Nilai Tukar Petani

By | May 26, 2017

Semalam bertukar pikiran dgn ibu dan bibi. Mereka bercerita ttg kehidupan yg dialami oleh keluarga petani era thn 50-60an di sumatra. Pengalaman kehidupan petani ternyata pahit dan itu lah yg menyebabkan satu keluarga ini merantau ke jawa dan menjalani kehidupan profesi selain petani. Pada kehidupan generasi mereka itu lah profesi petani terputus ke generasi berikutnya.

Kepahitan itu sederhana sekali : hasil sawah tidak bisa untuk menyambung hidup. Kebutuhkan hidup tdk hanya makan, tapi juga sekolah dan rumah. Kalau hanya utk makan, masih cukup. Padi ada, kolam ikan ada dan sayur hingga kelapa ada. Tapi kalo sudah menyangkut urusan sekolah, rumah dan kesehatan, uang yg dipegang sudah tidak cukup. Ujung2nya berhutang lagi kepada pengepul padi. Begitu panen, bayar hutang dan hanya sisanya yg mereka nikmati. Dan itu gak cukup.

Berangkat dari kenyataan pahit tsb, mereka banting stir dgn merantau. Di jawa lebih banyak pilihan dan peluang. Dan memang benar, setelah satu generasi tsb merantau, semuanya “sukses” menjalani profesi non petani. Makan minum terpenuhi dan sekolah tinggi utk anak2 bisa digapai. sawah di kampung masih ada, cuma hanya untuk memorial bahwa kita adalah petani dulunya. Sawah masih berproduksi dan diserahkan kepada kerabat dgn sistem bagi hasil.

Sekelumit cerita masa lalu tsb adalah kenyataan dari nilai tukar petani yg rendah. Silahkan cek datanya di bps, masih banyak propinsi yg NTP nya di bawah 100 persen. Artinya, apa yg petani dapat tidak mencukupi utk membayar kenaikan harga krn inflasi dsb nya. Kurang lebih, itu dlm posisi gali lubang tutup lubang spt yg dialami kami dulu thn 50-60an. Data bps tsb adalah thn 2015. Sudah lebih dari setengah abad, ternyata petani masih harus menerima kenyataan pahit bahwa profesi yg mereka alami tidak selalunya dapat menyelamatkan semua kebutuhan keluarga.

Saya tidak bermaksud komplen. Terlalu kompleks masalah yg harus diurai oleh kementrian pertanian dan perdagangan sekaligus ekonomi utk handling masalah ini dgn cepat. Asli, terlalu kompleks.

Lalu bagaimana dgn generasi penerus yg hendak jadi petani ? Ini profesi yg tidak menarik utk mereka. Hmmm…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *