Monumen Multatuli #1

By | October 15, 2000

dari pak ihsan ūüôā

====

—————————————–
Date   : Tue, 10 Oct 2000 21:04:17
From   : Basuki Suhardiman
To     : itb@itb.ac.id
Subject: Pramoedya Ananta Toer: Multatuli
Sebuah Kenangan (fwd)
—————————————–

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Multatuli, Sebuah Kenangan Pramoedya Ananta Toer
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Multatuli? Ya, kapan nama  itu  pernah  kudengar?  Jauh  di  masa
lewat. Semasa kanak-kanak. Aneh kedengarannya.

Tapi kombinasi bunyi dalam namanya membuat  aku  terus  teringat.
Soalnya  bukan sekali-dua disebut-sebut di rumah oleh para pemuda
yang sering datang berkumpul, bermain, dan berdiskusi. Lebih dari
namanya yang aneh aku tak tahu sesuatu.

Di rumah kami  terdapat  perpustakaan  yang  cukup  besar,  untuk
ukuran  kota  kecil,  dalam  keadaan  tak  terawat, bahkan selalu
berantakan. Ayahku, seorang pemilik akte  untuk  mengajar  bahasa
Belanda  tingkat  sekolah rendah, suka memborong buku dan majalah
dari rumah para pejabat Belanda  yang  dilelang  barang-barangnya
menghadapi kepindahan. Dia tidak pernah mendongeng padaku tentang
Multatuli, biar pun dalam perpustakaan  terdapat  beberapa  jilid
karyanya.  Ibuku, yang menelan buku Belanda dan Melayu Рia tidak
membaca Jawa – juga tidak pernah.

Awal  tahun  1930-an  rumah  kami  menjadi  pusat  kegiatan  para
nasionalis  kiri non-koperator. Para pemuda yang berbakat melukis
muali membikin lukisan dengan cat, dijajarkan  sepanjang  dinding
rumah.  Setiap  di  antara kanak-kanak dapat membaca nama-nama di
bawahnya: Rasuna Said, Diponegoro, Alibasah Sentot  Prawirodirjo,
Soekarno,  Sartono,  Gatot  Mangkupraja,  Iwa  Kusumasumantri, Ki
Hadjar Dewantara, Tjipto Mangunkusumo.

Tapi  Multatuli?  Tidak  melalui  lukisan,  juga  tidak   melalui
dongengan di rumah. Di tempat lain aku diperkenalkan kepadanya.

Masih awal tahun 1930-an itu, KBI  (Kepanduan  Bangsa  Indonesia)
tempat  kami mengangkat aku jadi wakil ketua regu nomor kesekian.
Bukan karena ada prestasiku dalam kepanduan. Hanya karena  ayahku
seorang tetua KBI yang dengan beberapa orang lainnya, dalam suatu
malam api unggun telah melakukan sumpah  sambil  memegangi  ujung
sang  merah-putih. Atau hanya karena ayahku seorang non-koperator
sejak 1923.

Sebagai wakil kepala regu setiap Rabu sore kami  harus  berkumpul
di  suatu  ruangan  sekolah  Budi Utomo untuk mendapat bimbingan.
Didongengkan tentang riwayat gambar-gambar di rumah. Ditambah dua
nama  lagi:  S.K.  Trimurti,  yang  juga  sering diceritakan oleh
ibuku. Dan: Multatuli. Begitu tahu orang yang  bernama  Multatuli
itu  orang  Belanda  dan  pejabat  tinggi  pangreh praja pula aku
terperangah dan mengambil sikap. Tidak lagi  sebagai  anak  didik
yang  patah,  sudah jadi opposan. Ya, sebelum lagi aku dilahirkan
udara  rumah  kami  telah  dibuntingi  oleh  kebencian   terhadap
penjajahan.   Segala  yang  buruk,  keji,  biadab,  berasal  dari
penjajahan. Belandalah wakil  penjajahan  itu.   Secara  langsung
atau  tidak  orangtuaku mengajar kami membencinya. Kami muak pada
serdadu  kolonial,  kami  jijik  terhadap  polisinya,  dan   kami
memandang rendah pegawai-negerinya.

Mana mungkin ada orang Belanda yang baik? Beberapa  kali  kulihat
sendiri  seorang  polisi  Belanda  menendangi  para  penjual  dan
bakulnya yang  menjual  barang-barangnya  di  luar  pasar.  Hanya
karena menghindari pajak pasar.  Berapa harga dagangannya? Paling
banyak senilai duapuluh lima sen. Dendam itu kami lepaskan berdua
waktu  memapasi  seorang  agen  polisi yang masih muda berkendara
sepeda seorang diri di jalanan senyap  siang  hari.  Berdua  kami
melemparinya   dengan   batu  dan  menyumpahi:  anjing!  khianat!
kemudian hambur melarikan diri menuruni jalan kecil tebing sungai
yang tak mungkin bisa tersusul dengan sepedanya.

Pada  hari-hari  tertentu  serombongan  polisi  lapangan   (veld-
politie)  dengan bedilnya melalui depan rumah kami untuk pergi ke
luar kota latihan menembak.  Sudah kutaksir pohon kapok  tetangga
untuk  memasang ujung tali. Bila rombongan polisi lapangan lewat,
ujung  tali  dari  seberang  jalan  akan  kutarik.  Mereka   akan
melanggarnya  dan  akan jatuh susun-tindih bergelimpangan. Sayang
mereka hanya berangkat  pagi  bila  latihan,  tak  pernah  malam.
Rencana itu tak pernah terlaksana.

Pernah kusaksikan sendiri seorang mantri polisi datang ke sekolah
dan  merampas  buku-buku  karangan ayahku. Pernah kulihat sendiri
bagaimana pegawai-pegawai pajak mengangkuti  perabot  rumah  yang
terbagus  dari  rumah  kami,  sehingga yang tinggal hanya barang-
barang buruk dan perasaan tersinggung telah dipermalukan di depan
umum.

Semua sumbernya tak lain dari kekuasaan Belanda. Mulatuli?  Orang
Belanda?   Dia  takkan  lebih dari yang lain-lain. Dan tidak lain
dari  ayahku  sendiri  yang  di  sekolah  menceritakan  bagaimana
Diponegoro  ditipu oleh Jendral de Kock, diundang berunding, tapi
kenyataannya ditangkap dan dibuang.

Hari-hari riuh  itu  padam.  Tak  ada  lukisan-lukisan,  tak  ada
nyanyian  mengagungkan  Indonesia  Raya,  tak  ada  suara bersama
menyambut terbitnya bangsa baru di timur. Apalagi Multatuli.  Tak
ada yang menyebut-nyebutnya lagi.

Dalam perayaan  tahunan  sekolahan  sekarang  muncul  hanya  satu
lukisan:   Pak  Tom.  Dr.  Soetomo.  Ya,  sekolahan  kami  memang
didirikan olehnya pada 1918, ia meninggalkan bangunan  dua  kelas
sebelum dikembangkan  oleh  ayahku  menjadi 7 kelas. Dalam tahun-
tahun tenang itu, aku sudah  duduk  di  kelas  6,  beberapa  guru
tertentu   memberikan   pengetahuan   umum  ekstra  kurikuler  di
sore hari. Di antaranya  tentang  Multatuli. Tentu  saja  tentang
peristiwa  Lebak.  Tentu saja tentang Saija dan Adinda. Sementara
itu sejumlah orang muda di kota kami  mempelajari  bahasa  Jepang
melalui   diktat   stensilan   yang  dikeluarkan  oleh  Instituut
Ksatrian, Bandung,  yang  dipimpin  oleh  E.F.E.  Douwes  Dekker.
Rupa-rupanya  masa  ini  dipertautkan  nama  Multatuli, E. Douwes
Dekker, E.F.E. Douwes Dekker oleh diktat tersebut. Dan pengembara
an nama Multatuli menjadi semakin luas.

Juli 1941. Suatu kegemparan keluarga. Asisten Residen Р aku  tak
ingat namanya – memanggil ayahku. Dapat dibayangkan: bencana baru
akan menimpa keluarga kami.  Tak  ada  sesuatu  yang  baik  dapat
diharapkan  dari  Belanda  dan  penjajahannya. Yang terjadi lebih
menggemparkan: ayah diminta kembali mengajar di  HIS  setelah  18
tahun  menjadi  non-koperator.  Sampai  jauh  di  kemudian  hari,
sebelum  tahu  tentang  adanya   liga   atau   front   anti-fasis
internasional  dan pendekatan kerjasama anti-fasis antara bangsa-
bangsa penjajah dan yang terjajah,  aku  malu  melihat  perbuatan
ayahku,  dan  tidak  mampu  mengampuninya.  Sekali pun dalam hati
mulai  percaya  ada  Belanda  yang  baik,  berbudi,  dalam   diri
Multatuli.

Dengan cepatnya keadaan berubah. Jepang  datang.  Aku  pindah  ke
Jakarta.   Seorang teman sekolah, yang tinggal di kios buku bekas
bernama “Indonesia Sekarang” membuat aku sering ¬†datang ¬†ke ¬†kios
itu.  Penuh  buku Barat dari rumah-rumah orang Belanda yang masuk
ke  tawanan.  Di  situ  aku  mulai  berkenalan  langsung   dengan
Multatuli.  Bukan  Multatuli yang didongengkan, tetapi tulisannya
dengan bahasanya yang a lot. Ya, sekedar berkenalan saja.

Guru bahasa  Indonesia,  Mara  Sutan,  memperkenalkan  kami  pada
sejumlah  pengetahuan  baru ekstra kurikuler, dari Sokrates, Imam
Sjafei Kayutanam, sampai  Multatuli.  Dialah  yang  membikin  aku
setiap   hari  Minggu  nongkrong  di  perpustakaan  Musium  Gajah
membacai  koran  dan  majalah  lama.  Dari   bacaan   itu   dapat
kusimpulkan:    semua    nasionalis   barisan   terdepan   pernah
mempelajari, bukan sekadar membaca, Multatuli. Dia  tonggak  awal
dalam  sejarah  Indonesia yang menampilkan seseorang yang membela
rakyat kecil dari kejahatan cultuurstelsel klasik van den  Bosch.
Yang  memberikan  keberanian,  kelugasan,  kecerahan,  dan  hidup
mudanya  pada  perlawanan  terhadap  kerakusan  para  pembesarnya
sendiri,  para  pembesar  sebangsa  sendiri. Yang memberitahukan,
bahwa sampai Raja Belanda pun, dapat dihimbau, bahwa kepala desa,
kepala   distrik   sampai   Gubernur  Jendral  bukan  pagar-pagar
kekuasaan yang tak tertembusi oleh daya tulisan dan  daya  cetak.
Dia yang mengajarkan bagaimana tumbuh, berkembang, lurus ke atas,
dengan integritas tetap utuh, tidak mondar-mandir  dan  berpusing
dalam lingkaran setan.

Tahun 1950-an mulai kukumpulkan  tulisan-tulisan  semasa  tentang
dia.  Paling  banyak menyebutnya adalah Buyung Saleh. Dalam kurun
1950-an itu juga Han Resink  pernah  mengejuti  aku  dengan  satu
penilaian. Itu terjadi di rumahnya pada suatu sore:

“Sastra Jawa dan sastra Indonesia belum pernah melahirkan ¬†cerita
percintaan  dari  kalangan rakyat jelata. Orang pertama di negeri
ini yang pernah menuliskannya, dan bukan tidak berhasil, tak lain
dari Multatuli dengan Saija dan Adinda.”

Masih tentang cerita percintaan ia mengakui, sastra  Jawa  pernah
melahirkan  karya  agung.  Seorang  gadis  rakyat bawah memprotes
dengan hidupnya  pada  feodal  yang  justru  sedang  pada  puncak
kejayaannya.   Gadis   itu  adalah  Roro  Mendut.  Tetapi  cerita
percintaan antara  gadis  dan  perjaka  dari  kalangan  tani?  Ia
menggeleng.

Ya, Saija dan Adinda  dan  pidato  Lebak  lebih  meluas  daripada
karya-karya Multatuli selebihnya dalam kurun ini.

Seorang pelukis Lekra, yang telah membacai Multatuli  sejak  masa
kolonial, S., sampai tahun itu masih terpaut hanya pada Saija dan
Adinda.  Pembicaraannya sekali ini ia batasi  pada  pemberontakan
Lampung.

“Kalau Saija atau Adinda, atau siapa saja di ¬†antara ¬†kita ¬†waktu
itu,  melemparkan  tombaknya  atau  mengayunkan  parangnya,  yang
pertama atau yang ke  sekian,  itu  merupakan  peristiwa  budaya.
Karena  pembatasan  budaya yang menyebabkannya berbuat yang tidak
berbudaya. Pembatasan sosial, ekonomi dan politik,  untuk  jangka
waktu  tertentu  masih  bisa  ditenggang.  Itu sebabnya Saija dan
Adinda berada di Lampung, sudah meninggalkan Banten,  suatu  masa
tenggang.  Kalau  Kompeni  melepaskan tembakan untuk pertama atau
kesekian kali, itu untuk intensivikasi  atau  ekspansi  kekuasaan
sosial,   politik   dan  ekonominya,  untuk  dominasi  budayanya.
Pemberontakan Lampung bukan sekadar peristiwa militer.  Sepanjang
sejarah  kemiliteran  menempati  kedudukan  yang  kesekian  dalam
kehidupan manusia. Budaya, pernyataan manusia sebagai makhluk.”

Ia tak pernah sempat mengembangkan  pikirannya,  karena  lukisan-
lukisannya  belum  mampu  menghidupinya.  Masyarakat  lebih sibuk
mencari sesuap nasi daripada memajang dindingnya dengan lukisan.

Dalam periode ini  jilid  demi  jilid  kumpulan  karya  Multatuli
terbit.   Makin  berhamburan  dengan  Latin,  huruf  Yunani,  dan
persoalan-persoalan yang makin alot.

Saija dan Adinda telah  dibikin  cerita  panggung  oleh  beberapa
orang   dan  dipentaskan  di  panggung  umum,  di  sekolahan,  di
lingkaran-lingkaran pemuda.   Untuk  Indonesia  Multatuli  adalah
Saija dan Adinda.

Mengingat bahwa Multatuli  dengan  pengaruhnya  yang  konstruktif
telah berjasa dalam memberikan suluh pada para nasionalis barisan
depan maka dalam 1959, dalam sidang para Ketua Komite  Perdamaian
Pusat,  kuajukan usul untuk mengadakan peringatan ulang tahun 140
tahun Mutaltuli  secara  nasional  dan  mendirikan  patungnya  di
tempat-tempat  ia  pernah  membikin  sejarah. Ya, tentu saja usul
diterima dengan aklamasi. Dan diharapkan dariku  memberikan  pada
dewan   materi   tentangnya.   Tulisan-tulisan  tentangnya  dalam
koleksiku kuserahkan untuk diperbanyak. Delegasi  pun  terbentuk.
Mereka menghadap Presiden Soekarno. Hasilnya?

Seorang anggota delegasi datang ke rumah untuk melapor. Ia  duduk
sambil menghembuskan nafas. Ya? Sapaku. Dan ia meringis. Ternyata
Bung Karno tidak menjawab.

“Apa katanya?

“Bung Karno justru ¬†yang ¬†bertanya: ¬†mengapa ¬†Multatuli? ¬†Mengapa
tidak Baars? ¬†Tidak Sneevliet?”

Dengan demikian  patung  Multatuli  belum  pernah  berdiri.  Yang
didirikan  justru patung Kartini, bikinan pematung Jepang, dengan
penampilan sebagai  peragawati.  Walau  waktu  hidupnya  angkatan
Kartini  belum  mengenal  kantong  dada,  KD  atau katakanlah BH,
Kartini peragawati nampak-nampaknya sudah mengenakan. Tapi  bukan
itu  keberatanku.  Walikota  memanggil.  Rupanya  ia  membutuhkan
kupingku untuk dapat ditiup dengan kata-katanya:

“Nah, bagaimana? Itu kan ¬†hadiah ¬†dari ¬†orang ¬†asing. ¬†Apa ¬†harus
ditolak?”

Dia tidak bicara tentang Multatuli, sekali  pun  dia  tahu,  juga
Multatuli punya saham menentukan dalam proses penjadian Kartini.

Pada 1964 LEKRA mendirikan Akademi Sastra Multatuli.  Tentu  saja
aku  ikut  mendapat  kehormatan  menjadi  salah  seorang pendiri.
Hampir tepat setahun kemudian Akademi itu runtuh untuk  selamanya
bersamaan   dengan   runtuhnya  Presiden  Soekarno.  Namun  tidak
mengurangi kenyataan, di bidang  sastra  Multatuli  oleh  jajaran
organisasi kebudayaan rakyat ini dianggap sebagai guru besar. Dan
memang  LEKRA  sebelum   dijatuhkannya   Soekarno   yang   banyak
memperkenalkan Multatuli di Indonesia. Ia dinilai sebagai humanis
besar,  bukan  saja  mengenal  kolonialisme  dan  wataknya,  juga
mengenal    rakyat    jajahan,    dan    lebih-lebih   menghayati
keterbatasannya  dalam  penghidupan,   dalam   berbudaya,   dalam
berlawan, bahkan dalam bercinta.

Sewaktu di Buru, seorang teman yang baru pulang  dari  kerjapaksa
di  pelabuhan membawa sesobek kertas, diberikannya padaku sebagai
oleh-oleh.   Sensor  telah  tidak  meloloskan  produksi   bersama
Indonesia-Belanda  film  Mutatuli. Alasan: karena orang Indonesia
(semasa Multatuli belum ada orang Indonesia!)  ditampilkan  lebih
jahat  daripada  orang  Belanda.  Siapa  tidak  dibikin terkekeh,
lagi-lagi bertemu dengan kemulukan domestik sisa  warisan  bangsa
terasing?  Diberitakan  juga  tentang  kekecewaan  pihak Belanda.
Tentu   saja.   Setidak-tidaknya    itu    kekecewaan    sejumlah
pribadi, paling-paling  kekecewaan grup  atau golongan. Sumbernya
masih tetap: orang belum bisa melihat Indonesia  sebagai  pewaris
kolonialisme  Belanda,  paling  tidak  di  bidang  teritorial dan
infrastrukturnya, bahkan dalam sejumlah struktur.   Apa  salahnya
kalau  juga  jadi pewaris syah di bidang mentalitas kolonial? Kan
mentalitas itu juga yang  menolak  dan  membuang  Multatuli?  Apa
salahnya  kalau  filmnya pun ditolak? Kan Indonesia tidak mungkin
ada tanpa kolonialisme Belanda?

Sekembali dari Buru nampaknya masalah penolakan sensor itu  tetap
hidup.   Beberapa  kali orang mengajak bicara tentangnya. Seorang
malah menyatakan ikut terlibat dalam  pembikinan  film  tersebut.
Tapi  tak seorang pun pernah mengatakan, bahwa kemulukan domestik
juga memerlukan penghormatan.

Sementara itu publikasi tentang dan dari Multatuli semakin banyak
di  Indonesia. ia juga diperkenalkan secara kurikuler di sekolah-
sekolah dasar.  Multatuli dalam film tetap menyinggung  kemulukan
domestik, karena dalam banjir produski teknologi mutakhir – lebih
menggelora dari banjir akibat penggundulan hutan, ia tetap produk
domestik yang asli.

Jenuh  kemulukan  membuat   orang   rindu   pada   kesederhanaan,
kelugasan.   Dalam   hubungan   dengan  Multatuli,  membikin  aku
terkenang  pada  suatu  kali  di   Warsawa.   Seorang   Polandia,
pengarang,  bercerita  padaku,  dia  mengenal  Indonesia  melalui
seorang bocah kampung yang bersahabat dengan kerbaunya.  Di  atas
punggung sahabatnya itu seekor macan menyerang dan kerbau sahabat
itu melindunginya. Itulah Indonesia yang dikenalnya.  Dan  heran,
ia  tidak kenal Multatuli, sekali pun membicarakannya. Adegan ini
sudah kudengar, keketahui sejak  kecil.  Seperti  orang  Polandia
itu,  juga tanpa mengenal namanya.  Entah berapa ribu bocah dalam
setiap angkatan kembali mendengar dan  menceritakan  adegan  itu,
atau mewujudkan dalam buku gambarnya. Mereka mendengar, bercerita
dan menggambar Multatuli, tanpa pernah mengenal namanya.

### Jakarta, April 1986 ###########

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *