besar yang memperjuangkan Panembahan Senopati
hingga menjadi raja. Makamnya terletak paling ujung dalam bangunan (yang
artinya sangat dimuliakan). Beliau dikenal luas sebagai ayah kandung
Panembahan Senopati. Tapi menurut penjaga makam (saya lupa menanyakan nama
ketua “kuncen” di situ yang mengantar saya melihat makam) ayah kandung
Panembahan Senopati sebenarnya adalah Sultan Hadiwijaya, Sultan Kesultanan
Pajang yang kemudian pamor Kesultanannya meredup dan digantikan oleh
Mataram.

-Ki Juru Mertani. Tokoh besar yang ikut memperjuangkan Panembahan Senopati
menjadi raja. Beliau adalah kawan karib Ki Ageng Pemanahan. Makam mereka
pun berdampingan. Mereka berdua adalah murid langsung Kanjeng Sunan
Kalijaga. Sunan Kalijagalah yang mengatakan Senopati nantinya akan menjadi
raja jawa.

-Sultan Hadiwijaya. Keberadaan makam ini membuat saya terkejut. Rupanya
Sultan Hadiwijaya alias Joko Tingkir dimakamkan di sini. Kawan saya yang
mengantar pun, seorang penduduk Yogya tidak menyangka jika Sang Sultan
dimakamkan di sini. Rupanya jasadnya dipindahkan dari Pajang kesini oleh
putranya, Panembahan Senopati. Makamnya terletak paling ujung, sedikit
lebih tinggi dari semua makam di situ (artinya makam yang paling
dimuliakan). Dari sini terlihat adab Panembahan Senopati terhadap ayahnya.
Walaupun mereka pernah bertempur, tapi penghormatan Senopati terhadap
ayahnya tidak luntur hingga wafatnya.

-Sultan Hamengkubuwono II. Nah, ini juga agak mengherankan kenapa Sultan HB
II dimakamkan di sini, bukan di Imogiri. Seperti diketahui, setelah
wafatnya Sultan Agung, semua raja keturunannya dimakamkan di kompleks
Imogiri. Sultan HB II atau sering disebut ‘Sultan Sepuh’ adalah orang yang
pernah menjadi raja di Yogya sampai tiga kali. Beliaulah orang yang pernah
merasakan langsung gempuran Daendels (Belanda-Perancis) dan Raffles
(Inggris). Raffles ini setelah menggempur Yogya kemudian merampok sebagian
besar kekayaan Keraton Yogya termasuk manuskrip-manuskrip paling berharga,
dan juga emas dalam jumlah besar. Hanya satu mushaf Al Quran kesultanan
saja yang tidak dirampoknya.

-Makam Raden Mas Jolang atau Prabu Hanyokrowati. Beliau adalah pewaris
Panembahan Senopati. Masa pemerintahannya pendek karena beliau meninggal
kecelakaan di Krapyak. Digantikan oleh anak keempatnya Adipati Martoputro
yang juga berumur pendek. Kemudian anak keempat ini digantikan anak sulung
Mas Jolang yang bernama Mas Rangsang. Mas Rangsang inilah yang bergelar
Sultan Agung. Di zaman beliau Mataram mencapai zaman keemasan.

-Ki Ageng Mangir. Mungkin kawan-kawan pernah membaca kisah beliau yang
merupakan menantu Panembahan Senopati sekaligus musuhnya. Beliau menikah
dengan Pembayun, anak perempuan pertama Panembahan Senopati. Dalam kisah
ini terjadi pertentangan, Allahua’lam. Makamnya sebagian terletak di dalam
bangunan (melambangkan dia keluarga Sultan) dan sebagian di luar bangunan
(melambangkan dia musuh sultan). Jadi bagian atas makamnya dipotong dua
dengan tembok.

-Makam Pembayun (istri Ki Ageng Mangir) dan makam keluarga kerajaan
lainnya, termasuk makam abdi dalem-abdi dalem yang berpangkat tinggi.

Kompleks makam kerajaan di Kotagede ini relatif sepi dengan suasana sangat
tenang. Sedikit yang berkunjung. Sebelum masuk kompleks pemakaman ada
masjid yang bangunan utamanya didirikan oleh Panembahan Senopati. Masjid
yang sangat tenang dan bernuansa klasik Jawa. Makam ini diurus secara
bersama oleh keturunan Panembahan Senopati: Kasunanan Solo, Kesultanan
Yogyakarta, Praja Mangkunegaran, dan Kadipaten Pakualaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *