Kambing Dan Hujan

By | September 21, 2017

sewaktu saya mulai membaca buku ttg muhammadiyah dan jawa, dua buku mahfud mampir. akhirnya dua buku ini habis duluan. dan ternyata, buku kambing dan hujan ini membawa tema gerakan puritan di tanah jawa. jadi agak nyambung.

al kisah, di sebuah desa pertanian kedatangan seseorang. orang ini membawa misi dakwah yg nampaknya pada era tsb lumayan menarik. orang tsb menarik anak2 muda yg nampaknya terbengkalai urusan agamanya. mereka akhirnya lebih banyak nongkrong di mesjid. setelah itu, mereka melakukan jemput bola ke anak2 yg yg ikut berladang dgn orang tuanya. pola pertanian saat itu, banyak hari yg dihabiskan di ladang, tidak pulang ke rumah.

akhirnya remaja mesjid membesar dan golongan tua mulai terusik. gesekan ini jadi serius dan beneran terjadi kontak fisik. berujung mereka terusir dari mesjid dan memutuskan utk mendirikan langgar sendiri. di sini lah mulanya dua kubu bersebarangan secara jelas : mesjid utara dan mesjid selatan.

step forward, generasi kedua yg “tidak tahu menahu” ttg urusan permusuhan tersebut secara tidak sengaja terlibat urusan asmara. setamat kuliah, mereka hendak menikah. tapi bagaimana cara ? mereka berasal dari kubu berbeda : mesjid utara dan selatan. orang tua mereka bermusuhan secara ideologi. dan eh ternyata, orang tua mereka ini sebenarnya sangat dekat, sahabat dekat sekali. tapi setelah kejadian pemisahan kubu, mereka berada dalam posisi bersebrangan.

lambat laun, akhirnya terungkap : ini masalah NU vs muhammdiyah. kaum tradisional dan kaum modern. kaum tua dan kaum muda. lebih tepatnya lagi : wahabi vs ahlussunnah.

ini masalah klasik dan dibungkus dgn kisah asmara. demikian mahfud membungkus masalah tsb dgn kisah percintaan.

overall, novel ini menarik utk dibaca, bahasanya mengalir. endingnya tentu saja happy ending. tapi hanya sedikit mengganggu bahwa ternyata pada acara pernikahan  sbg klimaksnya tsb, semua tokoh2 yg disebut datang semua, terutama cak ali, si pembaharu yg “merusak” desa tradisional tsb. anu, menurut saya ini terlalu maksa, mengingat cak ali udah lama hengkang dari desa tsb utk “berkarir” di luar pulau 🙂

saya rasa di dunia nyata, pernikahan dua kubu spt ini sudah bbrp kali terjadi. salah satunya dari anak petinggi muhammdiyah yg menikah dgn anak pemilik pesantren NU. saya pernah baca somewhere. saya tidak tahu, apakah kelak pernikahan tsb akan mudah dijalani atau tidak mengingat gesekan dua kubu tadi lumayan intens di permukaan.

padahal sih menurut saya, perbedaan tsb tidak penting sama sekali. cuma menghabiskan energi saja. wong sama2 orang islam, tho.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *