Akar Bambu

By | October 12, 2017

Pas lagi sarapan somewhere di bali, kok warung ini punya pajangan aneh. Akar bambu unfinished, apa adanya. Nampaknya tidak dijual.

Kenapa yakin tidak dijual ? Warung ini sangat bersahaja. Mirip harga angkringan yogya. Nasi putih, ayam suwir dan kopi hitam, IDR 7,000 sahaja.

Kambing Dan Hujan

By | September 21, 2017

sewaktu saya mulai membaca buku ttg muhammadiyah dan jawa, dua buku mahfud mampir. akhirnya dua buku ini habis duluan. dan ternyata, buku kambing dan hujan ini membawa tema gerakan puritan di tanah jawa. jadi agak nyambung.

al kisah, di sebuah desa pertanian kedatangan seseorang. orang ini membawa misi dakwah yg nampaknya pada era tsb lumayan menarik. orang tsb menarik anak2 muda yg nampaknya terbengkalai urusan agamanya. mereka akhirnya lebih banyak nongkrong di mesjid. setelah itu, mereka melakukan jemput bola ke anak2 yg yg ikut berladang dgn orang tuanya. pola pertanian saat itu, banyak hari yg dihabiskan di ladang, tidak pulang ke rumah.

akhirnya remaja mesjid membesar dan golongan tua mulai terusik. gesekan ini jadi serius dan beneran terjadi kontak fisik. berujung mereka terusir dari mesjid dan memutuskan utk mendirikan langgar sendiri. di sini lah mulanya dua kubu bersebarangan secara jelas : mesjid utara dan mesjid selatan.

step forward, generasi kedua yg “tidak tahu menahu” ttg urusan permusuhan tersebut secara tidak sengaja terlibat urusan asmara. setamat kuliah, mereka hendak menikah. tapi bagaimana cara ? mereka berasal dari kubu berbeda : mesjid utara dan selatan. orang tua mereka bermusuhan secara ideologi. dan eh ternyata, orang tua mereka ini sebenarnya sangat dekat, sahabat dekat sekali. tapi setelah kejadian pemisahan kubu, mereka berada dalam posisi bersebrangan.

lambat laun, akhirnya terungkap : ini masalah NU vs muhammdiyah. kaum tradisional dan kaum modern. kaum tua dan kaum muda. lebih tepatnya lagi : wahabi vs ahlussunnah.

ini masalah klasik dan dibungkus dgn kisah asmara. demikian mahfud membungkus masalah tsb dgn kisah percintaan.

overall, novel ini menarik utk dibaca, bahasanya mengalir. endingnya tentu saja happy ending. tapi hanya sedikit mengganggu bahwa ternyata pada acara pernikahan  sbg klimaksnya tsb, semua tokoh2 yg disebut datang semua, terutama cak ali, si pembaharu yg “merusak” desa tradisional tsb. anu, menurut saya ini terlalu maksa, mengingat cak ali udah lama hengkang dari desa tsb utk “berkarir” di luar pulau 🙂

saya rasa di dunia nyata, pernikahan dua kubu spt ini sudah bbrp kali terjadi. salah satunya dari anak petinggi muhammdiyah yg menikah dgn anak pemilik pesantren NU. saya pernah baca somewhere. saya tidak tahu, apakah kelak pernikahan tsb akan mudah dijalani atau tidak mengingat gesekan dua kubu tadi lumayan intens di permukaan.

padahal sih menurut saya, perbedaan tsb tidak penting sama sekali. cuma menghabiskan energi saja. wong sama2 orang islam, tho.

 

Muhammadiyah, Wahabi dan Jawa

By | September 21, 2017

buku ini dulu sekali, sudah pernah saya beli. taro di perpus kantor dan hilang. padahal belum kelar dibaca. pas mampir ke yogya, mampir ke markas suara muhammadiyah. ternyata buku ini diterbitkan ulang oleh penerbit yg berbeda.

ok, ini buku termasuk yg berat utk saya. perlu cari waktu yg agak lenggang dan tidak bisa sambil lalu utk membacanya. kalo kelewat agak lama, bisa miss the point.

seperti kebiasaan saya membeli buku kalo penulisnya belum saya tahu sebelumnya, selalu buka halaman belakang : siapa penulis ini ? kalo dirasa cocok, baru beli bukunya ( di luar kenyataan bahwa topiknya emang menarik ). nah, utk buku ini, penulis nya adalah peneliti LIPI dgn latar belakang akademis yg ok. iya lah, peniliti LIPI toh ? dan topik ini adalah thesis master yg diterjemahkan dan dibukukan. sudah pasti, banyak tantangannya utk kelarin baca buku ini ( walau pun tipis ).

topik ini menarik karena bagaimana bisa, bahwa muhammadiyah yg lahir di tengah keraton jawa bisa2nya menjadi gerakan puritan pada era setelah generasi pendirinya berganti. generasi awal terdiri dari priayi abdi dalem, priayi sekolahan dan juragan / saudagar. bahkan kyai ahmad dahlan itu sendiri berdiri di beberapa organisasi di luar muhammadiyah : boedi oetomo dan sarekat islam, ini menunjukkan bahwa gerakan muhammadiyah secara lansung berinteraksi dgn gerakan lain, baik yg berbasiskan kebudayaan ( BO ) dan politik ( SI ). khususnya BO, bisa dibilang Muhammadiyah bersimbiosis mutualisme dgn baik. perkembangan awal cabang-cabang muhammadiyah banyak yg dimulai oleh cabang-cabang BO di seantero pulau jawa.

begitu generasi awal ini habis ( khususnya setelah kiyai ahmad dahlan meninggal ), gerakan ini mulai didominasi orang2 minang, wa bil khusus haji rasul ( ayahanda HAMKA ). berbeda sekali dgn kategori muhammadiyah di jawa ( hanya terdiri dari priayi dan saudagar ), perkembangan muhammadiyah di minangkabau justru diawali oleh ulama bermahzab wahabi. lebih tepatnya mahzab wahabi yg punya reputasi buruk dgn kaum adat sejak jaman perang padri.

generasi minang “mengambil alih” estafet kepemimpinan pada era AR sutan mansur ( menantu haji rasul ) dan pada era tsb dibuatlah majelis tarjih. majelis ini bertugas menyelesaikan “sengketa” masalah ideologi dan fiqh yg kadang hanya bersifat ranting saja. tapi pada akhirnya majelis ini menjadi patokan hukum hakam bagi kaum muhammadiyah. dalam kata lain, ini lah penentu mahzab muhammadiyah. padahal, awalnya kiyai ahmad dahlan melepaskan urusan ini ke masing-masing orang. tidak ada penentuan harus bermahzab ini itu utk bisa berkecimpung di dalam.

akhirnya proyek yg awalnya banyak berkutat di bidang sosial ( kesehatan dan pendidikan ), mulai berubah ke proyek puritanisasi. akhirnya awalnya ada dua jenis priayi yg berkecimpung, mulai limbung. priyai sekolahan ( bukan kiyai apalagi abdi dalem ) mulai angkat kaki. mereka tidak nyaman dgn kondisi yg ada.

dan sejak itu mulai lah dikenal muhammadiyah sebagai gerakan puritan yg tetap memiliki banyak sekali outlet pendidikan dan kesehatan. bisa dibilang, ini adalah organisasi islam terbesar di dunia dgn jumlah asset yg luar biasa. walau pun generasi “kedua”nya sibuk dgn proyek puritanisasi, perkembangan outlet nya terus bertambah.

itu yg saya dapat dari buku ini. lalu utk menambahkan, sebagian buku ini saya baca waktu di yogya. kebetulan, saat tsb berlansung olimpiade budaya jawa. apa isinya ? salah satu nya lomba2 permainan anak2 macam enggrang. mungkin anak skrg udah gak tahu itu apaan. adanya olimpiade BUDAYA JAWA yg diadakan oleh muhammadiyah ini secara lansung menegaskan bahwa proses jawanisasi muhammadiyah is coming back. mengingat kerasnya majelis tarjih yg sempat melarang anak2 hizbul wathan bikin api unggun dgn alasan syirik dan bidah, adanya olimpiade budaya jawa yg justru dibuat lansung oleh muhamaddiyah, justru memperlihatkan proses sedang berbalik saat ini.

saya tidak tahu bagaimana komentar pak buya syafii maarif thd hal spt ini. mengingat beliau adalah orang minang, lumayan puritan dan berwawasan sangat luas.

di luar urusan budaya, khususnya utk masalah keyakinan, muhamaddiyah tetap pada track nya. lihat saja pak AR Fachrudin bisa protes kepada Paus Yohannes II ttg maraknya kristenisasi yg terjadi. lihat juga gerakan anti penistaan agama yg mengakibatkan Ahok masuk penjara, itu dimotori oleh angkatan muda muhammdiyah. ini tidak bisa dibilang gerakan politik tapi memang utk menjaga marwah islam ( jika melihat dari sudut pandang sejarah muhammadiyah itu sendiri : bahwa gerakan ini didirikan agar umat islam yg miskin terbela dan tidak tergadai imannya gara2 masalah kesehatan dan pendidikan ).

demikian.

Dawuk

By | August 31, 2017

https://www.goodreads.com/book/show/35438585-dawuk

membaca judulnya, mengingatkan saya dgn judul novel umar kayam yg berjudul Bawuk. tentu saja, cerita bawuk dan dawuk sungguh berbeda, mulai dari alur sampai latar cerita. ok lah, begini :

dawuk adalah orang yg sangat sial. buruk rupa dan dijauhi orang. dlm keadaan nestapa ditinggal ibunya yg meninggal, bawuk jadi orang yg tak diinginkan di kampung. dia tak terurus, lebih tepatnya bapaknya tidak mau ngurus. singkat cerita, merantau ke malaysia dan jadi pembunuh bayaran.

dalam hidupnya yg kelam, dia bertemu inuyatun. orang yg berasal dari desa yg sama dgn reputasi gonta ganti laki2 yg panjang. waktu bertemu dawuk, dia sudah menikah 3 kali. singkat cerita, inuyatun diselamatkan oleh dawuk dari suami ketiganya dan akhirnya menikah dgn dawuk.

setelah menikah mereka pulang kampung dan hebohnya desa tsb. mertua dawuk ngamuk2 dan tidak mau terima anak perempuannya bawa suami macam itu dan terpaksa mereka hidup jauh dari desa, tinggal dekat hutan. dawuk sudah bersumpah utk berhenti jadi pembunuh ketika menikah, jadi lah dia seorang petani.

tapi apes, inuyatun masih mengundang laki2 secara alamiah. tidak diundang, datang lah dua orang : jagawana dan blandongan. dua orang ini “menyelesaikan urusan” dgn inuyatun sewaktu suaminya pergi ke ladang. pergumulan terjadi, inuyatun mati, jawagawa juga mati ( oleh rekannya sendiri ). satu orang lagi terlanjur dipergoki dawuk dan meluncur ke desa dan membuat berita bohong bahwa dawuk lah yg membunuh mereka berdua.

dari sini cerita mulai menggangu akal sehat. dawuk diamuk massa, tergeletak dan diangkat polisi. 3 hari kemudian, masih bisa bangkit dan pulang ke desa. diajukan ke pengadilan, saksi kunci melarikan diri dan datanglah saksi kunci lainnya : kakek dawuk yg sudah menghilang 23 thn. saksi kakek ini memutar semua tuduhan. tapi tetap jatuh putusan penjara 15 thn.

singkat cerita, dawuk berkekuan “baik” dan dapat remisi. dlm waktu kurang dari 15 thn dia keluar dan kembali ke desa. kali ini semua pihak yg punya dendam menuntaskan urusannya : mertua, keluarga jagawana dan keluarga blandongan. kali ini dawuk diikat di rumahnya dan rumah tsb dibakar.

dua kali sudah dawuk diamuk massa. yg pertama selamat. yg ini tidak jelas. kisahnya dibuat menggantung, ntah siapa bangkai yg ditemukan dalam rumah tsb esok harinya. yg jelas semua orang yg melakukan amuknya terkena sirep dan tertidur di tempat.

tidak masuk akal krn dawuk bisa mati dua kali, termasuk kakek misterius itu.

===

 

gaya bercerita : bertutur. kalo dalam budaya minang, novel ini dituturkan oleh tukang kaba keliling. dia berbagi cerita di warung kopi dgn imbalan rokok dan kopi. ternyata tukang kaba ini pun masuk ke dlm plot cerita tsb. spt jeruk makan jeruk. gaya bertutur nya itu, spt kita sedang duduk satu warung kopi dgn tukang kaba tsb.

waktu membaca ini, saya lansung teringat dgn gaya bercerita milik eka kurniawan dalam lelaki harimau. tapi mahfud tidak sevulgar eka dlm bercerita adegan ranjang. dan yes, spt kata kalis, ini emang sebuah roman dgn sad ending.

Apa Pentingnya Selfie ?

By | July 1, 2017

waktu melihat album foto, di rumah mana pun itu, saya selalunya mendapati foto seseorang dlm kondisi sendirian. tunggal dan ditemani bbrp properti dan gaya. tapi, foto tsb bukan selfie, melainkan diambil oleh seseorang. jenis foto spt ini tidak banyak2 amat dan cenderung berkualitas dokumenter : saya pernah datang ke sini di tahun sekian di event anu.

sebagai foto dokumenter, tentu saja ini perlu utk yang bersangkutan. sebab apa pun yg ada di atas kertas adalah kenangan, termasuk foto yg dicetak tadi. selain ybs, siapa lagi yg perlu ? paling keluarganya atau temen2nya. pada era tsb, tidak banyak yg bisa diambil fotonya dgn keterbatasan :

  1. jumlah roll film hanya 36 frame saja
  2. utk melihat hasilnya, perlu dicuci dan dicetak. sekitar tahun 1992, biaya cuci IDR 1,000 dan cetak 3R IDR 250. eh ya, utk beli film keluar uang sekitar IDR 9,000 ( tergantung tipe dan merk film nya ).
  3. utk memotret, tentu saja perlu kamera. tidak semua kamera bisa dioperasikan dgn mudah. kegagalan foto bisa terjadi mulai dari gagal masuknya film ke kamera, salah setting apperture bahkan sampai kegagalan di ruang gelap.

dari 3 alasan itu saja, sudah cukup menggambarkan bahwa utk mendapatkan foto perlu waktu, biaya dan bahkan skill teknis. jadi perlu sebuah keputusan yg agak panjang utk menekan tombol shutter : kalo gak penting2 amat, sisakan filmnya utk nanti.

fast forward ke era 2017 di mana mendapatkan foto hanya semudah menggerakkan jempol dan 3 langkah yg dibutuhkan 20 thn lalu itu, bisa diskip. akibatnya : banyak foto di memory hp. saking banyaknya, kadang lebih banyak waktu yg dibutuhkan utk menghapus2nya dibandingkan mencetaknya.

sebagai dokumenter, sifat foto yg diambil saat ini sama saja sifatnya dgn yg diambil 20 thn lalu : utk kenangan ybs ( walau pun 3 keterbatasan tsb sudah bisa diskip ). di luar kenangan, ada keperluan lain : diupload, dilike dan kalo bisa jadi viral. nah, ini sudah bergerak keluar kebutuhan dasar sbg kenangan ybs : utk dikenang orang lain dan dianggap menarik. perlombaan utk dikenang ini lah yg menggerakkan manusia utk melakukan selfie secara massal.

semakin banyak like, semakin membuncah rasanya. akhirnya selfie massal semakin beragam bentuk dan properti nya. yg saya maksud properti di sini adalah perlengkapan yg ikut tampil dlm foto tsb, mulai dari fashion sampai latar belakang. akhirnya terjadi lah selfie yg membutuhkan properti yg tidak biasa agar nilai dokumenter tsb lebih layak utk diapresiasi orang lain.

apa saja ? lokasi, fashion dan event. carilah lokasi yg paling aneh, tidak umum dan sebisa mungkin belum banyak orang datang. fashion ? ini tidak perlu dijelaskan dan saya jg tidak berkompeten. event kadang bisa diciptakan, bisa jg tidak. event penting yg tidak bisa diciptakan misalnya suasana sunrise di puncak gunung tertinggi di pulau jawa.

perlombaan selfie pun bertebaran. ada selfie orang yg bagus, menimbulkan “iri hati” agar dirinya bisa mendapatkan selfie yg minimal sama bagusnya. dan di mana2 perlombaan, apalagi yg tidak ada aturannya maka terjadi lah kebrutalan utk mendapatkan properti terbaik. tidak peduli bagaimana caranya dan apa saja yg harus dikorbankan, pokoknya selfie ku ini harus paling keren.

brutality ini berimbas kepada properti secara lansung. misalnya saja kebun bawang di agrapura harus terinjak2 pengunjung. mereka hanya menginginkan properti terbaik : terasering landscape yg luar biasa. tidak peduli di situ ada petani yg bersusah payah menanam bawang, yg begitu terpijak maka kegagalan panen di titik tsb jadi kenyataan pahit. harap diingat, ada 2 macam komoditas dari bawang : daun dan buah. daun tsb jg bernilai ekonomis dan bahkan ada jenis bawang yg memang cuma diambil daunnya saja.

dan akhirnya bbrp malam lalu, saya terpaksa menyaksikan hal yg sama di properti lainnya : pantai konservasi penyu bertelur. namanya saja sudah konservasi, seharusnya tidak banyak orang diijinkan berkunjung apalagi utk membuang sampah sembarangan. menyaksikan telur penyu jatuh ke lubang pasir di tengah malam buta, tentu mengasikkan utk segmen tertentu. sebagai info, penyu betina akan kembali ke pantai tempat dirinya menetas. kembali ke “rumah” utk menitipkan telur di pasir setelah 30 tahun berpetualang, tentu sulit dibayangkan : kenapa dia bisa ingat di mana tempat asalnya. setelah kepulangan pertamanya, secara reguler dia kembali lagi dalam selang waktu 2 – 4 tahun sekali.

pada masa puncaknya, pantai ini bisa kedatangan 25 ekor penyu dalam semalam. penyu adalah mahluk pemilih : pantai yg sepi dan gelap saja yg didatangi. sekitar juli – november mereka datang.

setelah menunggu agak lama, petugas membawa kami ke titik di mana seekor induk sudah “mendarat” dan sedang membuat lubang pertama. agak jauh berjalan, pas tiba kami masih menunggu berjarak 15 meter. setelah 20 menit barulah petugas memberi aba2 utk mendekat : telur sudah mulai berjatuhan. orang2 berkerumun, terbelalak dgn ukuran penyu yg ternyata kalau diukur tempurung dan kakinya dibentangkan, bisa selebar mobil pajero. lubang cukup dalam dan telur satu per satu jatuh. perkiraan ada 80 – 100 butir per sekali datang. saya tidak mengambil foto dgn pertimbangan teknis : perlu flash dan petugas tidak mengijinkan ada cahaya di situ.

waktunya tidak lama, hanya sekitar 15 menit selesai. segera lubang ditutup dgn kaki belakang. saya bersiap utk menjauh karena dia butuh ruang lebih utk mengibaskan kaki. tiba2 ada seorang remaja perempuan dgn sigap lansung mengangkangi penyu dgn tangan menekan tempurung. dan hap, satu, dua, tiga, blitz menyala dgn senyum penuh sembari ngangkang. satu orang berlalu dan gantian orang lain melakukan hal yg sama : penyu bertelur sebagai properti.

saat itu jg, saya lansung muak.

Demokrasi Indonesia

By | June 26, 2017

Dalam lintasan sejarah, berikut ini jenis demokrasi yg pernah kita jalani :

1. Demokrasi Apa Adanya

Ini demokrasi paling singkat, hanya berkisar dari agustus – november 1945. Yg ada hanya presiden dan para mentri. Bisa dibilang, ini kondisi darurat, pemerintahan tidak bisa berjalan efektif karena gangguan eksternal : kedatangan sekutu dan nica yg nebeng. Kondisi jadi tidak aman dan jakarta sebagai ibukota pun tidak lagi spt bln agustus. September sudah mulai ada bentrokan fisik.

2. Demokrasi ala bung hatta

Dengan maklumat wapres no x di bulan november, sistem presidensial lansung berganti jadi parlementer. Ini sebenarnya cukup mendasar krn mengganti sistem pemerintahan, tapi “cukup” dilakukan dgn keputusan wakil presiden. Silahkan bayangkan besarnya kekuasaan bung hatta di masa itu.

Sistem ini membuat presiden dan wakilnya sebagai pemimpin negara, bukan pemerintahan. Operasional pemerintahan dijalankan oleh perdana mentri dan bertanggungjawab kepada parlemen. Jika PM dijatuhkan parlemen, dia mengembalikan mandat kepada presiden. Lalu presiden menunjuk formatur kabinet utk menyusun ulang pemerintahan.

Situasi yg agak absurd, mengingat bung hatta sekali pun sempat bbrp kali menjadi perdana mentri sekaligus wapres dan seabrek jabatan lainnya ( misalnya ketua PMI ). Era ini menjadikan BH sbg sentral kekuasaan.

Kabinet jatuh bangun, perundingan dgn belanda naik turun, pemberontakan oposisi silih berganti, menciutnya wilayah republik dan bahkan tentara dan laskar saling ribut sesamanya. Rumit, pusing sekaligus kere.

Mengenaskan.

Tapi setidaknya, demokrasi ala eropa berjalan. Semua pihak bisa mengungkapkan pendapat tanpa harus takut tekanan pihak lain.

too much talking. Ngemeng melulu. Membuat sebagian orang jengah, termasuk BK.

3. Demokrasi ala Bung Karno

Ok, sudah saatnya bekerja. Persetan dgn politisi. Pemusatan pendapat, keputusan dan komando militer diletakkan pada satu tangan : Bung Karno.

Tidak perlu banyak berdebat di sidang parlemen.berbusa2 ? No need lah. Skrg hanya satu arah .

Setelah dekrit presiden thn 1959, bubar lah parlemen original hasil pemilu. Yg ada parlemen buatan BK sendiri. Dan dimulai lah era tentara secara resmi masuk parlemen.

Ciri utama era ini adalah Nasakom. Kata nasakom jadi kehidupan politik yg dicoba utk dijalankan sekuat mungkin. Akibatnya banyak benturan politik. BK berusaha mengakurkan warna yg ada, tapi sayangnya tidak semua warna mau masuk dlm satu panci bernama nasakom.

Angkatan darat dan masyumi adalah antagonis PKI. Masyumi, PSI dan bahkan Murba diberangus, menyisakan angkatan darat sebagai musuh tersisa bagi PKI. Sayangnya AD pegang senjata dan pasukan. PKI tidak, hanya bersembunyi di ketek BK.

Agitasi angkatan kelima coba dijalankan dgn bantuan senjata dari china. AD tidak bergeming. PRRI dan permesta meletus, inflasi gila2an dan chaos terjadi.

Puncaknya : letkol untung bin samsuri memutuskan utk menculik jendral AD yg dinilai tidak loyal. Atau dgn kata lain keras thd garis politik PKI. Akibatnya jelas : dlm waktu singkat PKI berhasil diberangus AD.

4. Demokrasi Jendral Soeharto

Secara kebebasan, tidak jauh berbeda dgn era BK ( demokrasi terpimpin ). Tapi bedanya, inflasi terkendali, perut orang bisa diisi nasi, anak2 bisa sekolah. Dan yg paling penting : PKI digeser jadi hantu yg jadi tontonan tipi setiap september.

Indonesia mulai membangun secara serius dan terpola dgn rencana yg baku. Kebebasan pendapat, itu urusan belakangan.

Saya sebagai penikmat demokrasi ini sejak lahir, tentu saja mengapresiasi hasil kerja jendral soeharto dgn sangat tinggi.

Era 1966 – 1998, soeharto benar2 jadi raja jawa tanpa rintangan berarti, kecuali krismon.

5. Demokrasi Ala Kadarnya

Sick. Menyebalkan. Banyak omong. Tidak patut. Yes, ini era 1998 – skrg.

Somehow roda pemerintahan masih berjalan. Baik. Tapi parlemen dlm keadaan tidak sehat.

Dua Wasiat BK

By | June 7, 2017

Cerita ttg BK memang tidak ada habisnya. Dalam sebuah buku dokumentasi surat menyurat antara BK dan BH yg dikurasi oleh mochtar lubis, terdapat lampiran menarik. Di situ ada dua wasiat BK ttg kuburannya kelak.

Summary :

1. Ada dua wasiat berbeda ttg kuburan BK. Dia menginginkan di dalam kebun raya bogor, tepat di bekas pemandian yg berbukit. Sedangkan di wasiat satunya lagi, lebih sederhana : di bawah pohon rindang.

2. Wasiat tsb dibuat pada tahun yg berbeda : 1962 dan 1965.

3. Beliau menghendaki dua istrinya utk mendampinginya dalam peristirahatan terakhir. Hanya dua istri yg disebut : hartini dan ratna dewi. Hartini disebut pada tahun 1965 dan ratna dewi di 1962.

Analisa :

1. Hartini adalah istri BK setelah fatmawati, seorang janda anak 5 waktu “ditemukan” BK. Sedangkan ratna, belum menikah waktu jumpa BK. Rentang dua istri ini cukup jauh, baik dari sisi umur dan karakter. Ratna adalah seorang istri yg berusaha mengimbangi BK dari segala sisi, terutama intelektual. Sedangkan hartini adalah tipikal istri pengabdi, khas jawa tulen. Lalu kenapa hartini justru disebut pada tahun 1965 ? Tahun nahas buat BK, di mana semua puncak masalah politik meletus di situ. kenapa hartini disebut belakangan ? Saya hanya berspekulasi : bahwa pada akhirnya yg mencintai BK apa adanya, apa pun kelakuannya adalah hartini. Saat semua istri2 sudah minggir ( baik disuruh minggir oleh BK, atau minggir sendiri ) ternyata hanya hartini yg masih bersedia menemani sampai ajal tiba.

2. Dlm sebuah buku diary yg ditulis oleh rosihan anwar, pernah ditulis dlm sebuah event, semua istri BK muncul. Ntah disengaja ntah tidak. Yg jelas, BK merah padam. Rosihan hanya berkomentar : dari semua istri BK, ternyata hartini lah yg paling bisa merawat diri. Ini pengamatan laki2 normal. Saya cuma lagi2 berspekulasi : dlm akhlak yg baik, akan terpancar ke raga dlm bentuk yg baik pula. Hartini, seorang perempuan jawa pengabdi, dgn akhlaknya yg baik memancarkan sinar kebaikan dari wajahnya. Ok lah, ini lebai. Tapi saya percaya hal tsb.

3. BK memang senang tinggal di istana bogor. Saya tdk tahu apa yg membuat dia tertarik dikuburkan di bekas pemandian. Yg jelas, sekliling istana bogor memang semuanya dikelilingi pohon rindang. Jadi ttg tempat, sebenarnya tdk ada perubahan. Dia tetap ingin di bawah pohon.

Wasiat tinggal wasiat. Pada akhirnya orde baru memutuskan utk menguburkan BK jauh dari wasiatnya. Tidak di bawah pohon, tidak jg di sekeliling istrinya.

Nilai Tukar Petani

By | May 26, 2017

Semalam bertukar pikiran dgn ibu dan bibi. Mereka bercerita ttg kehidupan yg dialami oleh keluarga petani era thn 50-60an di sumatra. Pengalaman kehidupan petani ternyata pahit dan itu lah yg menyebabkan satu keluarga ini merantau ke jawa dan menjalani kehidupan profesi selain petani. Pada kehidupan generasi mereka itu lah profesi petani terputus ke generasi berikutnya.

Kepahitan itu sederhana sekali : hasil sawah tidak bisa untuk menyambung hidup. Kebutuhkan hidup tdk hanya makan, tapi juga sekolah dan rumah. Kalau hanya utk makan, masih cukup. Padi ada, kolam ikan ada dan sayur hingga kelapa ada. Tapi kalo sudah menyangkut urusan sekolah, rumah dan kesehatan, uang yg dipegang sudah tidak cukup. Ujung2nya berhutang lagi kepada pengepul padi. Begitu panen, bayar hutang dan hanya sisanya yg mereka nikmati. Dan itu gak cukup.

Berangkat dari kenyataan pahit tsb, mereka banting stir dgn merantau. Di jawa lebih banyak pilihan dan peluang. Dan memang benar, setelah satu generasi tsb merantau, semuanya “sukses” menjalani profesi non petani. Makan minum terpenuhi dan sekolah tinggi utk anak2 bisa digapai. sawah di kampung masih ada, cuma hanya untuk memorial bahwa kita adalah petani dulunya. Sawah masih berproduksi dan diserahkan kepada kerabat dgn sistem bagi hasil.

Sekelumit cerita masa lalu tsb adalah kenyataan dari nilai tukar petani yg rendah. Silahkan cek datanya di bps, masih banyak propinsi yg NTP nya di bawah 100 persen. Artinya, apa yg petani dapat tidak mencukupi utk membayar kenaikan harga krn inflasi dsb nya. Kurang lebih, itu dlm posisi gali lubang tutup lubang spt yg dialami kami dulu thn 50-60an. Data bps tsb adalah thn 2015. Sudah lebih dari setengah abad, ternyata petani masih harus menerima kenyataan pahit bahwa profesi yg mereka alami tidak selalunya dapat menyelamatkan semua kebutuhan keluarga.

Saya tidak bermaksud komplen. Terlalu kompleks masalah yg harus diurai oleh kementrian pertanian dan perdagangan sekaligus ekonomi utk handling masalah ini dgn cepat. Asli, terlalu kompleks.

Lalu bagaimana dgn generasi penerus yg hendak jadi petani ? Ini profesi yg tidak menarik utk mereka. Hmmm…

Suryadi Suryadarma

By | May 25, 2017

Suryadi suryadarma, tepatnya raden suryadi suryadarma adalah tokoh militer awal berdirinya negara ini. Beliau diangkat sebagai bapak angkatan udara. Menelusuri biografi tokoh-tokoh pergerakan bangsa adalah hal yg menarik karena di dalamnya kita bakal mendapatkan cerita dibalik berita. Lebih lengkap dan lebih personal. Dari sudut pandang tokoh tsb, kita bisa mendapatkan view lain. Dgn view ini kita bisa membaca even sejarah lebih komprehensif lagi.

Pak suryadarma ini sosok yg agak misterius buat saya. Saya bertanya begini ke salah seorang perwira AU : hampir seluruh bandara besar di pulau jawa ini memakai nama perwira AU generasi awal, lalu kenapa saya tidak melihat bandara bernama suryadarma ? Dia tersenyum dan menjawab : ada bandara suryadi suryadarma, letaknya di kalijati. Saya manggut2 sambil berusaha mengingat emangnya ada bandara di kalijati ?

Ternyata ada dan itu adalah bandara utk sekolah penerbangan militer jaman londo dulu. Di sekolah itu pula suryadarma mendapatkan brevet Navigator. Banyak hal yg saya dapatkan dari buku, poin-poin pentingnya sebagai berikut :

1. Suryadarma merupakan orang “hindia belanda” pertama yg lulus sekolah militer breda. Saat itu, angkatan udara belanda adalah cabang dari angkatan darat. Jadi suryadarma sesungguhnya adalah orang angkatan darat secara akademi, tepatnya infantri.

2. Melanjutkan sekolah, suryadarma tetap beringinan utk jadi penerbang. Dia bersekolah di kalijati. Sayangnya sewaktu test, terkena malaria sehingga hasilnya minim. Rekan sekolahnya waktu di breda dulu, memberikannya latihan ekstra. Lalu suryadarma ikut remedial dgn hasil yg baik. Sayangnya pimpinan sekolah tetap tidak meluluskan. Kelak setelah ada audit, baru lah suryadarma diluluskan tapi tdk sbg penerbang melainkan navigator.

3. Sebelum pengakuan kedaulatan, au tergolong “miskin” sarana dan infrastruktur. Hanya ada bbrp pesawat dan pesawat modifikasi yg bisa dipakai utk urusan militer. Utk keperluan angkutan sipil, masih diurus oleh au dan utk memenuhinya kita menyewanya dari bbrp personal. Bukan dari perusahaan.

4. Kapal bernama seulawah beruntung, masih ada bentuknya sampai skrg dan dinamai RI-001. Sementara pesawat satunya lagi yg merupakan sumbangan dari rakyat minangkabau, tidak berumur panjang. Dalam bbrp kali penerbangan, dia menemui ajal dan seakan2 namanya hilang dari sejarah.

5. Terjadi beberapa kali insiden terkait internal au dan politik yg berlansung yg mengakibatkan suryadarma mengundurkan diri. Setidaknya sudah dua kali dia minta mundur dan keduanya ditolak bk. Kelak terkait insiden kapal macan tutul, akhirnya suryadarma “dipecat” dan menunjuk omar dani sebagai gantinya. Khusus insiden macan tutul ini, akan aku tulis terpisah.

6. Suryadarma tergolong tidak punya uang banyak, bahkan waktu beliau meninggal, rumahnya masih mencicil. Setelah keluar dari dinas militer, dia menjalankan “usaha” jualan batu akik. Batu akik adalah hobinya sejak lama dan kelak jadi penyambung hidup. Satu lagi hobinya adalah filateli.

7. setelah dipecat dari dinas militer, beliau jadi penasehat presiden tapi tidak lama. Selanjutnya thn 66 sempet diminta jadi mentri dan terus sampai bk dilengserkan.

8. Salah satu hal yg saya penasaran adalah sepak terjang bu utami suryadarma. Dia jadi sasaran empuk karena ditenggarai terlibat dgn pki. Saya penasaran atas kebenaran hal tsb, yg sayangnya dalam buku ini tidak ada disebutkan sama sekali. Dan ternyata buku ttg bu utami sudah terbit lebih dahulu. Bisa dikatakan, bu utami salah satu dari mungkin 3-5 orang perempuan yg sempet moncer namanya dlm perpolitikan negara waktu awal berdiri.

Sementara, ini dulu.

Parasit Daun

By | May 7, 2017

Parasit daun berupa bentol-bentol pada permukaan.

Lalu kita bongkar isi bentolnya, apa isinya ?

Tadinya saya berharap ada serangga atau telur serangga. Ternyata kosong euy. Hanya ada semacam ruangan koosng dgn sedikit, mungkin biji. Jadi apakah ini ?