Muhammadiyah, Wahabi dan Jawa

By | September 21, 2017

buku ini dulu sekali, sudah pernah saya beli. taro di perpus kantor dan hilang. padahal belum kelar dibaca. pas mampir ke yogya, mampir ke markas suara muhammadiyah. ternyata buku ini diterbitkan ulang oleh penerbit yg berbeda.

ok, ini buku termasuk yg berat utk saya. perlu cari waktu yg agak lenggang dan tidak bisa sambil lalu utk membacanya. kalo kelewat agak lama, bisa miss the point.

seperti kebiasaan saya membeli buku kalo penulisnya belum saya tahu sebelumnya, selalu buka halaman belakang : siapa penulis ini ? kalo dirasa cocok, baru beli bukunya ( di luar kenyataan bahwa topiknya emang menarik ). nah, utk buku ini, penulis nya adalah peneliti LIPI dgn latar belakang akademis yg ok. iya lah, peniliti LIPI toh ? dan topik ini adalah thesis master yg diterjemahkan dan dibukukan. sudah pasti, banyak tantangannya utk kelarin baca buku ini ( walau pun tipis ).

topik ini menarik karena bagaimana bisa, bahwa muhammadiyah yg lahir di tengah keraton jawa bisa2nya menjadi gerakan puritan pada era setelah generasi pendirinya berganti. generasi awal terdiri dari priayi abdi dalem, priayi sekolahan dan juragan / saudagar. bahkan kyai ahmad dahlan itu sendiri berdiri di beberapa organisasi di luar muhammadiyah : boedi oetomo dan sarekat islam, ini menunjukkan bahwa gerakan muhammadiyah secara lansung berinteraksi dgn gerakan lain, baik yg berbasiskan kebudayaan ( BO ) dan politik ( SI ). khususnya BO, bisa dibilang Muhammadiyah bersimbiosis mutualisme dgn baik. perkembangan awal cabang-cabang muhammadiyah banyak yg dimulai oleh cabang-cabang BO di seantero pulau jawa.

begitu generasi awal ini habis ( khususnya setelah kiyai ahmad dahlan meninggal ), gerakan ini mulai didominasi orang2 minang, wa bil khusus haji rasul ( ayahanda HAMKA ). berbeda sekali dgn kategori muhammadiyah di jawa ( hanya terdiri dari priayi dan saudagar ), perkembangan muhammadiyah di minangkabau justru diawali oleh ulama bermahzab wahabi. lebih tepatnya mahzab wahabi yg punya reputasi buruk dgn kaum adat sejak jaman perang padri.

generasi minang “mengambil alih” estafet kepemimpinan pada era AR sutan mansur ( menantu haji rasul ) dan pada era tsb dibuatlah majelis tarjih. majelis ini bertugas menyelesaikan “sengketa” masalah ideologi dan fiqh yg kadang hanya bersifat ranting saja. tapi pada akhirnya majelis ini menjadi patokan hukum hakam bagi kaum muhammadiyah. dalam kata lain, ini lah penentu mahzab muhammadiyah. padahal, awalnya kiyai ahmad dahlan melepaskan urusan ini ke masing-masing orang. tidak ada penentuan harus bermahzab ini itu utk bisa berkecimpung di dalam.

akhirnya proyek yg awalnya banyak berkutat di bidang sosial ( kesehatan dan pendidikan ), mulai berubah ke proyek puritanisasi. akhirnya awalnya ada dua jenis priayi yg berkecimpung, mulai limbung. priyai sekolahan ( bukan kiyai apalagi abdi dalem ) mulai angkat kaki. mereka tidak nyaman dgn kondisi yg ada.

dan sejak itu mulai lah dikenal muhammadiyah sebagai gerakan puritan yg tetap memiliki banyak sekali outlet pendidikan dan kesehatan. bisa dibilang, ini adalah organisasi islam terbesar di dunia dgn jumlah asset yg luar biasa. walau pun generasi “kedua”nya sibuk dgn proyek puritanisasi, perkembangan outlet nya terus bertambah.

itu yg saya dapat dari buku ini. lalu utk menambahkan, sebagian buku ini saya baca waktu di yogya. kebetulan, saat tsb berlansung olimpiade budaya jawa. apa isinya ? salah satu nya lomba2 permainan anak2 macam enggrang. mungkin anak skrg udah gak tahu itu apaan. adanya olimpiade BUDAYA JAWA yg diadakan oleh muhammadiyah ini secara lansung menegaskan bahwa proses jawanisasi muhammadiyah is coming back. mengingat kerasnya majelis tarjih yg sempat melarang anak2 hizbul wathan bikin api unggun dgn alasan syirik dan bidah, adanya olimpiade budaya jawa yg justru dibuat lansung oleh muhamaddiyah, justru memperlihatkan proses sedang berbalik saat ini.

saya tidak tahu bagaimana komentar pak buya syafii maarif thd hal spt ini. mengingat beliau adalah orang minang, lumayan puritan dan berwawasan sangat luas.

di luar urusan budaya, khususnya utk masalah keyakinan, muhamaddiyah tetap pada track nya. lihat saja pak AR Fachrudin bisa protes kepada Paus Yohannes II ttg maraknya kristenisasi yg terjadi. lihat juga gerakan anti penistaan agama yg mengakibatkan Ahok masuk penjara, itu dimotori oleh angkatan muda muhammdiyah. ini tidak bisa dibilang gerakan politik tapi memang utk menjaga marwah islam ( jika melihat dari sudut pandang sejarah muhammadiyah itu sendiri : bahwa gerakan ini didirikan agar umat islam yg miskin terbela dan tidak tergadai imannya gara2 masalah kesehatan dan pendidikan ).

demikian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *