Demokrasi Indonesia

By | June 26, 2017

Dalam lintasan sejarah, berikut ini jenis demokrasi yg pernah kita jalani :

1. Demokrasi Apa Adanya

Ini demokrasi paling singkat, hanya berkisar dari agustus – november 1945. Yg ada hanya presiden dan para mentri. Bisa dibilang, ini kondisi darurat, pemerintahan tidak bisa berjalan efektif karena gangguan eksternal : kedatangan sekutu dan nica yg nebeng. Kondisi jadi tidak aman dan jakarta sebagai ibukota pun tidak lagi spt bln agustus. September sudah mulai ada bentrokan fisik.

2. Demokrasi ala bung hatta

Dengan maklumat wapres no x di bulan november, sistem presidensial lansung berganti jadi parlementer. Ini sebenarnya cukup mendasar krn mengganti sistem pemerintahan, tapi “cukup” dilakukan dgn keputusan wakil presiden. Silahkan bayangkan besarnya kekuasaan bung hatta di masa itu.

Sistem ini membuat presiden dan wakilnya sebagai pemimpin negara, bukan pemerintahan. Operasional pemerintahan dijalankan oleh perdana mentri dan bertanggungjawab kepada parlemen. Jika PM dijatuhkan parlemen, dia mengembalikan mandat kepada presiden. Lalu presiden menunjuk formatur kabinet utk menyusun ulang pemerintahan.

Situasi yg agak absurd, mengingat bung hatta sekali pun sempat bbrp kali menjadi perdana mentri sekaligus wapres dan seabrek jabatan lainnya ( misalnya ketua PMI ). Era ini menjadikan BH sbg sentral kekuasaan.

Kabinet jatuh bangun, perundingan dgn belanda naik turun, pemberontakan oposisi silih berganti, menciutnya wilayah republik dan bahkan tentara dan laskar saling ribut sesamanya. Rumit, pusing sekaligus kere.

Mengenaskan.

Tapi setidaknya, demokrasi ala eropa berjalan. Semua pihak bisa mengungkapkan pendapat tanpa harus takut tekanan pihak lain.

too much talking. Ngemeng melulu. Membuat sebagian orang jengah, termasuk BK.

3. Demokrasi ala Bung Karno

Ok, sudah saatnya bekerja. Persetan dgn politisi. Pemusatan pendapat, keputusan dan komando militer diletakkan pada satu tangan : Bung Karno.

Tidak perlu banyak berdebat di sidang parlemen.berbusa2 ? No need lah. Skrg hanya satu arah .

Setelah dekrit presiden thn 1959, bubar lah parlemen original hasil pemilu. Yg ada parlemen buatan BK sendiri. Dan dimulai lah era tentara secara resmi masuk parlemen.

Ciri utama era ini adalah Nasakom. Kata nasakom jadi kehidupan politik yg dicoba utk dijalankan sekuat mungkin. Akibatnya banyak benturan politik. BK berusaha mengakurkan warna yg ada, tapi sayangnya tidak semua warna mau masuk dlm satu panci bernama nasakom.

Angkatan darat dan masyumi adalah antagonis PKI. Masyumi, PSI dan bahkan Murba diberangus, menyisakan angkatan darat sebagai musuh tersisa bagi PKI. Sayangnya AD pegang senjata dan pasukan. PKI tidak, hanya bersembunyi di ketek BK.

Agitasi angkatan kelima coba dijalankan dgn bantuan senjata dari china. AD tidak bergeming. PRRI dan permesta meletus, inflasi gila2an dan chaos terjadi.

Puncaknya : letkol untung bin samsuri memutuskan utk menculik jendral AD yg dinilai tidak loyal. Atau dgn kata lain keras thd garis politik PKI. Akibatnya jelas : dlm waktu singkat PKI berhasil diberangus AD.

4. Demokrasi Jendral Soeharto

Secara kebebasan, tidak jauh berbeda dgn era BK ( demokrasi terpimpin ). Tapi bedanya, inflasi terkendali, perut orang bisa diisi nasi, anak2 bisa sekolah. Dan yg paling penting : PKI digeser jadi hantu yg jadi tontonan tipi setiap september.

Indonesia mulai membangun secara serius dan terpola dgn rencana yg baku. Kebebasan pendapat, itu urusan belakangan.

Saya sebagai penikmat demokrasi ini sejak lahir, tentu saja mengapresiasi hasil kerja jendral soeharto dgn sangat tinggi.

Era 1966 – 1998, soeharto benar2 jadi raja jawa tanpa rintangan berarti, kecuali krismon.

5. Demokrasi Ala Kadarnya

Sick. Menyebalkan. Banyak omong. Tidak patut. Yes, ini era 1998 – skrg.

Somehow roda pemerintahan masih berjalan. Baik. Tapi parlemen dlm keadaan tidak sehat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *