JIT

By | August 9, 2000

ada fwd menarik dari pak ihsan, yg berasal dari pak mohammad syarwani. errr..ini ttg JIT yg banyak diterapkan oleh pabrikan Jepang. silahkan.

=====
——————————————
SISTEM PRODUKSI TEPAT WAKTU (Just In Time)
——————————————

SISTEM PRODUKSI BARAT

Sistem produksi yang paling banyak dipakai saat ini  adalah  yang
berasal  dari Eropa dan Amerika. Sistem produksi tersebut dikenal
sebagai sistem produksi western. Ciri-ciri dari  sistem  produksi
ini antara lain :

<>  melakukan peramalan dalam menentukan  kuantitas  produksi
melakukan optimasi-optimasi dalam  penjadwalan produksi,
penentuan kebutuhan bahan, penentuan kebutuhan mesin,
pekerja, dll.

<>  terdapatnya departemen pengendalian kualitas, terdapatnya
gudang receiver dan gudang warehouse sebagai penyimpan
inventory.

<>  dll.

Secara garis  besarnya  adalah  masih  terdapatnya  unsur-  unsur
probabilistik  dalam  melakukan  keputusan  untuk masalah-masalah
sistem produksi. Filosofi  dasar  dari  sistem  produksi  western
adalah  bagaimana mengoptimalkan unsur-unsur sistem produksi yang
tersedia. Hal ini memungkinkan karena negara-negara  barat  masih
memiliki resourcess yang cukup banyak.

Pada  tahun  1970-an  terjadi  krisis  minyak  bumi  yang  sangat
mempengaruhi  industri-industri  barat sebagai consumer terbesar.
Sedangkan Jepang tidak begitu terpengaruh krisis tersebut  karena
Jepang  sudah  biasa hemat dalam menggunakan resources  khususnya
minyak  bumi.   Akibatnya   industri-industri   barat   mengalami
kemerosotan sedangkan Jepang justru mulai muncul.

Pada tahun  1980-an  sistem  produksi  jepang  mulai  menunjukkan
keunggulan-keunggulannya   sedangkan   barat  justru  baru  mulai
merekonstruksi  dan  merestrukturisasi  sistem  produksinya  baik
melalui teknik-teknik produksinya maupun manajemennya. Pada tahun
1990-an Jepang nampak  berkembang  pesat  dan  jauh  meninggalkan
Eropa ataupun Amerika.

SISTEM PRODUKSI JEPANG

Sistem  produksi  Jepang  dikenal  dengan  nama  Sistem  Produksi
Tepat-Waktu  (Just  In Time). Filosofi dasar dari sistem produksi
jepang (JIT)  adalah  memperkecil  ke  mubadziran  (Eliminate  of
Waste). Bentuk kemubadziran antara lain adalah :

(*)     kemubadziran dalam waktu  misalnya  :  ada  pekerja  yang
menganggur  (idle  time),  mesin yang menganggur, waktu transport
dalam pabrik tidak efisien, jadwal produksi yang tidak  ditepati,
keterlambatan  material,  lintasan  produksi  yang tidak seimbang
sehingga terjadi  bottle-neck,  terlambatnya  pengiriman  barang,
banyak-nya karyawan yang absen, dsb.

(*)     kemubadziran dalam material  misalnya  :  terlalu  banyak
buangan  (scraps,  chips)  akibat proses produksi, banyak terjadi
kerusakan material atau material dalam proses, banyaknya material
yang  hilang,  material  yang  usang, nilai material yang menurun
akibat terlalu lama disimpan, dll.

(*)     kemubadziran dalam manajemen misalnya  :  terlalu  banyak
karyawan  kantor,  banyak terjadi mis-informasi antar departemen,
banyaknya overlapping dalam  penugasan,  pelaksanaan  tugas  yang
tidak  efektif,  sulit  dalam  koordinasi,  dll. Jepang melakukan
eliminate of waste  karena  jepang  tidak  punya  resources  yang
cukup. Jadi dalam setiap melakukan pengambilan keputusan terutama
untuk masalah produksi selalu menganut kepada prinsip  efisiensi,
efektifitas dan produktivitas.

Untuk  dapat  melaksanakan  eliminate  waste   Jepang   melakukan
strategi sebagai berikut :

1.  hanya memproduksi jenis produk yang diperlukan
2.  hanya memproduksi produk sejumlah yang dibutuhkan
3.  hanya memproduksi produk pada saat diperlukan.

Tujuan  utama  dari  sistem  produksi  JIT  adalah  untuk   dapat
memproduksi  produk  dengan  Kualitas  (quality)  terbaik, Ongkos
(cost) termurah, dan Pengiriman (delivery) pada saat yang  tepat,
disingkat  QCD.  Tujuan  utama ini bisa dicapai jika ketiga unsur
berikut dapat dilaksanakan secara terpadu, yaitu:

<1> melakukan pengendalian kuantitas  dengan  baik.  Untuk  dapat
menentukan  kuantitas yang tepat maka diperlukan sistem informasi
yang baik. Sistem informasi untuk memproses  produk  tersebut  di
Jepang   dikenal   dengan   istilah   Kanban   (kartu  berjalan).
Pelaksanakan pengendalian kuantitas  akan  berjalan  dengan  baik
jika  didukung  oleh  suplier  dan  consumer yang pasti dan tepat
waktu.  Jika  hal  ini  dapat  dilakukan  maka  kita  akan  dapat
mengeliminir waste dalam material sehingga konsep Zerro Inventory
dapat dilaksanakan.

<2> melakukan pengendalian kualitas dengan baik. Dalam  melakukan
pengendalian kualitas di Jepang dikenal dengan istilah TQC (total
quality circle).  Tujuannya adalah untuk  dapat  memenuhi  konsep
Zerro  Defect.  Didalam  sistem  produksi  di  jepang  tidak  ada
departemen pengendalian kualitas, tetapi yang ada adalah  Quality
Assurance  (jaminan  kualitas). Konsep zerro defect tersebut akan
dapat berjalan dengan baik jika para  pekerja  diberi  Kewenangan
(otonomi),  agar tidak memberikan hasil produk yang tidak baik ke
rekan  kerja  berikutnya  sehingga  tidak   menyusahkan   pekerja
lainnya.

<3> menjunjung tinggi harkat kemanusiaan karyawan. Didalam sistem
produksi  dikenal  5  faktor  produksi yang penting agar produksi
dapat berjalan dengan baik yang dikenal dengan  istilah  Lima  M,
yaitu  :  Man,  Machine,  Material,  Money, dan Method. JIT tidak
ingin menganggap Man hanya sebagai  salah  satu  faktor  produksi
saja,  tetapi  lebih  dari  itu  yakni  ingin  mengangkat  harkat
karyawan sehingga karyawan  terse-but  merasa  memiliki  sebagian
dari perusahaan. Untuk dapat melakukan ini ada 3 cara, yaitu :

a. Otonomi (kewenangan).

Karena  karyawan  sebagai  pelaku  dan  penentu  dalam  proses
produksi   maka   perlu   kewenangan   sehingga  dapat  mengambil
keputusan-keputusan sesuai dengan  batasan  tugas  dan  tanggung-
jawabnya.

b. Flexibility

Karyawan  perlu  mengetahui  dan  bisa  melakukan   pekerjaan-
pekerjaan  lain diluar pekerjaannya. Hal ini dilakukan agar dapat
mengurangi kebosanan (boredom) atau kejenuhan dan dapat melakukan
subtitusi  kerja  lainnya jika karyawan yang ber-sangkutan absen.
Ditinjau dari segi  manajemen  adalah  menguntungkan  dalam  segi
pengkoordinasian    karena    setiap   karyawan   mengerti   akan
keterkaitan-nya dan tugas-tugas rekan kerjanya yang lain.  Dengan
cara  tersebut  akan  didapat  karyawan  yang  Multifungsi.  Jika
karyawan diarahkan kepada pekerjaan  yang  bersifat  Spesialisasi
saja  maka  akan  muncul hal-hal negatif antara lain adalah susah
dalam mengkoordinasi karena timbulnya blok-blok atau  pengkotakan
antar  job-nya masing-masing, tidak ada sifat gotong-royong dalam
bekerja, antara karyawan tidak ada sifat kepedulian, dll.

c. Creativity

Jika wewenang,  tanggung-jawab,  job,  dan  flexibility  sudah
dimiliki  setiap  karyawan  tetapi  kreativitas belum tersalurkan
maka  akan  muncul  kejengkelan  atau  unek-unek  dari   karyawan
tersebut.  Untuk  itu  perlu  adanya penyaluran kretivitas apakah
dalam bentuk  Urun  rembug,  brainstorming,  atau  yang  lainnya.
Dengan  demikian  akan  terbentuk  suatu  Demokrasi  dalam sistem
produksi.

JIT sebenarnya berakar pada ilmu-ilmu barat. JIT  dapat  berjalan
dan  berhasil  di  Jepang karena didukung oleh budaya jepang yang
sesuai. Jadi secara  tidak  langsung  Jepang  dapat  memilih  dan
membudidayakan  budaya  asing  yang  baik  untuk  disesuaikan dan
dikembangkan menjadi budayanya.

—= oOo =—

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *