Toko Kelontong dan Rokok

By | November 25, 2017

rokok sepertinya udah jadi keseharian orang indonesia, apa pun jenis rokoknya. di sekitaran keluarga, yg merokok termasuk sedikit. ayah saya tidak merokok ( dan oleh sebab itu, saya juga tidak merokok ). yg ngepul terus adalah almarhum mbah. rokoknya pun kretek : gudang garam merah. jenis rokok yg selalu saya lihat waktu lagi ada renovasi rumah : tukang bangunan selalu pake ini. tapi setelah mbah masuk rumah sakit gara2 bermasalah dgn paru-parunya, dia berhenti total.

ok, itu baru pengamatan sekilas. 2 hari lalu saya berkunjung tempat kawan. saat ini dia buka toko kelontong. isinya tokonya ramai. saya duduk ngobrol di belakang mesin kasir sembari dia melayani pelanggan. yg datang tentu saja macam2 : ibu2 rumah tangga, karyawan, anak sekolah, supir dan petani. yes, ada petani karena ini emang masih daerah pertanian ( lokasi di kabupaten bandung barat ).

obrolan ringan berlanjut. sehari omzet tokonya 10 jt. dari 10 jt itu, rokok terjual 5 jt. what ? jadi minyak goreng, sabun, terigu, beras, pembalut, es krim, itu gak ada apa2nya dibandingkan rokok. 5 jt per hari, separo omzet toko berasal dari rokok.

luar biasa. saya tidak menyangka sampe segini banyaknya sales per hari. saya selama ini hanya manggut2 membayangkan pendapatan pemerintah dari cukai rokok. juga manggut2 melihat kota kediri yg gudang garam kukuh berdiri di situ. hanya manggut2. tapi begitu tahu dari obrolan di toko ini, anggukan saya makin dalam….

pantas lah kenapa banyak perang proxy antara rokok + tembakau dgn yg anti terhadap rokok + tembakau. sudah bbrp buku ttg rokok yg saya baca, memang terlihat ada gerakan cukup masif utk mengerem penjualan rokok. utamanya adalah persaingan bisnis, dgn isue kesehatan jadi gincu nya.

ok lah….saya kembali manggut2…..

Sekelumit Sistem Resi Gudang

By | November 25, 2017

sistem resi gudang ( srg ) sudah agak lama ada, mulai 2006. sistem ini dihandle oleh bappepti. brosurnya dapat diunduh di sini. setelah membaca dan mendalami, ada bbrp hal yang jadi pemikiran :

  1. srg dibangun agar petani dapat menyimpan hasil panennya. bukan utk dijual karena saat panen raya ( biasanya harga jatuh ).
  2. dgn penyimpanan, petani pegang resi gudang utk selanjutnya dapat diagunkan ke bank utk memperoleh modal utk musim tanam berikutnya.
  3. setelah browsing ke bbrp bank yg menerima agunan resi gudang dan juga nilai tukar petani, rasanya ada yg gak masuk hitungan.
  4. nilai tukar petani kadang di bawah 100. artinya kalo di bawah 100, hasil panen tidak bisa mencukupi kebutuhan petani dan modal tanam berikutnya.
  5. agunan resi gudang diterima bank lalu dapat dikucurkan pinjaman senilai 70 % nilai agunan.
  6. simpan barang di gudang, tidak gratis. ada biayanya. saya coba install SRG mobile ( hanya ada di playstore ) utk dapat memperoleh simulasi biaya. sayangnya aplikasi tsb tidak dapat digunakan utk user baru. saya coba register selama 2 hari, failed dgn alasan koneksi internet. alasan yg tidak masuk akal mz.
  7. saya coba menghubungi BJB via web tapi udah 3 hari web nya mati gak jelas. menghubungi BSM, cuma blum ada callback. saya mau tahu sistem agunan dan kredit yg ditawarkan dari srg ini. info srg jg ada di bank jateng dan jatim.
  8. permasalahannya adalah : nilai 70 % tersebut tidak akan banyak berguna utk musim tanam berikutnya  + kebutuhan petani sehari2 + biaya simpan srg. karena nilai 70 % tersebut tidak cukup ! lihat saja nilai tukar petani yg kadang di bawah 100. nilai 70 % tadi baru dapat berguna JIKA penyimpanan hanya berlaku dlm masa singkat, misal 1 – 2 bulan saja. lalu nilai komoditas naik dan dijual. asumsinya dgn kenaikan tsb nilai tukar petani sudah di atas 100, misalnya 110 atau 120. itu baru masuk.
  9. permasalah klasik lainnya : utk sampe ke gudang, komoditas harus memenuhi standard yg lumayan ketat ( ini baik utk petani agar proses pasca panennya diperbaiki ) dan juga errr…biaya logistik dari lokasi petani ke gudang. ternyata jumlah gudang belum banyak. sekitaran bdg hanya ada di cianjur dan tasik. misalnya saya nanem sawah di garut, maka harus bawa hasil panen ke tasik. ini biaya lagi. ntah lah gimana apakah nanti hitungan2nya masih masuk apa ndak.
  10. apa pun itu, srg ini akan membantu petani punya dana cadangan. menjual saat harga baik / tinggi adalah impian semua petani. dan itu bisa dijembatani dgn srg ini.
  11. done.

 

Penggunaan Biogas

By | November 25, 2017

gara2 ngobrol pagi dgn dikshie, terpikir skema listrik renewable :

  1. bloomenergy mengeluarkan produk pembangkit listrik fuel cell. klaimnya ini fuel cell yg murah. benda ini bisa beroperasi dgn “pasir” dan gas. alat ini menggantikan fungsi ups, genset dan sumber jala2 listrik. semua dalam satu perangkat.
  2. gas kebutuhkan pembangkit tsb dapat disupply dari biogas.
  3. biogas bisa berasal dari kotoran sapi.
  4. jadi yang terpikir adalah jika ada sebuah desa dgn jumlah sapi yg lumayan. kumpulkan kotorannya, olah jadi biogas. lalu gas ini difeed ke sistem pembangkit dan jadi lah listrik renewable.
  5. distribusikan listrik ini ke desa2 atau kalau surplus, jual ke pln 🙂

 

Aneka Posting

By | November 25, 2017

beberapa aneka posting :

  1. spontan : liat barang bagus, potret. posting dan kasih caption.
  2. spontan mikir : lagi melamun, mikirin sesuatu dan terpikir sesuatu yg penting ( atau tidak penting ). lalu posting.
  3. terpaksa : habis baca buku, harus menulis ringkasan / kesan terhadap buku tersebut. biar lebih lekat di kepala.
  4. resensi musik : musik dalam konser, musik album baru, musik album jadul, new artist, atau apa lah itu. komentar…dan komentar…
  5. resensi makanan : kesan ttg makanan. dan juga minuman yeuh.
  6. kerjaan : posting sesuatu yg harus diingat dlm ngoprek. kalo gak ditulis gampang lupa. nyari2 lagi ke internet padahal udah pernah solved sebelumnya.
  7. new interested things : sesuatu yg baru, menarik utk dipelajari lebih lanjut. diposting dlm rangka utk diingat dan dipelajari lebih jauh.

 

itu aja rasanya. kalo makin ke sini makin jarang posting, itu sebuah resiko. habit menulis itu emang perlu disiplin tinggi. tapi alasan terbaiknya adalah : pas mau nulis, tidak ada perangkat yg mudah dijangkau. akhirnya kelewat dan malah lupa.

Akar Bambu

By | October 12, 2017

Pas lagi sarapan somewhere di bali, kok warung ini punya pajangan aneh. Akar bambu unfinished, apa adanya. Nampaknya tidak dijual.

Kenapa yakin tidak dijual ? Warung ini sangat bersahaja. Mirip harga angkringan yogya. Nasi putih, ayam suwir dan kopi hitam, IDR 7,000 sahaja.

Kambing Dan Hujan

By | September 21, 2017

sewaktu saya mulai membaca buku ttg muhammadiyah dan jawa, dua buku mahfud mampir. akhirnya dua buku ini habis duluan. dan ternyata, buku kambing dan hujan ini membawa tema gerakan puritan di tanah jawa. jadi agak nyambung.

al kisah, di sebuah desa pertanian kedatangan seseorang. orang ini membawa misi dakwah yg nampaknya pada era tsb lumayan menarik. orang tsb menarik anak2 muda yg nampaknya terbengkalai urusan agamanya. mereka akhirnya lebih banyak nongkrong di mesjid. setelah itu, mereka melakukan jemput bola ke anak2 yg yg ikut berladang dgn orang tuanya. pola pertanian saat itu, banyak hari yg dihabiskan di ladang, tidak pulang ke rumah.

akhirnya remaja mesjid membesar dan golongan tua mulai terusik. gesekan ini jadi serius dan beneran terjadi kontak fisik. berujung mereka terusir dari mesjid dan memutuskan utk mendirikan langgar sendiri. di sini lah mulanya dua kubu bersebarangan secara jelas : mesjid utara dan mesjid selatan.

step forward, generasi kedua yg “tidak tahu menahu” ttg urusan permusuhan tersebut secara tidak sengaja terlibat urusan asmara. setamat kuliah, mereka hendak menikah. tapi bagaimana cara ? mereka berasal dari kubu berbeda : mesjid utara dan selatan. orang tua mereka bermusuhan secara ideologi. dan eh ternyata, orang tua mereka ini sebenarnya sangat dekat, sahabat dekat sekali. tapi setelah kejadian pemisahan kubu, mereka berada dalam posisi bersebrangan.

lambat laun, akhirnya terungkap : ini masalah NU vs muhammdiyah. kaum tradisional dan kaum modern. kaum tua dan kaum muda. lebih tepatnya lagi : wahabi vs ahlussunnah.

ini masalah klasik dan dibungkus dgn kisah asmara. demikian mahfud membungkus masalah tsb dgn kisah percintaan.

overall, novel ini menarik utk dibaca, bahasanya mengalir. endingnya tentu saja happy ending. tapi hanya sedikit mengganggu bahwa ternyata pada acara pernikahan  sbg klimaksnya tsb, semua tokoh2 yg disebut datang semua, terutama cak ali, si pembaharu yg “merusak” desa tradisional tsb. anu, menurut saya ini terlalu maksa, mengingat cak ali udah lama hengkang dari desa tsb utk “berkarir” di luar pulau 🙂

saya rasa di dunia nyata, pernikahan dua kubu spt ini sudah bbrp kali terjadi. salah satunya dari anak petinggi muhammdiyah yg menikah dgn anak pemilik pesantren NU. saya pernah baca somewhere. saya tidak tahu, apakah kelak pernikahan tsb akan mudah dijalani atau tidak mengingat gesekan dua kubu tadi lumayan intens di permukaan.

padahal sih menurut saya, perbedaan tsb tidak penting sama sekali. cuma menghabiskan energi saja. wong sama2 orang islam, tho.

 

Muhammadiyah, Wahabi dan Jawa

By | September 21, 2017

buku ini dulu sekali, sudah pernah saya beli. taro di perpus kantor dan hilang. padahal belum kelar dibaca. pas mampir ke yogya, mampir ke markas suara muhammadiyah. ternyata buku ini diterbitkan ulang oleh penerbit yg berbeda.

ok, ini buku termasuk yg berat utk saya. perlu cari waktu yg agak lenggang dan tidak bisa sambil lalu utk membacanya. kalo kelewat agak lama, bisa miss the point.

seperti kebiasaan saya membeli buku kalo penulisnya belum saya tahu sebelumnya, selalu buka halaman belakang : siapa penulis ini ? kalo dirasa cocok, baru beli bukunya ( di luar kenyataan bahwa topiknya emang menarik ). nah, utk buku ini, penulis nya adalah peneliti LIPI dgn latar belakang akademis yg ok. iya lah, peniliti LIPI toh ? dan topik ini adalah thesis master yg diterjemahkan dan dibukukan. sudah pasti, banyak tantangannya utk kelarin baca buku ini ( walau pun tipis ).

topik ini menarik karena bagaimana bisa, bahwa muhammadiyah yg lahir di tengah keraton jawa bisa2nya menjadi gerakan puritan pada era setelah generasi pendirinya berganti. generasi awal terdiri dari priayi abdi dalem, priayi sekolahan dan juragan / saudagar. bahkan kyai ahmad dahlan itu sendiri berdiri di beberapa organisasi di luar muhammadiyah : boedi oetomo dan sarekat islam, ini menunjukkan bahwa gerakan muhammadiyah secara lansung berinteraksi dgn gerakan lain, baik yg berbasiskan kebudayaan ( BO ) dan politik ( SI ). khususnya BO, bisa dibilang Muhammadiyah bersimbiosis mutualisme dgn baik. perkembangan awal cabang-cabang muhammadiyah banyak yg dimulai oleh cabang-cabang BO di seantero pulau jawa.

begitu generasi awal ini habis ( khususnya setelah kiyai ahmad dahlan meninggal ), gerakan ini mulai didominasi orang2 minang, wa bil khusus haji rasul ( ayahanda HAMKA ). berbeda sekali dgn kategori muhammadiyah di jawa ( hanya terdiri dari priayi dan saudagar ), perkembangan muhammadiyah di minangkabau justru diawali oleh ulama bermahzab wahabi. lebih tepatnya mahzab wahabi yg punya reputasi buruk dgn kaum adat sejak jaman perang padri.

generasi minang “mengambil alih” estafet kepemimpinan pada era AR sutan mansur ( menantu haji rasul ) dan pada era tsb dibuatlah majelis tarjih. majelis ini bertugas menyelesaikan “sengketa” masalah ideologi dan fiqh yg kadang hanya bersifat ranting saja. tapi pada akhirnya majelis ini menjadi patokan hukum hakam bagi kaum muhammadiyah. dalam kata lain, ini lah penentu mahzab muhammadiyah. padahal, awalnya kiyai ahmad dahlan melepaskan urusan ini ke masing-masing orang. tidak ada penentuan harus bermahzab ini itu utk bisa berkecimpung di dalam.

akhirnya proyek yg awalnya banyak berkutat di bidang sosial ( kesehatan dan pendidikan ), mulai berubah ke proyek puritanisasi. akhirnya awalnya ada dua jenis priayi yg berkecimpung, mulai limbung. priyai sekolahan ( bukan kiyai apalagi abdi dalem ) mulai angkat kaki. mereka tidak nyaman dgn kondisi yg ada.

dan sejak itu mulai lah dikenal muhammadiyah sebagai gerakan puritan yg tetap memiliki banyak sekali outlet pendidikan dan kesehatan. bisa dibilang, ini adalah organisasi islam terbesar di dunia dgn jumlah asset yg luar biasa. walau pun generasi “kedua”nya sibuk dgn proyek puritanisasi, perkembangan outlet nya terus bertambah.

itu yg saya dapat dari buku ini. lalu utk menambahkan, sebagian buku ini saya baca waktu di yogya. kebetulan, saat tsb berlansung olimpiade budaya jawa. apa isinya ? salah satu nya lomba2 permainan anak2 macam enggrang. mungkin anak skrg udah gak tahu itu apaan. adanya olimpiade BUDAYA JAWA yg diadakan oleh muhammadiyah ini secara lansung menegaskan bahwa proses jawanisasi muhammadiyah is coming back. mengingat kerasnya majelis tarjih yg sempat melarang anak2 hizbul wathan bikin api unggun dgn alasan syirik dan bidah, adanya olimpiade budaya jawa yg justru dibuat lansung oleh muhamaddiyah, justru memperlihatkan proses sedang berbalik saat ini.

saya tidak tahu bagaimana komentar pak buya syafii maarif thd hal spt ini. mengingat beliau adalah orang minang, lumayan puritan dan berwawasan sangat luas.

di luar urusan budaya, khususnya utk masalah keyakinan, muhamaddiyah tetap pada track nya. lihat saja pak AR Fachrudin bisa protes kepada Paus Yohannes II ttg maraknya kristenisasi yg terjadi. lihat juga gerakan anti penistaan agama yg mengakibatkan Ahok masuk penjara, itu dimotori oleh angkatan muda muhammdiyah. ini tidak bisa dibilang gerakan politik tapi memang utk menjaga marwah islam ( jika melihat dari sudut pandang sejarah muhammadiyah itu sendiri : bahwa gerakan ini didirikan agar umat islam yg miskin terbela dan tidak tergadai imannya gara2 masalah kesehatan dan pendidikan ).

demikian.

Dawuk

By | August 31, 2017

https://www.goodreads.com/book/show/35438585-dawuk

membaca judulnya, mengingatkan saya dgn judul novel umar kayam yg berjudul Bawuk. tentu saja, cerita bawuk dan dawuk sungguh berbeda, mulai dari alur sampai latar cerita. ok lah, begini :

dawuk adalah orang yg sangat sial. buruk rupa dan dijauhi orang. dlm keadaan nestapa ditinggal ibunya yg meninggal, bawuk jadi orang yg tak diinginkan di kampung. dia tak terurus, lebih tepatnya bapaknya tidak mau ngurus. singkat cerita, merantau ke malaysia dan jadi pembunuh bayaran.

dalam hidupnya yg kelam, dia bertemu inuyatun. orang yg berasal dari desa yg sama dgn reputasi gonta ganti laki2 yg panjang. waktu bertemu dawuk, dia sudah menikah 3 kali. singkat cerita, inuyatun diselamatkan oleh dawuk dari suami ketiganya dan akhirnya menikah dgn dawuk.

setelah menikah mereka pulang kampung dan hebohnya desa tsb. mertua dawuk ngamuk2 dan tidak mau terima anak perempuannya bawa suami macam itu dan terpaksa mereka hidup jauh dari desa, tinggal dekat hutan. dawuk sudah bersumpah utk berhenti jadi pembunuh ketika menikah, jadi lah dia seorang petani.

tapi apes, inuyatun masih mengundang laki2 secara alamiah. tidak diundang, datang lah dua orang : jagawana dan blandongan. dua orang ini “menyelesaikan urusan” dgn inuyatun sewaktu suaminya pergi ke ladang. pergumulan terjadi, inuyatun mati, jawagawa juga mati ( oleh rekannya sendiri ). satu orang lagi terlanjur dipergoki dawuk dan meluncur ke desa dan membuat berita bohong bahwa dawuk lah yg membunuh mereka berdua.

dari sini cerita mulai menggangu akal sehat. dawuk diamuk massa, tergeletak dan diangkat polisi. 3 hari kemudian, masih bisa bangkit dan pulang ke desa. diajukan ke pengadilan, saksi kunci melarikan diri dan datanglah saksi kunci lainnya : kakek dawuk yg sudah menghilang 23 thn. saksi kakek ini memutar semua tuduhan. tapi tetap jatuh putusan penjara 15 thn.

singkat cerita, dawuk berkekuan “baik” dan dapat remisi. dlm waktu kurang dari 15 thn dia keluar dan kembali ke desa. kali ini semua pihak yg punya dendam menuntaskan urusannya : mertua, keluarga jagawana dan keluarga blandongan. kali ini dawuk diikat di rumahnya dan rumah tsb dibakar.

dua kali sudah dawuk diamuk massa. yg pertama selamat. yg ini tidak jelas. kisahnya dibuat menggantung, ntah siapa bangkai yg ditemukan dalam rumah tsb esok harinya. yg jelas semua orang yg melakukan amuknya terkena sirep dan tertidur di tempat.

tidak masuk akal krn dawuk bisa mati dua kali, termasuk kakek misterius itu.

===

 

gaya bercerita : bertutur. kalo dalam budaya minang, novel ini dituturkan oleh tukang kaba keliling. dia berbagi cerita di warung kopi dgn imbalan rokok dan kopi. ternyata tukang kaba ini pun masuk ke dlm plot cerita tsb. spt jeruk makan jeruk. gaya bertutur nya itu, spt kita sedang duduk satu warung kopi dgn tukang kaba tsb.

waktu membaca ini, saya lansung teringat dgn gaya bercerita milik eka kurniawan dalam lelaki harimau. tapi mahfud tidak sevulgar eka dlm bercerita adegan ranjang. dan yes, spt kata kalis, ini emang sebuah roman dgn sad ending.

Apa Pentingnya Selfie ?

By | July 1, 2017

waktu melihat album foto, di rumah mana pun itu, saya selalunya mendapati foto seseorang dlm kondisi sendirian. tunggal dan ditemani bbrp properti dan gaya. tapi, foto tsb bukan selfie, melainkan diambil oleh seseorang. jenis foto spt ini tidak banyak2 amat dan cenderung berkualitas dokumenter : saya pernah datang ke sini di tahun sekian di event anu.

sebagai foto dokumenter, tentu saja ini perlu utk yang bersangkutan. sebab apa pun yg ada di atas kertas adalah kenangan, termasuk foto yg dicetak tadi. selain ybs, siapa lagi yg perlu ? paling keluarganya atau temen2nya. pada era tsb, tidak banyak yg bisa diambil fotonya dgn keterbatasan :

  1. jumlah roll film hanya 36 frame saja
  2. utk melihat hasilnya, perlu dicuci dan dicetak. sekitar tahun 1992, biaya cuci IDR 1,000 dan cetak 3R IDR 250. eh ya, utk beli film keluar uang sekitar IDR 9,000 ( tergantung tipe dan merk film nya ).
  3. utk memotret, tentu saja perlu kamera. tidak semua kamera bisa dioperasikan dgn mudah. kegagalan foto bisa terjadi mulai dari gagal masuknya film ke kamera, salah setting apperture bahkan sampai kegagalan di ruang gelap.

dari 3 alasan itu saja, sudah cukup menggambarkan bahwa utk mendapatkan foto perlu waktu, biaya dan bahkan skill teknis. jadi perlu sebuah keputusan yg agak panjang utk menekan tombol shutter : kalo gak penting2 amat, sisakan filmnya utk nanti.

fast forward ke era 2017 di mana mendapatkan foto hanya semudah menggerakkan jempol dan 3 langkah yg dibutuhkan 20 thn lalu itu, bisa diskip. akibatnya : banyak foto di memory hp. saking banyaknya, kadang lebih banyak waktu yg dibutuhkan utk menghapus2nya dibandingkan mencetaknya.

sebagai dokumenter, sifat foto yg diambil saat ini sama saja sifatnya dgn yg diambil 20 thn lalu : utk kenangan ybs ( walau pun 3 keterbatasan tsb sudah bisa diskip ). di luar kenangan, ada keperluan lain : diupload, dilike dan kalo bisa jadi viral. nah, ini sudah bergerak keluar kebutuhan dasar sbg kenangan ybs : utk dikenang orang lain dan dianggap menarik. perlombaan utk dikenang ini lah yg menggerakkan manusia utk melakukan selfie secara massal.

semakin banyak like, semakin membuncah rasanya. akhirnya selfie massal semakin beragam bentuk dan properti nya. yg saya maksud properti di sini adalah perlengkapan yg ikut tampil dlm foto tsb, mulai dari fashion sampai latar belakang. akhirnya terjadi lah selfie yg membutuhkan properti yg tidak biasa agar nilai dokumenter tsb lebih layak utk diapresiasi orang lain.

apa saja ? lokasi, fashion dan event. carilah lokasi yg paling aneh, tidak umum dan sebisa mungkin belum banyak orang datang. fashion ? ini tidak perlu dijelaskan dan saya jg tidak berkompeten. event kadang bisa diciptakan, bisa jg tidak. event penting yg tidak bisa diciptakan misalnya suasana sunrise di puncak gunung tertinggi di pulau jawa.

perlombaan selfie pun bertebaran. ada selfie orang yg bagus, menimbulkan “iri hati” agar dirinya bisa mendapatkan selfie yg minimal sama bagusnya. dan di mana2 perlombaan, apalagi yg tidak ada aturannya maka terjadi lah kebrutalan utk mendapatkan properti terbaik. tidak peduli bagaimana caranya dan apa saja yg harus dikorbankan, pokoknya selfie ku ini harus paling keren.

brutality ini berimbas kepada properti secara lansung. misalnya saja kebun bawang di agrapura harus terinjak2 pengunjung. mereka hanya menginginkan properti terbaik : terasering landscape yg luar biasa. tidak peduli di situ ada petani yg bersusah payah menanam bawang, yg begitu terpijak maka kegagalan panen di titik tsb jadi kenyataan pahit. harap diingat, ada 2 macam komoditas dari bawang : daun dan buah. daun tsb jg bernilai ekonomis dan bahkan ada jenis bawang yg memang cuma diambil daunnya saja.

dan akhirnya bbrp malam lalu, saya terpaksa menyaksikan hal yg sama di properti lainnya : pantai konservasi penyu bertelur. namanya saja sudah konservasi, seharusnya tidak banyak orang diijinkan berkunjung apalagi utk membuang sampah sembarangan. menyaksikan telur penyu jatuh ke lubang pasir di tengah malam buta, tentu mengasikkan utk segmen tertentu. sebagai info, penyu betina akan kembali ke pantai tempat dirinya menetas. kembali ke “rumah” utk menitipkan telur di pasir setelah 30 tahun berpetualang, tentu sulit dibayangkan : kenapa dia bisa ingat di mana tempat asalnya. setelah kepulangan pertamanya, secara reguler dia kembali lagi dalam selang waktu 2 – 4 tahun sekali.

pada masa puncaknya, pantai ini bisa kedatangan 25 ekor penyu dalam semalam. penyu adalah mahluk pemilih : pantai yg sepi dan gelap saja yg didatangi. sekitar juli – november mereka datang.

setelah menunggu agak lama, petugas membawa kami ke titik di mana seekor induk sudah “mendarat” dan sedang membuat lubang pertama. agak jauh berjalan, pas tiba kami masih menunggu berjarak 15 meter. setelah 20 menit barulah petugas memberi aba2 utk mendekat : telur sudah mulai berjatuhan. orang2 berkerumun, terbelalak dgn ukuran penyu yg ternyata kalau diukur tempurung dan kakinya dibentangkan, bisa selebar mobil pajero. lubang cukup dalam dan telur satu per satu jatuh. perkiraan ada 80 – 100 butir per sekali datang. saya tidak mengambil foto dgn pertimbangan teknis : perlu flash dan petugas tidak mengijinkan ada cahaya di situ.

waktunya tidak lama, hanya sekitar 15 menit selesai. segera lubang ditutup dgn kaki belakang. saya bersiap utk menjauh karena dia butuh ruang lebih utk mengibaskan kaki. tiba2 ada seorang remaja perempuan dgn sigap lansung mengangkangi penyu dgn tangan menekan tempurung. dan hap, satu, dua, tiga, blitz menyala dgn senyum penuh sembari ngangkang. satu orang berlalu dan gantian orang lain melakukan hal yg sama : penyu bertelur sebagai properti.

saat itu jg, saya lansung muak.

Demokrasi Indonesia

By | June 26, 2017

Dalam lintasan sejarah, berikut ini jenis demokrasi yg pernah kita jalani :

1. Demokrasi Apa Adanya

Ini demokrasi paling singkat, hanya berkisar dari agustus – november 1945. Yg ada hanya presiden dan para mentri. Bisa dibilang, ini kondisi darurat, pemerintahan tidak bisa berjalan efektif karena gangguan eksternal : kedatangan sekutu dan nica yg nebeng. Kondisi jadi tidak aman dan jakarta sebagai ibukota pun tidak lagi spt bln agustus. September sudah mulai ada bentrokan fisik.

2. Demokrasi ala bung hatta

Dengan maklumat wapres no x di bulan november, sistem presidensial lansung berganti jadi parlementer. Ini sebenarnya cukup mendasar krn mengganti sistem pemerintahan, tapi “cukup” dilakukan dgn keputusan wakil presiden. Silahkan bayangkan besarnya kekuasaan bung hatta di masa itu.

Sistem ini membuat presiden dan wakilnya sebagai pemimpin negara, bukan pemerintahan. Operasional pemerintahan dijalankan oleh perdana mentri dan bertanggungjawab kepada parlemen. Jika PM dijatuhkan parlemen, dia mengembalikan mandat kepada presiden. Lalu presiden menunjuk formatur kabinet utk menyusun ulang pemerintahan.

Situasi yg agak absurd, mengingat bung hatta sekali pun sempat bbrp kali menjadi perdana mentri sekaligus wapres dan seabrek jabatan lainnya ( misalnya ketua PMI ). Era ini menjadikan BH sbg sentral kekuasaan.

Kabinet jatuh bangun, perundingan dgn belanda naik turun, pemberontakan oposisi silih berganti, menciutnya wilayah republik dan bahkan tentara dan laskar saling ribut sesamanya. Rumit, pusing sekaligus kere.

Mengenaskan.

Tapi setidaknya, demokrasi ala eropa berjalan. Semua pihak bisa mengungkapkan pendapat tanpa harus takut tekanan pihak lain.

too much talking. Ngemeng melulu. Membuat sebagian orang jengah, termasuk BK.

3. Demokrasi ala Bung Karno

Ok, sudah saatnya bekerja. Persetan dgn politisi. Pemusatan pendapat, keputusan dan komando militer diletakkan pada satu tangan : Bung Karno.

Tidak perlu banyak berdebat di sidang parlemen.berbusa2 ? No need lah. Skrg hanya satu arah .

Setelah dekrit presiden thn 1959, bubar lah parlemen original hasil pemilu. Yg ada parlemen buatan BK sendiri. Dan dimulai lah era tentara secara resmi masuk parlemen.

Ciri utama era ini adalah Nasakom. Kata nasakom jadi kehidupan politik yg dicoba utk dijalankan sekuat mungkin. Akibatnya banyak benturan politik. BK berusaha mengakurkan warna yg ada, tapi sayangnya tidak semua warna mau masuk dlm satu panci bernama nasakom.

Angkatan darat dan masyumi adalah antagonis PKI. Masyumi, PSI dan bahkan Murba diberangus, menyisakan angkatan darat sebagai musuh tersisa bagi PKI. Sayangnya AD pegang senjata dan pasukan. PKI tidak, hanya bersembunyi di ketek BK.

Agitasi angkatan kelima coba dijalankan dgn bantuan senjata dari china. AD tidak bergeming. PRRI dan permesta meletus, inflasi gila2an dan chaos terjadi.

Puncaknya : letkol untung bin samsuri memutuskan utk menculik jendral AD yg dinilai tidak loyal. Atau dgn kata lain keras thd garis politik PKI. Akibatnya jelas : dlm waktu singkat PKI berhasil diberangus AD.

4. Demokrasi Jendral Soeharto

Secara kebebasan, tidak jauh berbeda dgn era BK ( demokrasi terpimpin ). Tapi bedanya, inflasi terkendali, perut orang bisa diisi nasi, anak2 bisa sekolah. Dan yg paling penting : PKI digeser jadi hantu yg jadi tontonan tipi setiap september.

Indonesia mulai membangun secara serius dan terpola dgn rencana yg baku. Kebebasan pendapat, itu urusan belakangan.

Saya sebagai penikmat demokrasi ini sejak lahir, tentu saja mengapresiasi hasil kerja jendral soeharto dgn sangat tinggi.

Era 1966 – 1998, soeharto benar2 jadi raja jawa tanpa rintangan berarti, kecuali krismon.

5. Demokrasi Ala Kadarnya

Sick. Menyebalkan. Banyak omong. Tidak patut. Yes, ini era 1998 – skrg.

Somehow roda pemerintahan masih berjalan. Baik. Tapi parlemen dlm keadaan tidak sehat.