Taman Sari – Gunung Batu

By | January 31, 2001

posting dari unux/yunus ttg delman yg biasa mangkal di sekitaran gunung batu. ini hanya cerita imajinasi, kerinduan atas hilangnya kerajaan pajajaran yg tanpa bekas. mangga.

======

Mang Engkap, kusir kereta kuda,
seperti biasanya sudah bersiap-siap untuk mencari nafkah sehabis sholat
subuh. Walaupun telah banyak angkot beroperasi, tapi kereta kuda masih
merupakan sarana transportasi yang vital bagi penduduk di Gunung Batu,
Cimahi.

Pagi itu kabut cukup tebal menutupi daerah tersebut. Mang Engkap membawa
kereta kudanya ke pangkalan. Tidak seperti biasanya, pagi itu belum ada
satupun kereta kuda yang mangkal. Apa aku datang terlalu pagi ya? tanya
Mang Engkap dalam hati.

Mang Engkap merasa agak heran juga, sampai sekian lama masih juga
teman-temannya sesama kusir kereta kuda belum juga datang. Penumpang juga
sepi. Ia bermaksud merokok, ketika entah dari mana datangnya dua orang
muda-mudi menghampirinya.

Mang, ke Taman Sari berapa? tanya yang lelaki. Mang Engkap tidak segera
menjawab karena terheran-heran. Taman Sari ITB? tanyanya. Lelaki calon
penumpangnya tersebut mengangguk.

Taman Sari kan jauh, kenapa tidak naik angkot saja? tanya Mang Engkap.
Saya tidak buru-buru kok Mang. Berapa aja saya bayar deh, kata si lelaki.
Mereka akhirnya sepakat dengan harga Rp20.000.

Mang Engkap mulai menjalankan kereta kudanya. Anehnya si kuda beberapa
kali mengangkat kedua kaki depannya dan mengeluarkan suara
keras-keras. Tapi Mang Engkap selalu berhasil mengendalikannya. Ia pun
mengajak ngobrol penumpangnya, yang mengaku kuliah di ITB.

Sesampainya di Taman Sari, kabut semakin tebal. Tiba-tiba Mang Engkap
samar-samar mendengar suara harimau mengaum dan bersamaan dengan itu kabut
menghilang. Mang Engkap tak mengerti kenapa daerah Taman Sari yang padat
penduduknya tersebut tiba-tiba menjadi sebuah taman yang sangat indah dan
asri.

Saya turun dulu ya Mang, kalau mau menunggu nanti ongkosnya saya tambah,
kata lelaki penumpangnya. Mulut kusir tersebut ternganga ketika menoleh
dan melihat kedua penumpangnya memakai pakaian kerajaan jaman dulu.

Ini adalah tamannya Prabu Siliwangi, raja Pajajaran. Saya dan Putri Nawang
Sari akan menghadap Rama Prabu. Tunggu dulu ya, kata lelaki tersebut
sambil membimbing tangan si perempuan. Anehnya ketika sampai di pinggir
sungai kedua orang tersebut berubah menjadi macan.

Mang Engkap segera mengangkat kedua telapak tangannya dan mengucapkan doa,
Ya Allah, saya mengucapkan terimakasih. Hanya dengan kekuasaan-Mu lah saya
bisa menyaksikan taman yang indah pada jaman kejayaan kerajaan Pajajaran
dulu.

Selesai mengucapkan doa, Mang Engkap menole ke belakang dan di tempat
duduk penumpang terdapa tiga lembar sepuluh ribuan. Diambilnya uang
tersebut dan berkata, Alhamdulillah. Putra-putri Pajajaran, nanti kalau
ada kabut tebal lagi, saya akan kemari. Barangkali saja kalian mau kembali
ke Gunung Batu [ing]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *