Monumen Multatuli #2

By | October 15, 2000

juga dari pak ihsan :

====

Kompas, Senin, 5 Juni 2000.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Ceramah Internasional Islam Versus Barat:
Bercermin Pada  Semangat Kemanusiaan Multatuli
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Acara Ceramah internasional bertema  Islam  versus  Barat  (Islam
versus het Western) digelar di Breda, Belanda, Jum’at pekan lalu.
Ceramah  ini  merupakan  rangkaian  dari  acara  tahunan  bernama
“Ceramah  Multatuli”,  yang  berlangsung  sejak  tahun  1996  dan
digelar bergantian di dua kota, Breda dan Leuven, Belgia.

TEMA  sentral  “Ceramah  Multatuli”  adalah  mencari  jalan  agar
kontak-kontak  antarbudaya  yang semakin kerap terjadi di seluruh
dunia  tidak   melahirkan   ancaman,   tapi   justru   memperkaya
masyarakat-masyarakat  dan  kebudayaan  yang  terlibat.  Tema ini
diambil dari semangat kemanusiaan tokoh  Multatuli  alias  Eduard
Douwes Dekker
***

PETANG  itu,  Imam  Farid  Esack,  ulama  dari  Kaapstad,  Afrika
Selatan,  berbicara dengan penuh semangat. Suara laki-laki tengah
baya, berkulit gelap, dan mengenakan topi haji  itu  menggema  ke
segenap  penjuru ruang dari abad pertengahan itu. Tak kurang dari
300  yang  hadir,  mayoritas  nonmuslim,  duduk  dengan   takzim,
berusaha menyimak setiap kata yang meluncur cepat dari mulutnya.

“Ini  peristiwa  luar  biasa.  Bagaimana   mungkin   saya   dapat
mengungkap berbagai kekeliruan bangsa-bangsa Barat terhadap Islam
dan mendapat tepuk tangan,” kata Esack usai berceramah dan  sibuk
meladeni   mereka  yang  menyalaminya  dan  melontarkan  berbagai
pertanyaan.

Kecuali seorang ulama,  Esack  juga  doktor  dan  guru  besar  di
Universitas  Kaapstad.  Esack  yang  sudah menulis sejumlah buku,
antara lain But  Moses  Went  to  Pharaoh,  juga  anggota  Komisi
Nasional Masalah Gender yang dipimpin Presiden Nelson Mandela.

Dalam ceramahnya yang berjudul “Islam,  Kaum  Muslim,  dan  Dunia
Barat”,  Esack antara lain mengutarakan, seperti halnya humanisme
Barat, Islam melihat dirinya sebagai suatu sistem keyakinan  yang
rasional yang selayaknya dijadikan pedoman hidup semua orang.

Islam juga merasa  dirinya  selalu  dipahami  secara  salah  oleh
Barat.  Sejak  dahulu  kala  Islam  tidak  pernah dilihat sebagai
sebuah peradaban. Masyarakat Islam  tak  pernah  dilihat  sebagai
kumpulan  manusia  yang  juga  berpikir  dengan akal sehat. Islam
selalu  dianggap  sebagai  ancaman  yang  harus  dihadapi  dengan
kekerasan. Perang Salib lahir dari pikiran semacam itu.

Sebagian umat Islam beranggapan  sampai  saat  ini  Perang  Salib
belum berakhir. Perang yang dilakukan negara-negara Barat melawan
Irak, kekerasan yang dilakukan pada kaum  muslim  di  Bosnia  dan
Chechnya,  serta masih terus diterapkannya sanksi terhadap Libya,
memberikan  kesan  pada  umat  Islam  bahwa  Perang  Salib  masih
berlangsung.

Selanjutnya Esack menyatakan, dalam  berbagai  dialog  Islam  dan
Dunia  Barat  tidak  berhadapan sebagai mitra yang setara. Bahkan
pemerintah-pemerintah Barat  tak  pernah  mempertimbangkan  Islam
sebagai  mitra  dialog. Sebab, dalam tradisi logika Barat, sistem
kenegaraan terpisah  dari  sistem  agama.  Sesuatu  yang  menurut
pandangan  Islam  bukan  saja  tidak  benar,  tetapi  juga  dalam
kenyataannya Barat masih terus saja mencoba  “menyadarkan”  pihak
lain   agar   menganut   keyakinan  mereka  yang  “obyektif”  dan
“rasional”.

Dunia barat selalu meneriakkan pentingnya pluralisme,  namun  hal
itu  sebenarnya pemanis belaka. Kata-kata itu lahir dari perasaan
terancam, misalnya karena adanya  gelombang  besar  kaum  imigran
gelap  yang  sudah berhasil membobol gerbang “benteng Eropa”. Apa
yang  lebih  banyak  terjadi   sebenarnya   adalah   intoleransi,
diskriminasi,  dan perlawanan. Ajakan untuk berdamai pun jadi tak
ada gunanya.

Apa yang diperlukan untuk menciptakan dunia yang lebih  adil  dan
manusiawi  bukan  hanya sekedar dialog antaragama dan kebudayaan,
tetapi solidaritas  kemanusiaan  yang  tak  mengenal  batas-batas
agama dan kebudayaan.

***

CERAMAH Farid Esack merupakan antitesis dari tesis yang  diajukan
Frits  Bolkestein yang tampil lebih dulu. Bolkestein adalah tokoh
politik  Belanda  yang  kini  menjadi   anggota   Komisi   Eropa.
Sebelumnya ia pernah menjadi Sekretaris Negara bidang Perdagangan
Luar Negeri, Menteri Pertahanan, dan Ketua  Partai  Rakyat  untuk
Kebebasan  dan  Demokrasi  (VVD,  Volkspartij   voor  Vrijheid en
Democratie), salah satu partai terbesar Belanda.

Pemisahan antara agama dan negara, salah satu  hal  yang  digugat
Esack,  menurut  Bolkestein  terjadi  setelah bangsa-bangsa Eropa
melakoni sejarah panjang yang  bersimbah  darah.   Keyakinan  itu
muncul sebagai reaksi setelah terjadinya serangkaian perang agama
antara umat Katolik dan Protestan di zaman Reformasi.  Perang  30
tahun  yang  terjadi  pada  masa  itu,  misalnya telah menewaskan
sepertiga penduduk negeri yang kini bernama Jerman.   Penderitaan
manusia akibat perang agama itu hingga kini sulit dibayangkan.

“Dialog dengan pihak  lain  yang  tidak  memahami  bahwa  prinsip
pemisahan  antara  negara  dan agama sebagai sebuah hasil penting
dalam  perjalanan   sejarah   bangsa-bangsa   Barat,   tak   akan
menghasilkan  apa-apa,” ujar Bolkestein. Keyakinan itu bukan lagi
suatu hal yang bisa ditawar-tawar. Pertemuan  dengan  pihak  lain
dapat membuka dan mewajibkan kita mempertimbangkan berbagai nilai
budaya yang berbeda-beda.

Hal sama  juga  berlaku  bagi  sejumlah  prinsip  lainnya,  yakni
kebebasan menyatakan pendapat, menghormati hak-hak asasi manusia,
serta antidiskriminasi. Secara bersama-sama prinsip-prinsip  yang
menjadi keyakinan politik bangsa-bangsa Barat itu merupakan hasil
kombinasi antara rasionalisme, ajaran  Kristiani,  dan  humanisme
Barat.  Inilah  yang disebut sebagai paham demokrasi-liberal yang
diklaim berlaku secara universal.

Adalah tidak adil memaksakan pihak lain  berpikir  dan  melakukan
tentang sesuatu yang bertentangan dengan keyakinannya yang paling
dalam. Karena itu dialog ini tidak berkaitan dengan hal-hal  yang
kurang  penting  dan  pendapat-pendapat  yang  bersifat  relatif,
tetapi berkaitan dengan hal-hal yang memiliki nilai paling tinggi
dan bersifat universal yang ada dalam kebudayaan kita.

Untuk terus meningkatkan sikap peduli antaragama dan  kebudayaan,
dialog,  pembicaraan,  dan  pertemuan  harus dilakukan. Kegiatan-
kegiatan semacam itu akan membawa  semua  pihak  pada  pengenalan
lebih  dalam  mengenai  diri  sendiri dan menolak berbagai bentuk
ketidakpedulian pada relativisme moral dan kultural.

***

DALAM beberapa tahun terakhir, di berbagai  negara  Eropa,  Islam
sudah berkembang menjadi agama terbesar kedua setelah Kristen dan
menjadi agama dengan kemungkinan perkembangan terbesar. Di negeri
Belanda   yang   berpenduduk   sekitar   15   juta  jiwa,  bahkan
diperkirakan dalam waktu 10 tahun ke  depan  jumlah  kaum  muslim
sudah akan menyamai jumlah penganut agama Kristen.

Menurut Prof Dr  Marie-Claire  Foblets,  guru  besar  antropologi
sosial  dari Universitas Katolik Leuven, kecenderungan demografis
ini melahirkan berbagai sikap dalam  masyarakat  Barat.  Sebagian
memandangnya  secara  optimis,  namun ada pula yang menanggapinya
secara skeptis  dan  mempertanyakan  bagaimana  nasib  masyarakat
Barat    di    masa    depan   serta   kelestarian   nilai-nilai
fundamentalnya. Berbagai diskusi yang terjadi, antara  lain  lewa
media  massa,  penuh  dengan  muatan emosi dan mengkonfrontasikan
Islam dan Barat secara diametral.

Sebagai pembicara terakhir dalam acara  Ceramah  Multatuli  ke-5,
Foblets  menyampaikan  sintesa yang membulatkan acara ceramah. Ia
yang juga seorang pakar hukum,  melihat  persoalan  yang  ada  di
antara  Islam  dan  Dunia  Barat  melalui  gejala yang terjadi di
bidang hukum dan peradilan.

Menurut Foblets, selama lebih 20 tahun, lembaga-lembaga peradilan
di   berbagai  negara  Eropa  sebenarnya  sudah  biasa  menangani
berbagai kasus hukum yang melibatkan  warga  beragama  Islam  dan
bersinggungan   dengan   nilai-nilai   dan  aturan-aturan  Islam.
Misalnya saja kasus-kasus pelarangan berjilbab  di  sekolah  bagi
murid-murid  perempuan;  pekerja  tidak diizinkan libur pada hari
raya Islam; sampai kasus-kasus poligami.

Dalam sejumlah kasus, seperti kasus  persengketaan  soal  jilbab,
untuk  mengambil keputusan hakim tak hanya mengikuti aturan hukum
terakhir atau  ketetapan  pemerintah  yang  berlaku,  namun  juga
mempertimbangkan  prinsip kebebasan beragama. Namun, dalam kasus-
kasus lain yang jelas-jelas tak sejalan dengan nilai-nilai Barat,
seperti  kasus-kasus  poligami,  para  hakim  menarik garis tegas
antara hukum negara dan hukum Islam.

Kasus-kasus hukum yang melibatkan warga  beragama  Islam  dan  di
mana  nilai-nilai  budaya  Islam ikut dijadikan bahan perdebatan,
melahirkan inovasi-inovasi baru di bidang hukum  di  antara  para
hakim  yang  menanganinya. Untuk mengambil keputusan dalam kasus-
kasus ini para ahli hukum kadang-kadang meminta nasihat dulu pada
para Islamolog atau pakar hukum Islam.

Menurut Foblets,  peradilan  pada  dasarnya  bersifat  kasuistik.
Namun,  keputusan-keputusan hukum yang diambil di sana sebenarnya
menggambarkan  juga  proses   yang   tengah   berlangsung   dalam
masyarakat umumnya.

Keputusan para hakim selama 25 tahun terakhir menunjukkan  nilai-
nilai  agama  dan  hukum Islam cukup mendapat tempat dalam sistem
hukum  dan  peradilan  Eropa.   Keputusan-keputusan   itu   untuk
selanjutnya  menjadi  contoh penyelesaian berbagai dilema praktis
mau pun moral yang timbul akibat berkembangnya  kepentingan  umat
Islam  di  Eropa dan makin meningkatnya tuntutan dari kaum Muslim
agar hukum agama mereka juga dihormati.

***

Di daratan Eropa, dialog antara Islam dan Dunia  Barat  tampaknya
akan  terus  bergulir  dalam berbagai format. Substansinya tetap,
mencari titik-titik temu di antara dua peradaban besar itu,  agar
para  pendukungnya  dapat  terus  bergandengan tangan dan bekerja
sama untuk meraih masa depan yang lebih cemerlang.  Bangsa-bangsa
Barat  sendiri  jelas  tak  mau  negeri-negeri mereka yang makmur
kembali bersimbah darah gara-gara perang bernuansa ras dan agama,
seperti yang kini masih terjadi di berbagai tempat lain di dunia,
termasuk di Maluku.

Untuk mengingatkan betapa penyalahgunaan kekuasaan bisa berakibat
amat  buruk  dalam hubungan antarmanusia dari berbagai kebudayaan
dan agama, dalam salah satu bagian ceramahnya,  Frits  Bolkestein
merasa   perlu  menyebut  kembali  nama  Multatuli  dan  semangat
kemanusiaannya  yang  antara  lain  dikobarkan  lewat  novel  Max
Havelaar,  buah  catatan  dan  perenungannya selama masa tugasnya
yang singkat sebagai asisten residen  di  Lebak,  Banten,  Hindia
Belanda, lebih dari seabad lalu.

“Bisa dikutip di sini salah satu dari  surat-surat  Max  Havelaar
pada para penguasa Hindia Belanda, surat-surat di mana ia meminta
perhatian  para  pembesar   atasannya   mengenai   penyalahgunaan
kekuasaan para regent pribumi di Lebak”.

Sebagaimana kita ketahui, tujuan tulisan Multatuli  adalah  untuk
menunjukkan  betapa  struktur  pemerintahan  gubernemen  baik  di
Hindia Belanda maupun di Den Haag sama sekali tak peduli terhadap
penderitaan  rakyat  Jawa,”  begitu  kata  Bolkestein  yang belum
pernah ke Jawa, apalagi  ke  Lebak,  tempat  Multatuli  menemukan
inspirasi kemanusiaannya.

#### akhir dokumen ####

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *