Apa Pentingnya Selfie ?

By | July 1, 2017

waktu melihat album foto, di rumah mana pun itu, saya selalunya mendapati foto seseorang dlm kondisi sendirian. tunggal dan ditemani bbrp properti dan gaya. tapi, foto tsb bukan selfie, melainkan diambil oleh seseorang. jenis foto spt ini tidak banyak2 amat dan cenderung berkualitas dokumenter : saya pernah datang ke sini di tahun sekian di event anu.

sebagai foto dokumenter, tentu saja ini perlu utk yang bersangkutan. sebab apa pun yg ada di atas kertas adalah kenangan, termasuk foto yg dicetak tadi. selain ybs, siapa lagi yg perlu ? paling keluarganya atau temen2nya. pada era tsb, tidak banyak yg bisa diambil fotonya dgn keterbatasan :

  1. jumlah roll film hanya 36 frame saja
  2. utk melihat hasilnya, perlu dicuci dan dicetak. sekitar tahun 1992, biaya cuci IDR 1,000 dan cetak 3R IDR 250. eh ya, utk beli film keluar uang sekitar IDR 9,000 ( tergantung tipe dan merk film nya ).
  3. utk memotret, tentu saja perlu kamera. tidak semua kamera bisa dioperasikan dgn mudah. kegagalan foto bisa terjadi mulai dari gagal masuknya film ke kamera, salah setting apperture bahkan sampai kegagalan di ruang gelap.

dari 3 alasan itu saja, sudah cukup menggambarkan bahwa utk mendapatkan foto perlu waktu, biaya dan bahkan skill teknis. jadi perlu sebuah keputusan yg agak panjang utk menekan tombol shutter : kalo gak penting2 amat, sisakan filmnya utk nanti.

fast forward ke era 2017 di mana mendapatkan foto hanya semudah menggerakkan jempol dan 3 langkah yg dibutuhkan 20 thn lalu itu, bisa diskip. akibatnya : banyak foto di memory hp. saking banyaknya, kadang lebih banyak waktu yg dibutuhkan utk menghapus2nya dibandingkan mencetaknya.

sebagai dokumenter, sifat foto yg diambil saat ini sama saja sifatnya dgn yg diambil 20 thn lalu : utk kenangan ybs ( walau pun 3 keterbatasan tsb sudah bisa diskip ). di luar kenangan, ada keperluan lain : diupload, dilike dan kalo bisa jadi viral. nah, ini sudah bergerak keluar kebutuhan dasar sbg kenangan ybs : utk dikenang orang lain dan dianggap menarik. perlombaan utk dikenang ini lah yg menggerakkan manusia utk melakukan selfie secara massal.

semakin banyak like, semakin membuncah rasanya. akhirnya selfie massal semakin beragam bentuk dan properti nya. yg saya maksud properti di sini adalah perlengkapan yg ikut tampil dlm foto tsb, mulai dari fashion sampai latar belakang. akhirnya terjadi lah selfie yg membutuhkan properti yg tidak biasa agar nilai dokumenter tsb lebih layak utk diapresiasi orang lain.

apa saja ? lokasi, fashion dan event. carilah lokasi yg paling aneh, tidak umum dan sebisa mungkin belum banyak orang datang. fashion ? ini tidak perlu dijelaskan dan saya jg tidak berkompeten. event kadang bisa diciptakan, bisa jg tidak. event penting yg tidak bisa diciptakan misalnya suasana sunrise di puncak gunung tertinggi di pulau jawa.

perlombaan selfie pun bertebaran. ada selfie orang yg bagus, menimbulkan “iri hati” agar dirinya bisa mendapatkan selfie yg minimal sama bagusnya. dan di mana2 perlombaan, apalagi yg tidak ada aturannya maka terjadi lah kebrutalan utk mendapatkan properti terbaik. tidak peduli bagaimana caranya dan apa saja yg harus dikorbankan, pokoknya selfie ku ini harus paling keren.

brutality ini berimbas kepada properti secara lansung. misalnya saja kebun bawang di agrapura harus terinjak2 pengunjung. mereka hanya menginginkan properti terbaik : terasering landscape yg luar biasa. tidak peduli di situ ada petani yg bersusah payah menanam bawang, yg begitu terpijak maka kegagalan panen di titik tsb jadi kenyataan pahit. harap diingat, ada 2 macam komoditas dari bawang : daun dan buah. daun tsb jg bernilai ekonomis dan bahkan ada jenis bawang yg memang cuma diambil daunnya saja.

dan akhirnya bbrp malam lalu, saya terpaksa menyaksikan hal yg sama di properti lainnya : pantai konservasi penyu bertelur. namanya saja sudah konservasi, seharusnya tidak banyak orang diijinkan berkunjung apalagi utk membuang sampah sembarangan. menyaksikan telur penyu jatuh ke lubang pasir di tengah malam buta, tentu mengasikkan utk segmen tertentu. sebagai info, penyu betina akan kembali ke pantai tempat dirinya menetas. kembali ke “rumah” utk menitipkan telur di pasir setelah 30 tahun berpetualang, tentu sulit dibayangkan : kenapa dia bisa ingat di mana tempat asalnya. setelah kepulangan pertamanya, secara reguler dia kembali lagi dalam selang waktu 2 – 4 tahun sekali.

pada masa puncaknya, pantai ini bisa kedatangan 25 ekor penyu dalam semalam. penyu adalah mahluk pemilih : pantai yg sepi dan gelap saja yg didatangi. sekitar juli – november mereka datang.

setelah menunggu agak lama, petugas membawa kami ke titik di mana seekor induk sudah “mendarat” dan sedang membuat lubang pertama. agak jauh berjalan, pas tiba kami masih menunggu berjarak 15 meter. setelah 20 menit barulah petugas memberi aba2 utk mendekat : telur sudah mulai berjatuhan. orang2 berkerumun, terbelalak dgn ukuran penyu yg ternyata kalau diukur tempurung dan kakinya dibentangkan, bisa selebar mobil pajero. lubang cukup dalam dan telur satu per satu jatuh. perkiraan ada 80 – 100 butir per sekali datang. saya tidak mengambil foto dgn pertimbangan teknis : perlu flash dan petugas tidak mengijinkan ada cahaya di situ.

waktunya tidak lama, hanya sekitar 15 menit selesai. segera lubang ditutup dgn kaki belakang. saya bersiap utk menjauh karena dia butuh ruang lebih utk mengibaskan kaki. tiba2 ada seorang remaja perempuan dgn sigap lansung mengangkangi penyu dgn tangan menekan tempurung. dan hap, satu, dua, tiga, blitz menyala dgn senyum penuh sembari ngangkang. satu orang berlalu dan gantian orang lain melakukan hal yg sama : penyu bertelur sebagai properti.

saat itu jg, saya lansung muak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *